Pelarangan Kratom Disinyalir Karena Perang Dagang

Ilustrasi-NET

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Dilarangnya kratom, tentu membuat kekesalan tersendiri bagi masyarakat Kalbar. Bagaimana tidak, tanaman ini kian menjadi kebanggaan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Padahal masyarakat sudah menaruh harapan besar.

Ironisnya lagi, masyarakat kalbar yang sudah banyak beralih mata pencaharian ke kratom ini, seolah tanpa ada solusi bagi mereka. Dilarang namun tidak diberikan pengganti sehingga persoalan ini membuat wakil rakyat di DPRD Kalbar kesal.

“Yang kami sesalkan tidak ada peringatan dini dari pemerintah dengan menyediakan pengganti atas kratom dilarang,” ujar H. Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Kalbar, Rabu (31/7).

Menurut Suriansyah, pelarangan kratom lantaran memiliki kandungan kelas satu narkotika bukanlah alasan utama. Terlebih jika kandungannya sangat baik, justru sangat menguntungkan bagi dunia kesehatan khususnya formasi untuk menggunakan kratom tersebut bukan malah dilarang peredarannya.

“Bahkan ada kabar dilarangnya kratom hanya karena perang dagang bidang formasi,” cetus Suriansyah.

Politisi Partai Gerindra ini menjelaskan, jikalau ada perang dagang di dunia farmasi lantaran pemerintah takut bahan lain dikalahkan dengan kratom, menurutnya ini merupakan persoalan besar dan meminta pemerintah mengkaji ulang manfaat dan mudarat dari tanaman yang dominannya berasal dari hulu Kalimantan barat.

“Ini harus digali pemerintah apakah benar, karena kratom ini lebih sentetis atau lebih unggul dari lainnya sehingga membuat persaingan dagang kratom. Saya sendiri banyak teman yang menggeluti kratom ini yang mereka sendiri mengkonsumsinya,” tutupnya.

 

Reporter: Gusnadi

Redaktur: Andry Soe