Ubah Citra Polsek dengan Kita Mau Kita Bisa

RAMAH: AKP Fitra Zuanda, Kapolsek Ternate Utara yang dikenal dengan pembawaannya yang ramah saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (10/8)

eQuator.co.id – Dekat dengan AKP Fitra Zuanda, Kapolsek Ternate Utara

Hanya dalam kurun waktu dua minggu, tujuh tersangka kepemilikan narkoba diringkus. Empat diantaranya adalah pengedar. Polsek Utara terus menuai prestasi di bawah kepemimpinan AKP Fitra Zuanda.

MAHFUD H HUSEN, Ternate

Kata ramah tak bisa dilepaskan dari sosok Fitra Zuanda. Pria 30 tahun itu memang nyaris selalu tersenyum. Ketika menyambut Malut Post di ruang kerjanya kemarin (10/8), senyum lebar yang khas pun ia pamerkan.

Sudah 1 tahun 2 bulan berlalu sejak AKP Fitra Zuanda dilantik menjadi Kapolsek Ternate Utara. Namun ia masih ingat persis pengalamannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kantornya sekarang. Fitra yang belum mengetahui lokasi Polsek meminta diantarkan seorang tukang ojek. ”Saya awalnya kos di Mangga Dua bersama teman angkatan. Malamnya saya naik ojek ke Polsek Utara sambil bertanya dimana sih Polsek Utara itu? Karena saya kan baru. Akhirnya tukang ojek mengantar saya. Katanya di (Kelurahan, red) Kasturian,” kisahnya.

Setibanya di Polsek, suami Winda Utami ini mengaku prihatin dengan kondisi kantornya. Saat itu Polsek Utara memang belum memiliki bangunan permanen sebagai kantor. Tak hanya itu. Saat Fitra tiba, hanya ada satu anggota yang standby di markas. ”Dia (anggota, red) pakai kaos, celana pendek, sama sandal jepit. Dia juga tidak tahu saya adalah calon Kapolseknya. Jadi saya ajak ngobrol. Dari situ baru dia mulai tahu,” tutur pria kelahiran Metro, Lampung, 11 Juni 1986 tersebut.

Langkah pertama yang ia lakukan pasca pelantikan adalah merehab bangunan Mapolsek Utara. Menurutnya, kondisi bangunan yang tidak memadai akan memengaruhi semangat kerja anggotanya. ”Sarana prasarana juga ditambah. Performa anggota pun diubah. Mulai dari penampilan hingga pelayanan kepada masyarakat,” sambung putra pasangan H Firdaus dan Hj Juhrismiati itu.

Tekad Fitra untuk mengubah Polsek Utara tak hanya dari sisi fisik dan tampilannya saja. Sebelum itu, Polsek ini memang memiliki imej sebagai tempat penampungan anggota ‘buangan’. ”Dulu mungkin mindset-nya, anggota yang bermasalah ditaruh di sini. Tapi sekarang alhamdulillah Polsek Ternate Utara membuktikan diri dengan slogan; Kita Mau, Kita Bisa,” jabarnya.

Di masa kepemimpinannya, sejumlah kasus besar berhasil diungkap Polsek Utara. Seperti

pembakaran SMA Negeri 5 Ternate yang diikuti pencurian uang di brankas sekolah, pembunuhan bayi oleh ibu kandungnya sendiri, penyelundupan satwa langka, penganiayaan berat, hingga kasus percobaan pemerkosaan.

Yang terbaru adalah penangkapan tujuh tersangka narkoba dalam kurun waktu dua minggu saja. Empat diantaranya merupakan pengedar. Bahkan dua diantaranya adalah oknum anggota polisi dan pegawai negeri sipil. Fitra menyambut keberhasilan itu sebagai hasil kerja keras para anggotanya. ”Saya kira pengungkapan tersebut juga tidak mungkin terjadi tanpa dukungan masyarakat. Maka masyarakat perlu lebih terbuka dalam memberikan informasi yang ada di lingkungan masing-masing ke pihak kepolisian,” ujar alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan tahun 2007 tersebut.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini memang tak main-main dalam menjalankan tugasnya sebagai polisi. Sejak kanak, ia sudah ingin menjadi polisi seperti ayahnya yang pensiun dengan pangkat AKBP. ”Saya melihat polisi adalah pahlawan karena melihat bagaimana ayah saya melayani masyarakat dengan senyum. Beliau selalu berpesan agar menjadi polisi yang ramah dan tidak boleh sombong,” tutur Fitra.

Saat duduk di kelas 3 SMA, ia mulai berpikir untuk mengikuti tes calon taruna. Di sisi lain, timbul kekhawatiran jika untuk masuk ke Akpol ia akan membutuhkan biaya besar. Sementara orangtuanya memiliki penghasilan pas-pasan. ”Saya lalu bilang ke orangtua: Papi, Mami, saya mau masuk Akpol. Jadi Papi dan Mami ada duit berapa?” kenangnya.

Pertanyaan itu justru dijawab tangis oleh kedua orangtuanya. Pasalnya, mereka tak punya biaya untuk itu. ”Mereka bilang hanya doa yang bisa mereka kasih,” kata alumnus SMAN 1 Metro itu.

Fitra lalu menyendiri beberapa hari. Tapi tekadnya bulat untuk masuk Akpol. Akhirnya, ia memilih mengikuti beberapa kejuaraan tingkat SMA untuk memperbaiki rekam jejak prestasinya. Ia selalu juara satu dalam kejuaraan tersebut. ”Alhamdulillah, tes pertama tahun 2004, saya berhasil masuk Akademi Kepolisian perwakilan Polda Lampung. Mungkin faktor saya selalu juara itulah yang menjadi nilai plus buat saya,” ucapnya.

Banyak pengalaman berharga yang ia peroleh selama 3,5 tahun mengikuti pendidikan di Akpol. Sifat manjanya di SMA langsung hilang. Ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Gaji pertamanya ia serahkan semuanya pada kedua orangtua. ”Mereka menangis terharu waktu itu. Rasanya bangga sekali,” kenangnya.

Keberhasilannya membawa perubahan di Polsek Utara tak lantas membuat Fitra lupa diri. Ia sadar, masih banyak pekerjaan besar yang menanti ia dan jajarannya. Wilayah kerja yang luas dan keterbatasan jumlah anggota membuat mantan Kasat Intelkam Polres Seruyuan, Kalimantan Tengah ini membutuhkan partisipasi masyarakat luas. ”Saya berharap dan memohon kepada seluruh masyarakat apabila adanya hal-hal yang patut dicurigai di lingkungan, agar melapor ke Polsek atau Babinkamtibmas yang ada di kelurahan” imbaunya.

Mantan Kapolsek KPPP Sampit, Kota Waringin Timur ini juga berterimakasih kepada media atas dukungannya. Ia mengakui, perubahan citra Polri menjadi lebih baik tak lepas dari keberadaan media. ”Media membantu mengubah citra Polri yakni lebih dekat, lebih bersahabat dan selalu diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.(mg-03/kai)