Jokowi-Mahathir Sepakat Lawan Diskriminasi Sawit

Bangun Sekolah TKI di Semenanjung

PERIKSA PASUKAN. Presiden Jokowi didampingi PM Mahathir memeriksa barisan dalam upacara sambutan resmi, di Dataran Perdana, Putrajaya, Malaysia, Jumat (9/8) pagi. Deny S-Humas Setkab

eQuator.co.id – Jakarta-RK. Presiden Joko Widodo kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Malaysia, kemarin (9/8). Lawatan tersebut merupakan dilakukan sebagai balasan atas kedatangan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad ke Istana Kepresidenan Bogor tahun lalu.

Selama berada di Malaysia, ada sejumlah agenda kenegaraan yang dilakukan Jokowi dengan Mahathir. Di pagi hari, keduanya bersama delegasi melakukan pertemuan bilateral di Perdana Putra Building, Putrajaya. Usai bilateral, Jokowi dan Mahathir melaksanakan makan siang bersama dan dilanjutkan dengan Salat Jumat bersama di Masjid Putra.

Menariknya, dalam perjalanan dari ruang pertemuan di Perdana Putra Building menuju Dining Hall, Seri Perdana Jokowi kembali menjajal mobil Proton Persona. Mobil itu merupakan produk asli Malaysia. Seperti tahun 2015 lalu, saat menjajal mobil, PM Mahathir sendiri yang mengendarainya di kursi kemudi.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang turut serta bersama Presiden dalam kunjungan resmi ini menerangkan bahwa kedua pemimpin berbicara dan membahas beberapa hal. Meliputi pendidikan bagi para anak dari WNI dan tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia, penyelesaian perbatasan, dan komitmen untuk bersatu melawan diskriminasi produk kelapa sawit kedua negara.

Soal pendidikan anak TKI, kata Retno, sejauh ini Indonesia telah memiliki beberapa Community Learning Center (CLC) di wilayah Sabah dan Serawak. Namun, untuk wilayah Semenanjung Malaysia, belum dimiliki. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo meminta bantuan PM Mahathir agar dapat membangun CLC di kawasan tersebut.

“Saat pertemuan Presiden mengatakan bahwa Perdana Menteri Malaysia memberikan komitmen untuk memperhatikan permintaan Indonesia,” ucapnya. Sementara untuk isu perbatasan, keduanya juga bersepakat untuk mengintensifkan pembicaraan dan negosiasi meliputi perbatasan di laut maupun darat.

Kemudian untuk persoalan sawit, Presiden Jokowi dan PM Mahathir sepakat untuk bersama-sama dalam menghadapi diskriminasi produk kelapa sawit kedua negara oleh Uni Eropa. “Kedua pemimpin memiliki komitmen yang tinggi untuk meneruskan perlawanan terhadap diskriminasi sawit,” tutur Retno.

Dia menjelaskan, Indonesia dan Malaysia memiliki komitmen tinggi dalam isu pengolahan dan pengelolaan sawit yang berkelanjutan. Indonesia juga telah memiliki sertifikasi sawit dan data-data ilmiah yang dapat dipakai untuk perbandingan.

Seperti diketahui, ASEAN dan Uni Eropa telah sepakat membentuk Working Group (WG) on Palm Oil. Indonesia menilai bahwa persamaan persepsi mengenai kerangka kerja WG tersebut penting untuk dilakukan. Tanpa persamaan persepsi dikhawatirkan WG tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.

“Jadi pendekatan kita adalah pendekatan yang terbuka. Mari kita bekerja sama,” tuturnya. Kalau ajakan kerja sama itu tidak direspon baik Eropa, lanjut dia, Indonesia dan Malaysia akan terus melawan.

Sementara itu, selepas kunjungan resmi ke Malaysia, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana langsung bertolak menuju Singapura memenuhi undangan perayaan hari nasional Singapura dari PM Singapura. Selain Presiden Republik Indonesia, Sultan Brunei Darussalam dan PM Malaysia juga diundang serta hadir dalam perayaan. (Jawa Pos/JPG)