Tangsi Militer Belanda dan Kantor Kontelir Akan Direnovasi Sebagai Cagar Budaya

21
Tangsi Belanda. Sejumlah bangunan tangsi Belanda yang hingga saat ini masih berdiri. Meskipun kondisinya dalam keadaan yang tidak terawat. Dedi Irawan/RK.
Tangsi Belanda. Sejumlah bangunan tangsi Belanda yang hingga saat ini masih berdiri. Meskipun kondisinya dalam keadaan yang tidak terawat. Dedi Irawan/RK.

eQuator.co.id – Melawi-RK. Peninggalan bangunan bersejarah yang merupakan pertahanan dalam melawan penjajahan Belanda di Melawi, khususnya di Nanga Pinoh ditargetkan untuk direhap oleh pemerintah pusat.

Hal itu mengingat sejumlah peninggalan bersejarah tersebut masuk dalam bangunan cagar budaya serta diusulkan untuk direhab oleh pemerintah pusat. Salah satu bangunan bersejarah di Nanga Pinoh adalah tangsi militer Belanda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi, Joko Wahyono ditemui kemarin mengatakan, tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah sudah melakukan verifikasi beberapa waktu lalu.

“Kedatangan tim verifikasi dari pusat untuk menghitung seberapa besar kerusakan pada bangunan. Kemudian, mereka akan mengusulkan untuk memugar bagian-bagian bangunan,” paparnya.

Joko mengungkapkan, di Melawi ini sebenarnya ada beberapa bangunan yang menjadi cagar budaya. Salah satunya yang cukup dikenal oleh pusat adalah tangsi militer. Kemudian, kantor kontelir yang juga masuk sebagai cagar budaya. Dimana sejumlah bangunan bersejarah itu masih dalam satu lingkungan.

“Pemerintah Kabupaten Melawi, khususnya melalui Disdikbud diminta oleh pemerintah pusat untuk melestarikan tempat bersejarah tersebut. Karena mengingat bangunan-bangunan tersebut menjadi saksi peristiwa penjajahan Belanda pada masa lalu. Mereka memang tidak berjanji, tapi akan berupaya mengusulkan perehaban agar dikembalikan dalam bentuk asalnya. Sehingga benar-benar menjadi cagar budaya yang dilindungi serta objek wisata bangunan cagar budaya yang berada di Tanjung atau dekat dengan penyeberangan ASDF Sungai Melawi. Bangunan ini sebelumnya sempat berfungsi sebagai tempat keresidenan di masa Belanda,” ulasnya.

Apabila ini terwujud, Joko menambahkan, tentu harus didukung oleh masyarakat Melawi. Mulai dari segi mengawal dan melestarikannya sekaligus menjaga lingkungan agar tetap aman dan nyaman. “Mudah-mudahan ini sukses dan menjadi kenyataan,” harapnya.

Komplek cagar budaya di Nanga Pinoh memiliki lingkungan yang sangat luas. Dimana sudah ada bangunan lain, seperti jalan, terminal dan PKL. Karena itu, perlu dukungan semua pihak yang menempati lokasi tersebut. Tentunya dengan merelakan areal itu untuk dilepas serta ditata apabila cagar budaya ini menjadi objek wisata.

“Karena informasinya jika memang direalisasi, maka renovasi cagar budaya tersebut sekaligus lingkungannya. Karena mereka tidak mau tanggung-tanggung,” tuturnya.

Reporter: Dedi Irawan

Redaktur: Andry Soe