Enak-enak Korupsi Dahulu, Jadi Pesakitan Kemudian

Para Pemimpin Asia yang Mabuk Kuasa dan Harta

10
Park Geun-hye

eQuator.co.id – Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak sedang berusaha lepas dari jerat 32 dakwaan korupsi. Namun, dia bukan satu-satunya. Korea Selatan (Korsel) dan Pakistan pun masih mengusut korupsi mantan orang nomor satunya. Sementara itu, Filipina selangkah lebih maju. Berdamai dengan pemimpin korup dan bahkan memberikan kesempatan baru menjadi pejabat.

Najib Razak kedatangan tamu. Sabtu (22/9), sejumlah anggota Badan Perhubungan Pergerakan Pemuda UMNO mengunjungi kediamannya. Foto-foto kunjungan itu lantas diunggah Najib pada laman Facebook-nya. Dalam foto itu, Najib tersenyum lebar. Dia terlihat begitu senang.

“Saya selalu terbuka dan siap berbagi pengalaman tentang apa pun yang sedang terjadi sekarang,’’ tulis Najib sebagai keterangan foto.

Sejak tak lagi menjadi PM, Najib sangat aktif di media sosial. Baik Facebook maupun Twitter. Hampir setiap hari dia memamerkan kegiatannya kepada publik. Memang, yang lebih banyak merespons unggahannya adalah para pendukungnya.

Menurut pria 65 tahun itu, kini media enggan memberitakan dirinya. Jumat (21/9), Najib membayar cicilan pertama uang jaminannya MYR 3,5 juta atau setara Rp 12,5 miliar. Sehari sebelumnya, dia dikenai 25 dakwaan baru terkait dengan skandal korupsi 1 Malaysia Development Berhad (1MDB). Total, kini dia dijerat 32 dakwaan. Di antaranya, pencucian uang, suap, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Najib masih bebas. Dia juga masih tercatat sebagai anggota parlemen yang mewakili Pekan. Dia punya waktu sampai tahun depan untuk memengaruhi opini publik. Karena itu, dia aktif di media sosial. Setidaknya, sampai sidang perdananya pada 12 Februari mendatang, dia masih bisa bermanuver.

Kekhawatiran itulah yang diungkapkan jaksa Gopal Sri Ram Kamis (20/9). Bagaimanapun, Najib adalah mantan orang nomor satu Malaysia. Dia memimpin selama hampir satu dekade dan punya banyak kroni.

Tapi, bagi Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM), Najib bukanlah terdakwa yang berbahaya. Karena itu, SPRM tidak memakaikan rompi oranye atau memborgol istri Rosmah Mansor itu.

“Petugas mempertimbangkan beberapa aspek. Yang paling penting adalah bahaya atau tidaknya terdakwa,’’ ujar Wakil Komisioner SPRM Azam Baki seperti dilansir Free Malaysia Today.

Kendati demikian, Anwar Ibrahim yakin Najib mendekam di penjara nanti. Jika nanti dia menggantikan Mahathir Mohamad sebagai PM pun, Anwar menjamin tak ada ampunan bagi koruptor.

“Bakal sulit baginya (Najib, Red) untuk menghindari penjara,’’ tegas Anwar dalam wawancara dengan Arab News beberapa waktu lalu.

Sembari menunggu sidang, pemerintah Malaysia berfokus mengembalikan aset 1MDB. Yang tengah diincar saat ini adalah pesawat Bombardier Global 5000 seharga 143 juta ringgit (sekitar Rp 513,6 miliar) milik Low Taek Jho alias Jho Low. Selain itu, ada tiga lukisan karya Pablo Picasso, Vincent Van Gogh, dan Claude Monet yang nilainya lebih dari 400 juta ringgit (sekitar Rp 1,4 triliun).

New Straits Times melaporkan, SPRM juga mengincar keuntungan film Wolf of Wall Street dan beberapa properti di berbagai negara yang nilainya diperkirakan mencapai 3,98 miliar ringgit (sekitar Rp 14,29 triliun).

’’Jika aset atau barang-barang tersebut tidak bisa dikembalikan, kami akan berusaha agar diganti dalam bentuk uang tunai,’’ tegas Azam.

Sebelum Malaysia, Korea Selatan (Korsel) sibuk mengusut skandal korupsi mantan presidennya, Park Geun-hye. Perempuan 66 tahun itu kini berstatus narapidana. Tetapi, dia memboikot semua sidang sejak Oktober 2017. Dia menolak hadir sebagai bentuk protes atas penahanannya.

Versi Park, kasusnya telah dipolitisasi. Park bahkan tak hadir saat sidang vonis yang menjatuhkan hukuman 25 tahun penjara untuknya pada April lalu. Selain tak hadir, dia tak mengajukan banding. Dia membiarkan kasusnya berjalan tanpa perlawanan karena dirinya merasa menjadi korban.

Park kali terakhir terlihat publik saat menjalani perawatan kesehatan di St Mary Hospital, Seoul, pada 9 Mei. The Straits Times melaporkan bahwa Park menderita nyeri punggung. Selama di penjara, presiden perempuan pertama dan satu-satunya Korsel itu memang tidur di lantai beralas kasur tipis.

Jika dibandingkan dengan Park, nasib mantan PM Pakistan Nawaz Sharif jauh lebih baik. Rabu (19/9) dia bebas dari penjara. Padahal, dia sudah divonis bersalah terkait dengan skandal Panama Papers. Dia diganjar 10 tahun penjara. Namun, kasusnya lantas ditangguhkan. PM yang masuk jajaran orang terkaya Pakistan itu lantas diizinkan keluar dari bui.

Bebasnya Sharif sempat menjadi perbincangan. Banyak yang menduga Arab Saudi menekan PM Imran Khan untuk membebaskan dia. Sebab, Khan baru pulang dari Riyadh dan kedua negara punya hubungan dekat. Demikian juga Sharif. Dia dan keluarganya punya hubungan dekat dengan Saudi.

Namun, dugaan itu dibantah Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry. ’’Tidak ada negara yang meminta pembebasannya. Nawaz Sharif tidak sepenting itu bagi Saudi,’’ tegasnya.

Chaudhry boleh bilang Sharif tak penting. Tapi, bagi para pendukungnya, dia tetaplah panutan. Dan, dia masih punya banyak pendukung. Apalagi, dia masih sangat kaya. Media Pakistan menyebutkan bahwa kekayaan Sharif mencapai USD 1,4 miliar atau setara Rp 20,76 triliun.

STATUS KORUPTOR TAK MELEKAT SELAMANYA

Joseph Ejercito Estrada adalah bukti nyata bahwa keadilan hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Mantan presiden Filipina itu diganjar hukuman seumur hidup pada 12 September 2007 karena terbukti korup. Namun, pada praktiknya, dia hanya mendekam di bui sekitar satu bulan saja.

Presiden Gloria Macapagal-Arroyo mengampuni Estrada. Pada 22 Oktober 2007, Estrada bebas. Keputusan Arroyo itu jelas membuat geram para jaksa dan penyidik. Mereka merasa kerja keras mereka sia-sia. Apalagi, mereka butuh waktu sekitar enam tahun untuk membuktikan bahwa Estrada bersalah.

”Joseph Ejercito Estrada berada di urutan ke-10 daftar pemimpin paling korup dunia 2004.” Demikian bunyi laporan Transparansi Global 2004. Estrada terbukti menerima suap dari para pengusaha tembakau dan juga bos judi Filipina. Jumlahnya tidak sedikit. Yakni, mencapai USD 85 juta atau setara Rp 1,26 triliun.

Kini, setelah satu dekade lebih berlalu sejak skandal korupsi yang mencoreng nama baiknya, Estrada hidup nyaman. Dia bahkan sudah berpolitik lagi. Tepatnya, menjadi wali kota Manila.

Politikus yang punya nama panggilan Erap itu bahkan akrab dengan rezim yang kini berkuasa. Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-80 pada 19 April 2017, Presiden Filipina Rodrigo Duterte hadir. Acara itu juga dihadiri Arroyo dan keluarga mantan Presiden Ferdinand Marcos.

Hidup Estrada tak jauh dari pesta. Foto-fotonya yang menghadiri jamuan makan mewah banyak tersebar. Pada 5 Juni lalu, dia juga menuai pujian gara-gara menyanyikan lagu Kahit na Magtiis di acara ulang tahun mantan senator Loi Ejercito.

Mantan aktor yang pernah membintangi lebih dari 100 film itu juga merupakan wali kota terkaya di Metro Manila. Berdasar surat pernyataan aset, liabilitas, dan kekayaan miliknya pada 2017 lalu, diketahui Estrada memiliki kekayaan sebesar 274.716.504,32 peso atau setara Rp 75,12 miliar.

Menurut Rappler, kekayaan Estrada naik 14,7 juta peso (sekitar Rp 4,02 miliar) dibanding tahun sebelumnya. Itu terjadi karena Estrada membeli beberapa properti mewah di San Juan City. Tak ada lagi yang mengulik kasus korupsi Estrada. Sebaliknya, saat ini dia adalah salah seorang pejabat terpandang di Filipina. (Jawa Pos/JPG)