Singapura Siap Bantu Indonesia

eQuator.co.id – SINGAPURA-RK. ASEAN harus bekerja sama melawan kabut asap lintas batas yang saat ini terjadi saat ini. Akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Ada kebutuhan untuk tekad yang lebih kuat dan kerja sama di antara negara-negara ASEAN untuk mengatasi masalah kabut lintas batas,” kata Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifli dalam sebuah unggahan di Facebook akhir pekan ini.

Dia mengkhwatirkan kualitas udara di negara tersebut yang semakin memburuk. Indeks Standar Pencemar 24-jam (PSI) Singapura pada hari Sabtu (14/9) mencapai level tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Agustus 2016. Dengan angka melampaui angka 100 pada jam 4 sore.

“Kembalinya kabut asap adalah pengingat akan keseriusan masalah, yang telah mempengaruhi kawasan ASEAN selama bertahun-tahun. Keduanya mencemari udara yang kita hirup dan mengeluarkan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim,” sambung Masagos.

“Inilah sebabnya mengapa ada kebutuhan untuk penyelesaian dan kerja sama yang lebih kuat antara negara-negara ASEAN dan para pemangku kepentingan, untuk mencapai visi kami tentang ASEAN yang bebas kabut asap pada tahun 2020,” tambahnya.

Masagos lebih lanjut menjelaskan bahwa Singapura telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memerangi kebakaran hutan di sana. “Seperti biasa, kami siap membantu menekan api di darat. Singapura telah menawarkan bantuan teknis pemadaman kebakaran ke Indonesia dan siap untuk menyebarkannya jika diminta oleh Indonesia,” tegasnya, seperti dimuat Channel News Asia.

Sementara itu, Pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan 300 sekolah di Negara Bagian Johor kemarin (15/9)  Kepala  Departemen Pendidikan Negara Bagian Johor Azman Adnan mengatakan hal tersbeut memperngaruhi 90 ribu siswa di wilayah Muar, Tangkak, dan Pontian.

”Berdasarkan API yang sudah menembus 200, sesi belajar di beberapa sekolah akan dibatalkan,” ungkapnya Sabtu lalu (14/9) menurut The Strait Times. Di Johor, sekolah libur hari Jumat dan Sabtu dan masuk kembali hari Minggu.

Wakil Menteri Energi, Sains, Teknologi, Lingkungan dan Perubahan Iklim (MESTECC) Isnaraissah Munirah Majilis mengatakan bahwa Malaysia bakal memulai program hujan buatan sebagai solusi jangka pendek. Dia berharap bahwa kondisi angkasa Malaysia bisa mendukung upaya tersebut.

”Penyemaian awan hanya bisa dilakukan jika memang kondisi awan memenuhi persyaratan. Semoga besok suasana mendukung,” ungkapnya kepada Channel News Asia.

Hingga kemarin pukul 15.00 waktu lokal, Air Pollutants Index (API) di Johhor mencapai 258 alias sangat berbahaya. Tolok ukur Malaysia memang berbeda dengan Indonesia yang menggunakan Pollutants Standards Index (PSI).

Isnaraissah mengatakan, pemerintah Malaysia pun sudah menawarkan bantuan kepada pemerintah Indoensia memadamkan hutan. Namun, tawaran itu belum mendapatkan respon. ”Kita perlu harus menangani akar dari masalah asap ini. Hujan buatan hanya akan mengurangi tapi asap akan kembali,” ungkapnya. (RMOL)