Wagub: Pramuka Pilar Pendidikan Kaum Muda Indonesia

16
PEMBUKAAN. Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan saat hadiri Hari Pramuka ke-75 dan Pembukaan Raimuna Daerah di Kota Singkawang, Rabu (31/10)—Humas for RK

eQuator.co.id – Singkawang-RK. Wakil Gubernur Kalbar H Ria Norsan mengatakan, gerakan kepramukaan sebagai salah satu pilar pendidikan kaum muda di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Pramuka ke-75 dan pembukaan Raimuna Daerah di Kota Singkawang, Rabu (31/10).

“Sebagai salah satu pilar pendidikan kaum muda Indonesia, pendidikan kepramukaan dituntut untuk dapat lebih berkontribusi secara nyata menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pembentukan karakter, etos kerja dan disiplin yang tinggi,” katanya.
Dikatakannya, di era globalisasi dewasa ini penuh dengan persaingan yang sangat ketat dan selektif. Manusia merupakan faktor penentu yang paling utama bagi suatu bangsa yang unggul dari bangsa lainnya.

“Bangsa yang unggul tersebut bukan hanya membangun ‘hardskil’ generasi muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus diimbangi dan mampu membangun ‘softskill’ generasi yang memiliki karakter, watak yang kuat, tangguh kepribadiannya, luhur budi pekertinya, sanggup menghadapi tantangan dan berbagai persoalan yang dihadapi untuk menata masa depan dengan lebih baik,” jelasnya.
Menurutnya, gerakan pramuka mencapai keberhasilan dalam upaya pembentukan karakter kaum muda sebagai calon pemimpin bangsa yang handal dan lebih baik pada
masa depan.

“Kita berharap, gerakan pramuka menjadi semakin berkembang dan bergelora serta senantiasa mendapatkan hidayah dan berkah dari Allah SWT,” harapnya.
Norsan yang juga Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Kalbar mengatakan, gerakan pramuka yang lahir pada 14 Agustus 1961 sebagai penyatuan dari 60 organisasi kepanduan yang dilakukan oleh Presiden Soekarno pada waktu itu ditujukan untuk dapat menjadi perekat bangsa.

Tidak hanya sekedar membentuk kepribadian anak-anak dan remaja yang tangguh dan handal. Namun, sekaligus juga mendorong menciptakan masa depan bangsa yang lebih baik, sejahtera, aman dan tentram serta berbudaya.

Khususnya, dalam mempersiapkan diri menghadapi periode bonus demografi yang akan terjadi pada tahun 2020-2030. Dimana ada 70 persen penduduk usia kerja yang membutuhkan lapangan pekerjaan yang harus mendapat prioritas penyelesaiannya.
“Disinilah pentingnya peranan gerakan pramuka sebagai lembaga pendidikan non formal yang akan melengkapi pendidikan informal yang diperoleh anak-anak dalam keluarga dan pendidikan formal di sekolah. Kerjasama sinergis antara lembaga pendidikan formal, non formal dan informal sangatlah penting dan menjadi keharusan,” pintanya.

“Tentu tidak mudah dan ini semua menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai orang tua dan pendidik di bawah pembinaan pemerintah,” sambungnya.
Dijelaskannya, gerakan pramuka yang kini berusia 57 tahun tentunya tidak sama suasana dan kondisinya ketika dilahirkan. Generasinya pun sudah berbeda dengan
generasi sekarang yang serba digital. Generasi cyber online 24 jam yang diungkapkan melalui media sosial.

Norsan menegaskan, gerakan pramuka harus dapat menangkap fenomena yang terjadi dalam era globalisasi, kebebasan berkomunikasi dan bertransformasi. Serta mampu menciptakan gerakan pramuka dengan berbagai kegiatan baru yang menarik, asyik, dan gembira sehingga diminati kaum muda, namun tetap memegang teguh pada Kode Kehormatan Pramuka.

“Jika pramuka tidak responsif dan tidak dapat berperan sesuai keinginan kaum muda tersebut, maka lambat laun pramuka akan ditinggalkan oleh anggotanya,” pungkasnya. (Riz)