TNI Bakal Pecahkan MURI Tarian Gemu Fa Mi Re

Di Kalbar Libatkan 6.000 Penari

LATIHAN. Peserta melakukan latihan gabungan tarian Gemu Fa Mi Re di Main Apron Lanud Supadio, Rabu (29/8). Penerangan Lanud Supadio for RK

eQuator.co.idSUNGAI RAYA-RK. TNI akan mencatatkan dirinya di Musium Rekor Indonesia (MURI). Dalam rangka HUT ke 73 TNI pada 5 Oktober 2018, akan dilaksanakan tari Gemu Fa Mi Re secara kolosal dengan 300.000 peserta, Selasa (4/9).

TNI di Kalbar juga mengambil peranan. Yaitu dengan melibatkan 6.000 peserta. Tarian Gemu Fa Mi Re di Kalbar di pusatkan di Main Apron Lanud Supadio.

Ketua panitia , Kolonel Pnb Sidik Setiyono, menjelaskan, para peserta yang akan berpartisipasi terdiri dari tiga matra TNI di Kalbar. Yaitu TNI AU (Lanud Supadio), TNI AD (Kodam XII/Tanjungpura) dan TNI AL (Lantamal XII Pontianak). Kemudian diramaikan pelajar sekolah-sekolah binaan TNI, organisasi kepemudaan dan masyarakat.

Perwira menengah TNI AU yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Personel Lanud Supadio ini memaparkan, latihan juga diikuti Persatuan Istri Prajurit masing-masing matra. Yaitu Persatuan Istri Prajurit TNI AD (Persit) Kartika Candra Kirana Kodam XII/Tanjungpura, Persatuan Istri TNI AL Jalanesastri Lantamal XII Pontianak, dan Persatuan Istri Anggota (PIA) Ardhya Garini Cab 19/D.I Lanud Supadio. “Untuk Kota Pontianak, Lanud Supadio sebagai tuan rumah penyelenggara. Nantinya akan ada 6.000 peserta,” tuturnya.

Kegiatan ini akan live se Indonesia. Total peserta mencapai 300.000. Pemecahan MURI tarian Gemu Fa Mi Re tersebut, mereka sudah latihan gabungan. Kegiatan ini jadi simbol kebersamaan antara TNI di tiga matra dan masyarakat secara umum. “Alhamdulillah, latihan pertama berjalan lancar. Semua peserta sangat bersemangat melakukan gerakan-gerakan dasar tari Gemu Fa Mi Re. Semoga saat pelaksanaan, bisa sukses,” pungkas Sidik.

Ditambahkan Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Supadio, Letkol Sus Filfadri, TNI sebagai salah satu komponen bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tentunya banyak bersinggungan dengan adat istiadat dan budaya daerah. Pencatatan atau pemecahan MURI tarian Gemu Fa Mi Re yang merupakan tari kresi pergaulan berasal dari Maumere Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Inti gerakan tariannya bersumber dari tarian Hegong, yang merupakan tarian tradisional Maumere.

“Setiap prajuit TNI dan keluarganya harus mampu memahami dan terlibat langsung dalam upaya pelestarian budaya tradisional daerah,” ujarnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat. Tak terelakan dapat mengubah lini kehidupan masyarakat Indonesia, di antaranya budaya. Mudahnya budaya asing masuk, sehingga budaya daerah tergilas. Hal ini dilihat adanya perubahan tingkah laku, cara berpakaian, pergaluan dan karya seni yang dihasilkan generasi muda bangsa. Nah, kegiatan tersebut sebagai wujud melestarikan seni budaya tradisional Indonesia.

“Untuk itu, perlu adanya melestarikan dan mengembangkan budaya tradisional daerah sebagai wujud kecintaan kita terhadap tanah air, bangsa dan negara,” tutur Sus Filfadri.

 

Laporan: Ambrosius Junius

Editor: Arman Hairiadi