Tak Berdaya, Kesannya Warga Miskin Dilarang Sakit

Bocah Bengkayang Derita Penyakit Aneh

DERITA PENYAKIT ANEH. Pengusaha Bengkayang, Edison alias Akong saat menjenguk Jeri Saputra yang didampingi Liswawati Angit, Ibunya. KURNADI

eQuator – Bengkayang-RK. Program pemerintah meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, masih jauh dari harapan. Program kesehatan gratis yang dijanjikan, tidak menyentuh semua warga miskin.

Begitu juga program Askes, BPJS, Jamkesmas, Jamkesda dan lainnya, ternyata tidak menyentuh hingga ke pelosok desa. Sepertinya orang miskin dilarang sakit.

Sebagaimana diderita Jeri Saputra, kelahiran Sentagi Dalam, 12 Desember 2006 lalu. Bocah sembilan tahun itu menderita penyakit aneh. Karena terbelenggu kemiskinan, hidup sehat jauh dari harapannya.

Jeri merupakan putra pasangan Stepanus Apan, 40, dan Liswawati Angit, 35, warga Dusun Sentagi Dalam, Desa Bani Amas, Kota Bengkayang. Penyakit aneh yang diderita Jeri sudah berlangsung sejak dia berusia delapan bulan. Tak terbayang menderita sakit selama delapan tahun empat bulan, sungguh menyiksanya.

Apan dan Angit tak berdaya. Kedua orangtuanya ini sudah malang-melintang membawa anaknya berobat. Mulai dari dukun, Puskesmas, mantri dan rumah sakit. Bahkan di rumah sakit elit di Kuching Borneo Medical Centre—Malaysia. Namun anaknya belum ada tanda membaik. Bahkan belum diketahui penyakit yang diderita Jeri.

Ketika dijumpai di kediamannya yang gubuk, tepat 1 Km dari Kantor Camat Bengkayang, Jeri sedang asik bermain bersama anak usianya. Bocah itu dipanggil dan dipeluk ibunya, sambil menyuruhnya menyampaikan keluhan sakit yang dideritanya di hadapan wartawan Rakyat Kalbar.

Usia sembilan tahun, berat Jeri hanya 13 Kg dengan tinggi tak lebih dari 1,1 meter. Dia begitu terlihat menderita akibat penyakit aneh yang merenggutnya. Jeri terlihat sangat kurus, kuku di jari kaki dan tangannya membengkak, matanya cekung, perutnya membengkak, dadanya membusung. Gusinya meleleh dan giginya menghitam akibat serangan penyakit aneh. Saat diperiksa di RS Borneo Medical Centre Kuching, diduga dia menderita penyakit kelainan jantung.

Jeri dilahirkan dalam keadaan normal. “Dia lahir dengan jasa Bidan Ningsih, kini menjadi bidan di RSUD Bengkayang,” kata Angit.

Ibu enam anak ini mengaku juga belum memiliki BPJS. Dia tidak tahu cara mengurusnya. Suaminya hanya berpenghasilan tak lebih dari Rp20 ribu per hari. Hanya menyadap atau menoreh karet, plus gaji upahan bekerja di sawah dan ladang tetangganya.

Stepanus Apan dan Lisawati Angit cukup lega. Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja bertemu pengusaha Bengkayang yang dikenal dermawan. Dialah Edison yang biasa dipanggil Akong.

“Saya terharu melihat kondisi Jeri dan kehidupan orangtuanya,” kata pengusaha plontos ini.

Menurut Akong, pertemuannya dengan orangtua Jeri juga tidak diduga. Sepulang dari kebunnya, di perjalanan bertemu Jeri bersama ayahnya, Apan. “Apan berjalan kaki dengan anaknya, terlihat sedikit aneh,” ujar Akong.

Beberapa langkah berjalan di hadapannya, Jeri tiba-tiba membungkuk, dipapah ayahnya. “Ternyata penyakit Jeri saat itu sedang kumat,” katanya.

Akong menghentikan kendaraannya, singgah melihat keadaan anak di hadapannya. “Ada apa Pak?” tanya Akong kepada Apan.

Apan pun menceritakan kondisi kesehatan anaknya yang penyakitnya kambuh. Akong dan Apan pun berbincang membahas penyakit Jeri, sambil menuju Sentagi Dalam, kediaman bocah tersebut.

Inisiatif sendiri, pada 20 November 2015 lalu, Akong membawa Jeri bersama orangtuanya berobat ke RS Borneo Medical Centre di Kuching Sarawak—Malaysia Timur. Setelah melewati jalan panjang sekitar tiga jam melalui perbatasan Jagoi Babang-Serikin, mereka pun tiba di rumah sakit megah milik Jiran itu. Jeri langsung didaftarkan dan diperiksa. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, Jeri harus mendapatkan pertolongan dengan cepat. Bocah malang ini mesti secepatnya dioperasi. Menurut dokter di RS Borneo Medical Centre, hanya bisa dilakukan di RS Kuala Lumpur, RS Harapan Kita Jakarta dan salah satu RS di India.

Akong khawatir, virus yang menggerogoti tubuh Jeri bisa merontokkan seluruh gusinya, jatuh dan tertelan atau masuk ke paru-paru. Sudah dipastikan akan membahayakannya. “Ini yang dikatakan dokter di RS Kuching,” jelas Akong.

Akong meminta Pemkab Bengkayang segera bertindak. Program kesehatan gratis, seperti BPJS atau lainnya, harus diarahkan kepada Jeri. Kepala Desa Bani Amas, Dinas Kesehatan, Camat Bengkayang juga instansi terkait lainnya harus memberikan pertolongan, menyediakan program yang dapat membantu Jeri. “Saya berharap anak ini sembuh dari penyakitnya,” harap Akong.

Kini orangtua Jeri Saputra hanya bisa pasrah. Apalagi biaya operasi anaknya itu menelan biaya Rp200 juta. “Saya tanya berapa biaya operasi, katanya segitu, 200 juta,” keluh Apan, ayah Jeri.

Apan berterima kasih kepada Akong yang berbaik hati membawa anaknya berobat ke Kuching. Namun ayah enam anak ini butuh solusi dari Pemkab Bengkayang. Dia menginginkan anaknya punya harapan hidup, bisa sekolah dan sukses ke depannya. “Anak saya baru duduk di kelas 2 Sekolah Dasar Negeri 2 Bengkayang, gimana dia bisa sekolah, kalau kondisinya seperti ini,” ungkap Apan.

 

Laporan: Kurnadi

Editor: Hamka Saptono

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.