Ketika Jepang Begitu Maju, Kita Masih Berlaku Primitif

Blog dari Saint Petersburg Oleh: Ainur Rohman

37
TELADAN. Beberapa suporter Jepang membersihkan sampah di stadion seusai pertandingan timnasnya saat World Cup 2018. The Sun

eQuator.co.id – MESKI terpisah jarak belasan ribu kilometer, saya merasa marah betul ketika membaca kasus seorang jurnalis dipukuli ramai-ramai oleh suporter, pengurus, dan bahkan pemain sepak bola di Jember, Jawa Timur. Hati saya semakin mendidih ketika melihat video tindakan tidak beradab itu. Saya meradang, saya sedih, gemas, sebal, campur aduk menjadi satu.

Wartawan beritajatim.com, Oryza Ardiansyah Wirawan, dikeroyok oleh tim Sindo Dharaka Jember. Itu terjadi setelah pertandingan melawan Persid Jember pada lanjutan Liga 3 di Jember Sport Garden (4/7).

Cuma karena hendak mengambil gambar pemain Sindo Dharaka yang protes kepada wasit, seseorang memiting leher Oryza. Smartphone dia dirampas. Oryza yang tergeletak di tanah lalu dipukuli ramai-ramai oleh para pemain. Biadab!

Saya heran, mengapa sepak bola bisa sebarbar itu. Sementara di Rusia saya menyaksikan pesta, kegembiraan, keseruan, dan keharuan, yang sangat manusiawi karena sepak bola. Di negeri saya sendiri, saya dihadapkan kembali pada insiden yang sungguh memuakkan.

Di Rusia, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana luar biasanya etika suporter Jepang. Entah apapun hasil pertandingannya, mereka selalu menjadi rombongan yang pulang paling akhir dari stadion karena lebih dulu mengumpulkan sampah yang berserakan.

Kebaikan fans Jepang itu menular kepada suporter lain. Bahkan kepada pemainnya. Foto yang viral di media sosial tiga hari lalu menunjukkan betapa dahsyatnya etos mereka. Seusai kalah dengan menyesakkan dari Belgia pada babak 16 besar, anggota timnas Jepang membersihkan sendiri kamar ganti mereka di Rostov Arena, Rostov-on-Don. Itu masih ditambah dengan tulisan spasibo alias terima kasih dalam bahasa Rusia.

Padahal, kekalahan mereka begitu tragis. Unggul dulu 2-0 lalu dibalik menjadi 2-3. Gol penentu Belgia yang dicetak Nacer Chadli juga lahir pada menit ke-90+4. Sungguh bikin sesak dada.

Namun, orang Jepang mengajarkan kepada seluruh dunia bahwa kepedihan karena sepak bola bukan menjadi pembenar untuk berlaku nista. Karena sikapnya yang luar biasa itu, tim Jepang layak menjadi juara sesungguhya pada Piala Dunia 2018 ini. Jepang menunjukkan bahwa kemanusiaan, sikap saling peduli, dan respek kepada orang lain, memiliki nilai yang jauh lebih tinggi ketimbang sekadar soal menang atau kalah dalam arena sepak bola.

Piala Dunia 2018 menjadi panggung yang sangat tepat bagi Jepang untuk semakin memperkenalkan prinsip-prinsip moralnya. Berkat foto ruang ganti itu, banyak orang belakangan baru ngeh bahwa Jepang benar-benar melaksanakan metode 5S dalam kesehariannya. Yakni Seiri (ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin).

Satu lagi, orang Jepang benar-benar menghargai lawan bicara. Sekaliber bintang besar seperti Keisuke Honda misalnya, kerap dalam posisi menunduk saat diwawancai jurnalis. Tutur katanya halus. Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa dia sangat hormat pada pekerjaan wartawan. Sebaliknya, para jurnalis juga sopan dan jujur dalam melakukan tugasnya.

Dengan prinsip-prinsip moral seperti itu, tidak heran prestasi Jepang begitu mentereng dalam berbagai bidang termasuk sepak bola. Samurai Biru selalu lolos dalam enam Piala Dunia terakhir. Yang lebih hebat, tahun ini, Makoto Hasebe dkk menjadi satu-satunya tim Asia yang sukses melaju ke babak 16 besar.

Sementara sepak bola Jepang sudah begitu maju dan berhasil merebut hati dunia, di Jember, masih ada manusia-manusia yang bertingkah begitu primitif. Saya tidak bisa apa-apa selain hanya mengelus dada. Sampai kapan kita akan seperti ini?

 

Wartawan Jawa Pos