Sungai Sambas Keruh Akibat PETI dan Sawit

Salah seorang warga terpaksa memanfaatkan air Sungai Teberau yang keruh. M Ridho

eQuator – Sambas. Tiga hari terakhir, Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah yang bertemu di Muara Ulakan kondisi airnya keruh. Masyarakat menduga penyebabnya, aktivitas penambangan tanpa izin (PETI) dan limbah sawit.

Dedi Supriyadi, warga Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas mengatakan, sejak hujan deras yang mengguyur, air Sungai Teberau yang paling keruh. Dia berharap, ada tindakan tegas dari Pemkab Sambas melalui instansi terkait dan aparat Polres Sambas dengan menggelar razia, sebelum kondisi air sungai semakin keruh. “Tidak hanya Sungai Teberau, tapi juga Sungai Seminis di Kecamatan Sebawi. Diduga masih ada aktivitas PETI di Kecamatan Subah, sehingga limbah PETI atau sawit mencemari beberapa anak Sungai Sambas,” jelas guru SD ini kepada Rakyat Kalbar, Minggu (8/11).

Dedi mendesak penanganan serius terhadap keruhnya air Sungai Sambas, mengingat setiap tahun air Sungai Sambas selalu keruh. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi ekosistem sungai, termasuk bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai, karena setiap hari mereka menggunakan air sungai untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Dedi meminta ada langkah cepat yang dilakukan Pemkab, apalagi saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) sedang gencar-gencarnya melaksanakan program Open Defecation Free (ODF) atau Bebas Buang Air Sembarangan (BBS) untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sehingga keruhnya air Sungai Sambas perlu disikapi bersama. “Perlu ada ketegasan aturan terkait PETI maupun limbah perkebunan, sehingga tidak berdampak buruk terhadap masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Sambas Fishing Community (SFC), Syafruddin menyayangkan kondisi Sungai Sambas yang kembali keruh. Padahal, sungai merupakan sarana penting bagi masyarakat luas, termasuk ekosistem sungai itu sendiri. “Tidak sedikit warga Sambas yang bermukim di tepian sungai berpenghasilan dari mencari ikan atau udang di sungai. Kalau air keruh seperti ini, tentunya masyarakat kesulitan mencari rezeki. Selain itu, belum tahu juga dampak dari keruhnya sungai, apakah mengandung merkuri atau racun pupuk bisa menyebabkan iritasi atau alergi pada kulit,” paparnya.

Agar tidak semakin meresahkan masyarakat, ia meminta ada upaya cepat mengatasi keruhnya air Sungai Sambas, karena banyak nelayan atau pemancing yang bermata pencarian dari hasil sungai. “Kita harap upaya menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan sungai muncul dari kesadaran masyarakat. Caranya dengan tidak membuang limbah atau hal-hal yang dapat mencemari sungai. Sebab, jika sungai kita tercemar, maka kita juga yang merasakan dampaknya,” imbaunya.

 

Reporter: Muhammad Ridho

Redaktur: Yuni Kurniyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.