Deposito Qurban

Terobosan Oleh: Joko Intarto*

30

eQuator.co.id – Membeli hewan qurban sekarang dan saat Idul Adha sebenarnya sama saja. Tetapi, dengan membeli sekarang, kita bisa memberdayakan banyak petani/peternak dhuafa di pedesaan. Sementara membeli saat qurban, hanya memberi keuntungan kepada pedagang saja.

Fakta inilah yang menarik. Sama-sama mengeluarkan uang Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta untuk seekor kambing qurban (sekarang atau nanti), dampak ekonominya jauh berbeda.

Dengan membeli sekarang, petani mendapat pekerjaan dan penghasilan. Perekonomian di desa bergerak. Sedangkan membeli saat qurban, hanya pedagang ternak qurban yang menikmati keuntungan.

Sementara petani yang umumnya menjadi buruh hanya mendapat upah memelihara saja. Berangkat dari pemikiran tersebut, ”Deposito Qurban” bisa menjadi program pemberdayaan yang perlu dipertimbangkan. Seperti halnya deposito bank,

‘’Deposito Qurban’’ memiliki pengertian sebagai ‘’simpanan berjangka’’ seharga hewan qurban dengan ‘’bunga’’ atau ”manfaat” berupa dampak ekonomi yang luas di pedesaan.

Ada tiga hal menarik di balik program ‘’Deposito Qurban’’. Pertama, ‘’Deposito Qurban’’ bisa memotong rantai distribusi dari pembeli – pedagang – petani menjadi dari pembeli langsung ke petani. Dengan memangkas rantai itu, terjadilah pemusatan modal di tangan petani.

Kedua, ‘’Deposito Qurban’’ akan mengubah posisi petani dari buruh para pedagang (umumnya juga pemodal) menjadi pemilik usaha yang mandiri.

Ketiga, ‘’Deposito Qurban’’ bisa menjadi saluran kepedulian masyarakat yang berpunya kepada kaum dhuafa. Dengan memiliki modal usaha, para petani miskin itu bisa memproleh keuntungan sebagai peternak sekaligus pedagang. Bukan hanya mendapat upah memelihara seperti sebelumnya.

Pada tahun 2017, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengajak semua lembaga amil zakat untuk bergotong-royong meningkatkan taraf hidup sekurang-kurangnya 280 ribu kepala keluarga yang masih berstatus miskin. Program pemberdayaan petani miskin melalui proyek peternakan kambing qurban tentu bisa menjadi salah satu alternatifnya.

Sementara itu, Tabulasi Distribusi Hewan Qurban Nasional Lazismu tahun 2016 mencatat jumlah pequrban mendekati 150 ribu orang. Tahun berikutnya 203 ribu ekor. Hampir seluruhnya didistribusikan kepada masyarakat miskin di kawasan 3T (terluar, terdalam, tertinggal).

Pertanyaannya, dari mana sumber kambingnya? Inilah yang bisa direkayasa. Menjadi gerakan ekonomi desa.

Bila setiap keluarga miskin di desa mendapat paket pemberdayaan berupa ‘’Deposito Qurban’’ sebanyak 20 ekor, ada 7.500 – 10.000 kepala keluarga yang bisa diangkat kesejahteraannya.

Itu baru dari program qurban Lazismu saja. Padahal, ada lebih dari 19 lembaga zakat, infaq dan sedekah yang memiliki program qurban. (jto)

 

*Admin www.disway.id dan wakil sekretaris Lazismu PP Muhammadiyah