“Tamasya” ke Pemukiman Warga

Habitatnya Rusak, 3 Orang Utan Cari Makan, Satu Tertangkap

31
DIAMANKAN. Warga mengikat Orang Utan sembari menunggu tim BKSDA datang, di Kecamatan Siantan, Mempawah, Minggu (1/7). Foto Kecil: Orang Utan di Kecamatan Siantan sebelum ditangkap. Ari Sandy-RK
DIAMANKAN. Warga mengikat Orang Utan sembari menunggu tim BKSDA datang, di Kecamatan Siantan, Mempawah, Minggu (1/7). Foto Kecil: Orang Utan di Kecamatan Siantan sebelum ditangkap. Ari Sandy-RK

eQuator.co.idMempawah-RK. Dulu cuma berani mengintip, sekarang sudah berani berbuat lebih. Mulanya hanya menimbulkan rasa penasaran, kini seolah menebar teror ke manusia. Yap, sekitar pukul 09.30, tiga Orang Utan memasuki pemukiman warga dusun Kelapa, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, Minggu (1/7) pagi.

“Dapat informasi dari orang yang berladang, ada Orang Utan yang makan buah-buahan di kebun tempat mereka berladang tersebut, karena orang-orang tersebut takut dan terancam, jadi mereka menghubungi kami,” ujar warga setempat, Sugianto, yang bersama warga setempat lainnya, Yusuf, Senin (2/7).

Mereka menyebut, kemunculan Orang Utan ini memang sering terjadi. Namun kerap hanya sebentar saja. Setelah masuk kebun warga, kembali masuk ke dalam hutan.

“Warga berhasil menangkap satu ekor, dan dua ekornya kabur ke dalam hutan,” ungkap mereka. Yang berhasil ditangkap berjenis kelamin jantan, sudah dewasa.

Ditambahkan Kapolsek Siantan, Iptu Galih Wicaksono, melalui Paur Humas Polres Mempawah, Ipda Imam Widhiatmoko, temuan Orang Utan ini diketahui oleh Bhabinkamtibmas yang mendapat informasi warga. “Bhabin bersama 1 anggota BKO meluncur ke TKP dan langsung menginformasikan kepada pihak BKSDA (Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam,red) untuk tindak lanjutnya,” ujar Imam.

Ia mengatakan, dari informasi warga, Orang Utan tersebut sudah 2 hari berkeliaran di sekitar kebun warga. Warga tak berani mendekatinya.

Setelah warga berkumpul, sembari menunggu tim dari BKSDA tiba, Orang Utan yang tertangkap diikat. Diamankan karena dikhawatirkan akan lari ke tempat lain.

Setibanya tim BKSDA di lokasi, lanjut Imam, diberikan lah suntikan bius pada Orang Utan tersebut. Hewan dilindungi karena terancam punah (endangered species) itupun segera tertidur pulas. Tak sadarkan diri.

“Tim BKSDA kemudian membawa Orang Utan tersebut ke ke tempat penampungannya,” ungkapnya.

Ia berpesan kepada masyarakat, ketika menemui hewan-hewan yang dilindungi untuk segera memberitahukan kepada kepolisian setempat. Imam mengingatkan untuk tidak membunuh ataupun memelihara hewan-hewan yang dilindungi itu. Karena dapat dikenai ancaman pidana sesuai dengan UU yang berlaku.

“Jangan dibunuh ataupun diambil, karena dapat dipidanakan,” pungkasnya.

Sementara itu, diwawancarai di kantor BKSDA Kalbar, Jalan A. Yani Pontianak, Senin sore, Ketua Forum Konservasi Orangutan Kalbar (Fokkab), Syamsuri menjelaskan, satwa liar sampai masuk ke pemukiman warga karena tempat tinggal aslinya sudah tidak utuh lagi.

“Orangutan sudah bergeser ke pemukiman itu biasanya sudah rusak habitatnya,” jelas dia.

Syamsuri mengungkapkan, perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) yang membuka lahan cukup besar di sekitar wilayah itu cukup masif. Terutama di lanskap dari daerah Purun (Kabupaten Mempawah) hingga Ambawang (Kabupaten Kubu Raya). Dengan bentang alam dari Peniraman, Mempawah, sampai ke Kubu Padi, Kubu Raya.

Menurut dia, seharusnya hal itu diatur. Di kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi, tidak semua lahan bisa dibuka.

“Misalnya di sekitar sungai, lalu sumber-sumber air, di tempat hidup atau habitat hewan yang dilindungi, harusnya itu tidak boleh,” paparnya.

Apalagi, lanjut dia, setakat ini memasuki musim saat hutan tidak berbuah. Itu sebabnya Orang Utan masuk ke pemukiman. Mereka mencari makan.

“Intinya terjadi karena pembukaan lahan yang cukup besar di sekitar itu,” ucap Syamsuri.

Kasus Orang Utan liar masuk ke pemukiman warga ini bukanlah pertama kali. Pada 2012, pernah terjadi kasus serupa.

Dikatakan Syamsuri, dari hasil identifikasi para peneliti Orang Utan di Kalbar, diperkirakan belasan Orang Utan masih hidup di antara kawasan Peniraman-Kubu Padi. “Sekitar 5 hingga 8 individu masih ada sebenarnya, itu dari survei dan riset kita, perkiraan kita ada 10-15 individu Orang Utan dari Peniraman sampai Kubu Padi,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengadakan konferensi pers. “Polsek Siantan menelpon call center kami, bahwa ada Orang Utan ditangkap warga,” tuturnya. Pihaknya segera mengirim tim ke lokasi untuk mengevakuasi satwa dilindungi tersebut.

Karena suatu hal, baru saja timnya berangkat, informasi di media sosial sudah viral. Yang justru informasinya tidak sepenuhnya benar.

“Karena di situ yang viral justru pada tahun 2012 yang kasusnya terbakar, padahal sama sekali tidak ada pembakaran,” paparnya.

Lanjut dia, penanganan oleh masyarakat dan berbagai pihak di lapangan dengan segala keterbatasan pemahaman tentang Orang Utan sudah cukup bagus. “Mereka ternyata punya kepedulian, mereka paham satwa itu dilindungi, sehingga tidak benar seperti yang viral itu menggunakan senapan angin,” terang Sadtata. Imbuh dia, “Memang ada yang membawa senapan angin, iya, karena masyarakat di sana biasa membawa senapan angin”.

Yang pasti, Sadtata memuji reaksi positif warga dan instansi terkait untuk usaha penyelamatan satwa liar ini. “Operasi” penanganan berlangsung efektif sehingga Orang Utan itu dapat terselamatkan.

“Untuk kesekian kalinya saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada masyarakat, jajaran Polsek Siantan dan semua pihak,” ucapnya.

Ia menuturkan, berdasarkan keterangan ketua RT setempat, Sudaryo, bahwa Orang Utan tersebut telah berkeliaran selama tiga hari di salah satu kebun milik warga, yaitu milik Ibu Sabie. Dan telah memakan tanaman di kebun  itu.

Kebun tersebut berjarak 2 Km dari pemukiman warga.  Warga berusaha menangkap Orang Utan tersebut dengan menggunakan tali tambang. Saat dilakukan penangkapan, ia sedang turun dari pohon Albasia.

“Berhasil ditangkap, kemudian diikat dan dibawa ke pemukiman dengan pengawalan Tim Polsek Siantan yang melaporkan temuan ini kepada pihak kami,” jelas Sadtata. Sambungnya, “Kondisi Satwa itu sendiri cukup sehat, dan masih liar”.

Pembina Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar ini memaparkan, Senin malam Orang Utan itu akan dibawa  ke Sintang Orangutan Center (SOC). Untuk pemeriksaan lebih lanjut terhadap kesehatan satwa tersebut.

Dan, jika memungkinkan akan dilepasliarkan ke habitat alaminya secepatnya. Mengingat satwa tersebut masih memiliki sifat liar.

“Dibawa malam untuk mengurangi stresnya, menggunakan mobil,” ungkap Sadtata.

Nah, mengingat beberapa kejadian ditemukannya Orang Utan di Wajok Hilir dan sekitarnya, dalam waktu dekat Balai KSDA Kalbar bersama beberapa pihak akan melakukan identifikasi lokasi. Guna memastikan masih ada tidaknya satwa tersebut di kawasan itu.

“Dari informasi di lokasi kemarin, ada tiga individu yang selama ini mereka jumpai, salah satunya yang ditangkap ini, berarti masih ada dua, dari informasi itu kita akan melakukan tindakan jangka pendek dan jangka panjang,” bebernya.

Jangka pendeknya, BKSDA akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penanganan bila menjumpai Orang Utan di areal kebun. Dan apabila memungkinkan akan dilakukan upaya relokasi untuk menjamin keselamatan Orang Utan itu.

“Di samping itu kami juga mengantisipasi seandainya terjadi konflik lagi, apakah nanti perlu dievakuasi atau tidak, nanti kita lihat situasi pada saat tim turun,” tukas Sadtata.

Untuk jangka menengah dan panjang, BKSDA bersama para pihak terkait bersepakat melakukan survey dan kajian menyeluruh di areal tersebut. Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan di level yang lebih tinggi.

Senada, Kanit Intelkam Polsek Siantan, Ipda Sahata L Topuan. Ia mengatakan BKSDA memang perlu melakukan sosialisasi lebih lanjut. Terkait penanganan jika masyarakat bertemu dengan satwa liar.

“Seperti kasus beberapa tahun yang lalu bahwa ada Orang Utan mati terbakar, itu bukan masalah nasional lagi, melainkan sudah masalah internasional, sebab satwa ini dilindungi,” paparnya.

Kepolisian, kata dia, selalu siap berkerja sama dengan berbagai instansi. “Di wilayah hukum kami  pernah ada kemunculan buaya, jadi kami sudah punya jaringan ke BKSDA,” ungkapnya.

Sahata juga menanggapi informasi hoax di media sosial. Ia menegaskan satwa itu tidak ditembak.

“Ini kan sudah viral, ceritanya tu tertembak Orang Utannya, saya menegaskan, Orang Utan itu bukan ditembak, tapi diamankan oleh warga,” tegasnya.

Setakat ini, Orang Utan yang telah dievakuasi tersebut berada di dalam kandang evakuasi. Ketika awak media ingin mengambil gambar, satwa itu mengeluarkan suara liarnya. Kandang dilapisi atau ditutup dengan plastik.

 

Laporan: Ari Sandy, Ambrosius Junius

Editor: Mohamad iQbaL