Kekalahan yang Sempurna

27
Gestur Kekalahan. Bahasa tubuh kapten Argentina Lionel Messi ketika pluit tanda akhir pertandingan melawan Kroasia yang berakhir menggenaskan 0-3. Angger Bondan-Jawa Pos

eQuator.co.id – ENTAH bagaimana suasana di ruang ganti Argentina setelah kalah telak 0-3 oleh Kroasia di Stadion Nizhny Novggorod kemarin WIB (22/6). Dingin? Senyap? Yang pasti, tidak ada riuh riang ekspresi kegembiraan seperti yang dilakukan para pemain Kroasia.

Begitu wasit Ravshan Irmatov dari Uzbekistan meniup peluit panjang, para pengawa Tango –sebutan Argentina—langsung terdiam. Terpukul. Dengan langkah lunglai, mereka meninggalkan lapangan. Tidak ada salam untuk fans Argentina yang menguasai tribun stadion berkapasitas 45 ribu penonton itu.

Hanya Gonzalo Higuain yang tampak lebih lama di lapangan. Dia berbincang dengan penyerang Kroasia yang juga rekannya di Juventus, Mario Mandzukic. Tak lama kemudian, Higuain menyusul teman-temannya. Diiringi siulan panjang tanda kekecewaan para pendukungnya.

“Kami sangat puas dengan permainan kami, terutama di babak kedua. Kami tahu, untuk menghadapi Argentina kami harus tampil sempurna,” kata Luka Modric, kapten Kroasia, saat konferensi pers setelah pertandingan.

Kemenangan atas Argentina mengantar Krosia ke babak 16 besar. Meski begitu, Modric mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.

“Kami sedang dalam suasana penuh euforia. Tapi, kami harus tetap tenang. Menatap pertandingan berikutnya dan meletakkan dua kaki tetap di tanah,” kata gelandang Real Madrid itu.

Bagaimana dengan Lionel Messi? Kapten Tango itu lebih banyak diam. Wajahnya kaku. Tanpa ekspresi. Saat masih di lapangan, Messi bahkan tidak menyalami wasit dan seorang pun pemain Kroasia. Tidak ada juga yang ”berani” mendekati atau bahkan menyapa dan menyalami sang superstar Tango itu. Messi ngeloyor begitu saja.

Aksi bungkam penggawa Argentina berlanjut saat memasuki mixed zone. Ruang khusus antara kamar ganti pemain menuju pintu keluar stadion itu dipenuhi ratusan wartawan. Para jurnalis harus menunggu hampir dua jam sampai akhirnya Messi dkk nongol di pintu masuk mixed zone. Namun, mereka menutup mulut rapat-rapat.

Mayoritas pemain menundukkan kepala dan bergegas menuju bus. Messi paling depan. Memimpin rekan-rekannya. Tatapan bintang Barcelona itu kosong. Tidak menghiraukan panggilan maupun pertanyaan wartawan. Hanya Javier Mascherano yang meluangkan waktu. Dia berhenti sebentar. Menjawab satu dua pertanyaan wartawan dan kemudian buru-buru menyusul rekan-rekannya.

Setelah gagal mengeksekusi penalti saat melawan Islandia, Messi kembali gagal memberikan dampak besar pada permainan Argentina kemarin. Dia terkesan menyendiri, tidak membaur dengan permainan tim. Messi lebih banyak berada di pinggir. Tidak banyak mendapatkan bola.

Statistik mencatat Messi hanya melakukan 15 kali passing di babak pertama. Sangat minim. Bahkan, secara keseluruhan dia hanya melakukan 31 passing. Kalah oleh Wilfredo Caballero, yang notabene kiper, dengan 36 kali passing. Sayang, salah satunya adalah passing yang salah dari Caballero kepada pemain Kroasia Ante Rebic. Blunder itu berbuah gol pertama Kroasia.

Meski Messi sangat under-performed, pelatih Jorge Sampaoli tetap membela. ”Peran Messi sangat terbatas karena tim tidak bisa menjalankan fungsi sebagaimana mestinya,” katanya. ”Bagi rakyat Argentina, Messi tetap pemain yang brilian,” ujar pelatih 58 tahun itu. Kekalahan ini belum membuat Argentina angkat koper dari Rusia. Meskipun, nasib mereka jelas di ujung tanduk.

Padahal, suhu di Nizhny Novgorod saat itu 16 derajat Celsius. Anginnya kencang, sehingga udara terasa dingin. Tapi, Sampaoli tak merasakannya. Pelatih Argentina itu justru “kepanasan”. Jantungnya berdetak lebih kencang menyaksikan tim asuhannya tidak berdaya menghadapi Kroasia. Terlebih setelah kiper Wilfredo Caballero membuat blunder yang berbuah gol pertama Kroasia oleh Ante Rebic pada menit ke-53.

Gol itu membuat Sampaoli semakin tidak nyaman. Dia tidak pernah duduk di bench sejak awal pertandingan. Tampil rapi dengan t-shirt yang dibalut jas, celana denim, dan sepatu kulit, Sampaoli hilir mudik di depan bangku cadangan.

Kegelisahannya bertambah ketika Argentina tidak kunjung mampu menncetak gol balasan. Pada menit ke-75, Sampaoli melepas jas. Tampilannya jadi macho. Guratan tato di kedua tangannya nampak garang. Raut muka Sampaoli pun makin tegang.

Pria yang pernah melatih timnas Cile itu tidak bisa apa-apa lagi ketika Kroasia justru berhasil menambah dua gol. Tendangan melengkung Luka Modric pada menit ke-80 dan sontekan manis Ivan Rakitic di masa injury time menyempurnakan duka Argentina malam itu. “Setelah mereka mencetak gol, kami menjadi emosional,” kata Sampaoli saat konferensi pers setelah pertandingan.

Pelatih yang menangani Albiceleste—sebutan lain Argentina—sejak Mei 2017 itu terlihat menahan emosi. Raut mukanya menggambarkan kekecewaan besar. Setelah ditahan Islandia 1-1 pada laga pembuka grup D di Stadion Spartak, Moskow (16/6), Sampaoli sejatinya langsung berbenah. Dia merombak formasi Argentina saat melawan Kroasia. Namun, hasilnya malah lebih buruk.

Sampaoli meminta maaf kepada publik Argentina atas hasil tersebut. Dia sadar, puluhan ribu fans Tango yang datang langsung ke Rusia pasti kecewa berat dengan hasil yang diraih Messi dkk dalam dua pertandingan. ”Saya orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Saya memimpikan yang sama seperti para suporter. Saya sangat kecewa,” katanya. (Jawa Pos/JPG)