Narkoba Ada Dimana-mana, Sehari 30 Orang Mati Akibatnya

PENYULUHAN. Kepala BNN Kota Singkawang, AKBP Chrismas Siswanto memberikan materi sosialisasi narkoba di Kampus AKBID Singkawang, Rabu (12/9)--BNNK Singkawang for RK

eQuator.co.id – Singkawang-RK. Berdasarkan hasil survei BNN dan Universitas Indonesia, pada 2017, jumlah penyalahgunaan narkoba di 34 Provinsi di Indonesia, mencapai 3,3 juta orang. Sedangkan yang tewas akibar over dosis, dalam sehari mencapai 30 orang.

“Jumlah penyalahgunaan narkoba sebesar 3,3 juta. Angka itu terdiri dari lingkungan kerja sebesar 2 juta atau 59,3 persen. Sedangkan mati over dosis 30 per hari,” ujar Kepala BNN Kota Singkawang, AKBP Drs Chrismas Siswanto saat penyuluhan narkoba dalam rangka kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru TA 2018/2019 di Kampus WBI Akademi Kebidanan Singkawang, Rabu (12/9).

Dia menjelaskan, banyak pekerja yang mempunyai uang kemudian stress di tempat bekerja sehingga terjerumus ke narkoba. Hal itu didukung juga karena iman kurang kuat.

“Di lingkungan pendidikan (penyalahgunaan narkoba) sebesar 800 ribu orang atau sebesar 23,7 persen. Di lingkungan masyarakat 573 ribu orang atau sebesar 17 persen. Hati-hati narkoba ada dimana-mana,” pesannya.

Ditambah lagi, kata dia, masuknya narkoba jenis baru ke Indonesia, yakni New Psychoactive Substances atau NPS yang daya rusaknya lebih besar dan harganya jauh lebih murah dari narkotika aslinya.

“Berdasarkan laporan UNODC atau badan dunia urusan kejahatan dan narkotika, tahun 2017 di dunia telah beredar 739 NPS. Di Asia telah beredar 150 jenis dan di Indonesia telah beredar 71 jenis (sudah 68 NPS yang diatur Kemenkes),” papar Chrismas.

Sehingga, sambung dia, keberadaan NPS sangat mengkhawatirkan. Karena dari beberapa kasus, telah disalahgunakan oleh pilot, anak sekolah, nelayan, pekerja bangunan. Hal itu dapat memicu tingginya produksi dan peredaran NPS besaran-besaran dan tentunya korban terus bertambah.

“Efek narkoba sakitnya luar biasa. Makanya harus direhabilitasi. Narkoba termasuk kejahatan luar biasa selain teroris dan korupsi. Kita harus hati-hati juga terhadap coklat, kue brownis, permen,” katanya.

Chrismas juga menyampaikan, berdasarkan hasil survei BNN dan UI pada tahun 2017, yang coba memakai narkoba mencapai angka 98,23 persen yang berasal dari kawasan waspada narkoba.

“Kawasan waspada narkoba meliputi lingkungan pendidikan 24 persen, lingkunga kerja 59 persen dan lingkungan masyarakat 17 persen. Nah, rokok itu adalah pintu gerbang dalam menyalahgunakan narkoba,” katanya.

Chrismas berpesan, agar mahasiswa berhati-hati dalam pergaulan dan tidak sembarangan menerima pemberian orang yang tidak dikenal yang berupa makanan maupun minuman.

“Fokus pada sekolah dan yang terpenting bentengi diri dengan iman. Ingat orang tua kita bersusah payah untuk membiayai kuliah kita. Jadilah anak bangsa yang sehat, kuat dan berprestasi sehingga dapat menjadi kebanggaan bagi diri sendiri, orang tua dan kampus tercinta,” katanya.

Di tempat yang sama, Kasi Pencegahan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNN Kota Singkawang, Herwandi mengatakan, ada tiga ciri-ciri pengguna narkoba. Yang pertama adalah ciri-ciri fisik. Terlihat dari kesehatan dan penampilan menurun.

“Badan kurus, lemah, malas, gemetaran, suhu badan tidak beraturan, mata kemerah-merahan dan berair, muka pucat, bibir kehitaman serta bicara cadel, berkeringat secara berlebihan, terdapat bekas suntikan di tangan, batuk dan pilek berkepanjangan serta sakit perut dengan alasan tidak jelas,” paparnya.

Selanjutnya, kata Herwandi, ciri-ciri psikis. Yakni sangat sensistif dan cepat bosan, membangkang, mudah tersinggung dan cepat emosi. Juga memiliki rasa curiga yang berlebihan, ketakutan yang luar biasa, hilang ingatan, berusaha menyakiti diri dan selalu berkhayal.

Kemudian, ciri-ciri sosial. Yakni Si Pengguna memiliki sikap yang emosial dan agresif, menjadi pemalas, suka mengajak berkelahi dan membuat keributan. Kurangnya rasa malu dan ketakutan berpotensi membunuh, psikhopatis atau berperilaku sadis. “Dalam ciri ini, kerja otak Si Pengguna juga terpengaruh, yakni menurunnya kemampuan dalam membaca, berbicara serta berhitung,” tutupnya.

Laporan: Suhendra Yusri/*

Editor: Ocsya Ade CP