Qurban Era Milenial

Oleh: Joko Intarto

16
Simon Jonathan menyerahkan secara simbolis sapi qurban dengan berat 1 ton kepada PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama.
Simon Jonathan menyerahkan secara simbolis sapi qurban dengan berat 1 ton kepada PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama.

eQuator.co.id – Banyak yang belum tahu. Lazismu dan Lazisnu begitu mesranya. Selalu bersama dalam 10 tahun terakhir. Menyelenggarakan program ‘’Qurban 1 Miliar’’. Program ini melibatkan pihak ketiga: Extra Joss.

Senin siang kemarin, Lazismu dan Lazisnu kembali bertemu dengan Extra Joss. Kali ini tidak hanya pengurus kedua lembaga amil zakat nasional itu yang hadir. ‘’Bapak-bapaknya’’ juga ikut: PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama. Tempat pertemuannya di kantor pusat PT Bintang Toedjoe, perusahaan yang menaungi Extra Joss.

Baca Juga: Deposito Qurban

Berbeda dengan tema-tema sebelumnya, qurban kali ini mengusung nama yang ‘’anak muda banget’’: Shake up your life for qurban. Sebuah ajakan positif untuk menggelorakan semangat berqurban untuk kaum muda. Kelompok milenial.
‘’Generasi milenial ini jumlahnya sangat besar. Lebih dari setengah penduduk Indonesia. Kita harus mengemas ulang desain komunikasinya agar program Qurban 1 Miliar ini bisa diterima kaum milenial. Kami bertekat akan terus menyelenggarakan Qurban 1 Miliar ini Bersama Lazisnu dan Lazismu sampai kapan pun,’’ kata Simon Jonathan, dari Extra Joss.

PB NU menyambut gembira pernyataan Simon. ‘’Waktu 10 tahun itu sudah cukup panjang untuk menguji kemesraan dan kebersamaan Lazismu dan Lazisnu,’’ kata KH Sulthon, mewakili Ketua Umum PB NU Dr Said Aqil Siradj yang berhalangan hadir.

Dr Abdul Mu’tie yang mewakili Dr Haedar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga berhalangan hadir, berkomentar senada. ‘’Perlu pendekatan baru dalam komunikasi dakwah untuk menjangkau generasi milenial. Kami selalu terbuka untuk bekerjasama,’’ katanya.

Tahun lalu, Lazismu telah dipercaya lebih dari 200 ribu umat muslim di seluruh Indonesia, sebagai operator program qurban. Nilainya mendekati Rp 500 miliar. Tahun sebelumnya tercatat 150 ribu sohibul qurban. Nilainya hampir Rp 400 miliar.
Melihat tren yang terus meningkat, Lazismu mulai merancang pola baru untuk memanfaatkan momentum qurban sebagai penggerak ekonomi pedesaan. Ujicoba program ini dimulai tiga bulan lalu di Kabupaten Gunung Kidul. Dengan mendirikan ‘’hotel sapi’’ berkapasitas 50 ekor.

Baca Juga: Hewan Kurban Harus Sehat dan Sesuai Syariat

Lazismu yang membangun hotelnya. Masyarakat yang mengisi kamar-kamarnya dengan bibit sapi potong. Untuk memenuhi permintaan pasar qurban tahun ini, 42 ekor sapi di hotel itu terjual seluruhnya. Untungnya lumayan: Rp 45 juta. Bersih.
Pengelola hotel dan pemilik sapi sama-sama senang. Karena itu, setelah Idul Qurban, hotel akan diperluas. Kapasitas akan ditingkatkan menjadi 150 kamar. Pembelinya juga sudah siap. Pemasok daging sapi untuk sejumlah restoran di Bandung sudah siap menjadi pembeli tetap.

Kabar hotel sapi ternyata bergaung sampai Kantor Pusat PT Pegadaian. Perusahaan plat merah itu tertarik untuk menjajaki kerjasama permodalan. Agar para keluarga petani berpenghasilan rendah bisa ikut menikmati rezeki dari peternakan sapi, melalui skema kredit murah berbasis syariah dari Pegadaian.
‘’Kami punya skema pinjaman usaha produktif ultramikro dengan plafon kredit Rp 10 juta. Nilainya cukup untuk modal pengadaan bibit sapi beberapa ekor,’’ kata Ketut, General Manager Kredit Ultramikro Pegadaian.

Pegadaian, kata Ketut, tertarik menjajaki kerjasama di hotel sapi itu, karena konsep hotel sapi membuat biaya produksi menjadi efisien. Selain itu, hotel sapi memiliki karyawan dengan skill dalam budidaya sapi potong sehingga risiko bisnisnya lebih kecil.

Hotel sapi di Gunung Kidul sebenarnya baru rintisan. Dalam upaya mencari model bisnis dan model pemberdayaan masyarakat miskin yang sesuai. Bila nanti modelnya telah siap, hotel sapi akan dikembangkan di 100 lokasi di seluruh Indonesia. (jto)