Islam dan Kristen di Tanah yang Sama

28
Masjid Kul Sharif yang berada di kawasan Kremlin Kazan menjadi obyek wisata yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Kazan, Rusia, Minggu (1/7). FOTO: Angger Bondan/Jawa Pos

eQuator.co.id – KAZAN terletak sekitar 800 kilometer di sebelah timur Moskow. Ini adalah kota terbesar sekaligus ibu kota Republik Tatarstan dalam lingkup negara Federasi Rusia. Tatarstan mengacu pada nama etnis Tatar, sebuah kelompok yang berada di wilayah tersebut sejak abad ke-13.

Sekarang, dalam kota yang sudah berusia 1.000 tahun tersebut, dua jiwa bertemu yakni Volga Tatar dan Rusia. Berdasarkan sensus 2017, Kazan memiliki penduduk lebih dari 1,1 jiwa yang terbagi ke dalam dua kutub besar yakni Volga Tatar (47,6 persen) dan Rusia (48,6 persen).

Hampir semua etnis Volga Tatar memeluk agama Islam yang beraliran sunni. Sedangkan orang Rusia menganut ajaran Kristen Ortodoks. Di kota inilah, bangsa Rusia banyak bercermin dan belajar bagaimana seharusnya perbedaan dirayakan dalam kedamaian.

Kazan adalah satu kota di Rusia yang sangat ambisius dalam membangun kotanya. Infrastruktur terus dimodernisasi. Sarana transportasi massal seperti Metro Kazan menjadi salah satu urat nadi kota. Meski baru punya satu line, namun Metro Kazan yang dibangun pada 2005 adalah yang terbaru dari semua jaringan Metro yang ada di Rusia.

Yang paling menarik dari semuanya adalah toleransi beragama di Kazan. Hal yang sangat simbolik tampak dari kompleks Kremlin Kazan. Di situ, Gereja Ortodoks, Katedral Annunciation, dan salah satu masjid terbesar di Eropa, Kol Sharif, berada dalam satu area. Inilah salah satu tempat favorit fans sepak bola untuk dikunjungi sebelum atau selepas nonton pertandingan di Kazan Arena.

”Kazan memiliki sejarah panjang terkait konflik pada masa lalu. Namun, Islam dan Kristen sekarang hidup dalam harmoni yang sangat bagus,” jelas Anastasia Lobova, seorang pengacara yang bermukim di Kazan. ”Saya memiliki banyak teman dari etnis Tatar. Mereka sangat baik, berpendidikan bagus, dan terbuka. Jadi tidak ada alasan untuk fobia pada Islam,” imbuhnya.

Saat mengunjungi Masjid Kul Sharif, semua wisatawan harus menyesuaikan diri. Lelaki yang memakai celana pendek di atas lutut diharuskan mengenakan kain yang berfungsi seperti sarung. Yang perempuan juga wajib memakai kain yang menutupi aurat dan mengenakan kerudung. Ada dua petugas perempuan yang khusus membantu mereka memasang kain dan kerudung tersebut.

“Kami tidak masalah dengan ini. Sebab ini adalah bagian dari kepercayaan yang mereka anut. Kami harus menghormatinya,” kata Eduardo Lima, fans Argentina yang berkunjung ke Masjin Kol Sharif kemarin (3/7). (Jawa Pos/JPG)