Isu Pelarangan, Kratom Ditinggal Pembeli

KRATOM. Salah seorang warga Putussibau Selatan menunjukan kebun kratom miliknya yang sudah siap panen, Selasa (8/1).Namun karena tidak ada pembeli, sehingga dibiarkan tidak dipanen. Andreas/RK

 

eQuator.co.id – PUTUSSIBAU. Masa kejayaan kratom sepertinya berangsur meredup. Isu pelarangan membuat komoditas yang dikenal purik ini ditinggalkan pembeli.
Kondisi ini terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu. Sudah dua bulan terakhir, sejumlah petani kratom di timur Kalbar ini mengeluhkan tidak ada pembeli.
“Kratom saat ini sudah banyak yang siap dipanen, namun kami lebih memilih tidak memanen karena tidak adanya pembeli,” tutur Ilyas, petani kratom asal Putussibau Selatan, Kapuas Hulu, Selasa (8/10).
Akibat tidak ada pembeli kratom dirinya merasa merugi. Agar perekonomian masyarakat pulih, dia berharap pemerintah segera mengatasi persoalan ini. Mengingat kratom merupakan komoditi andalan masyarakat saat ini.
“Jika kratom ditutup masyarakat tidak memiliki alternatif usaha lain lagi, akibatnya bisa berdampak pada angka kriminalitas yang tinggi,” keluh Ilyas.
Petani kratom lainnya, Ambo mengatakan, apabila nant benar-benar dilarang dirinya tetap akan mempertahankan tumbuhan tersebut. Ksrena batang pohon kratom bisa digunakan untuk bahan meubel dan penghijauan pantai pencegah abrasi sungai.
“Kami sudah menghabiskan modal yang besar untuk menanam kratom ini,” katanya.
Menurut dia, macetnya pembelian merupakan dampak isu larangan kratom yang selalu dikemukakan.
“Jika kratom dilarang kita minta Pemerintah menyediakan komoditi penggantinya,” pinta Ambo. (dRe)