Sekelompok Mahasiswa IAIN Pontianak Tolak Kenaikan

Kondisi Lagi Susah, UKT Harus Naik

TOLAK UANG KULIAH NAIK. Demonstrasi di IAIN Pontianak yang dilakukan mahasiswa setempat menolak kenaikan UKT, Senin (15/7). Rizka Nanda-RK

“Tetapi kita juga menjaga marwah kampus ini, orang tidak lulus dari tempat lain lari ke IAIN Pontianak, tak mampu bayar juga ke sini, di mana marwah kita?” – Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Pontianak, Firdaus Achmad

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Birokrat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menaikkan uang kuliah tunggal (UKT) lagi. Sekelompok mahasiswa bereaksi, puluhan menolak kebijakan terbaru yang dikeluarkan itu, Senin (15/7).

“Aksi solidaritas itu sudah melakukan pertemuan dengan pihak birokrat kenapa bisa ada kenaikan UKT sampai jenjang 2, 3, 4. Hasilnya hanya dapat penjelasan, jadi kita kembali lagi harus ada tindakan konkrit,” ujar Koordinator Lapangan Aksi, Jamal Saputra kepada awak media.

Kata Jamal, aksi ini sindiran sekaligus ungkapan belasungkawa atas kenaikan UKT di IAIN Pontianak. “UKT itu Rp4 jutaan, tapi yang menjadi keberatan itu UKT 1 sampai 4 itu belum finish, bisa berubah. Kenapa harus diterapkan kalau belum finish?” sesalnya.

Menurut Jamal, IAIN Pontianak regional Kalimantan merupakan perguruan tinggi termahal dibanding IAIN se Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga menilai tidak ada transparansi mengenai penetapan UKT itu.

“Kemudian yang menjadi keberatan itu, orang tua sudah kena pajak di luar. Di kampus kena pajak lagi kenapa tidak dibikin di NPWP sekalian,” tuturnya.

Penetapan UKT terbaru tidak disosialisasikan sama sekali. Bahkan tidak ada dalam rapat senat. Sementara ini ditetapkan untuk semester baru. Ada jenjangnya 1 2 3 4. Untuk UKT 1 Rp0-Rp400 ribu dan terbanyak sampai Rp4juta.

“Kalau IAIN lain masih sekitar Rp1,3 juta,” katanya.

Jamal minta para birokrat kampus tidak menerapkan kebijakan hanya sekedar uji coba saja. Hal ini bisa berujung pada tidak tercapainya target 2.000 mahasis baru tahun 2019.

“Target dari Rektorat dua ribu mahasiswa. Yang login 1000 dan yang daftar ulang sekitar 300. Jadi target itu bakal nihil.  Kalau bisa UKT 2018 ditetapkan lagi karena itu kajian tahun kemarin. Besarannya yang terbesar Rp2,7 juta itu cukup layak,” ujar Jamal.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Firdaus Achmad, menepis anggapan kalau penetapan UKT baru dilakukan secara tiba-tiba. Sudah berdasarkan hasil kajian terhadap kebutuhan pengelolaan pembelajaran dari masing-masing program studi.

Saat ini IAIN Pontianak sedang dalam proses pengembangan dan pembangunan. Tentu menuntut pembiayaan yang besar. Karena itu dilakukan kajian untuk bisa mendukung semua program yang sudah dirancang oleh universitas.

“Memang konsekuensinya ada kenaikan UKT. Tapi kalau kita bandingkan dengan perguruan tinggi lain, nilai UKT yang ada di IAIN masih terhitung rendah. Misalnya 3,2 juta itu UKT di Untan mungkin masih masuk UKT 2 di IAIN, itu sudah masuk UKT 3 dan 4” jelas Firdaus.

Ia tak menampik kondisi saat ini Universitas butuh biaya lumayan besar. Sementara pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan kepentingan pembiayaan itu. Oleh karena itu pilihan yang paling berat adalah kenaikan UKT. Itu juga akan digunakan untuk biaya pengelolaan.

Kata dia, akreditasi tidak bisa tembus sampai A karena salah satu unsur yang rendah adalah penimbangan antara dosen dan mahasiswa. Setiap diajukan formasi penerimaan dosen, misalkan akan diajukan 100 maka pihaknya hanya dapat 50 persen saja.

“Jalan keluar yang bisa kita tempuh menggunakan tenaga dosen non PNS yang harus kita biayai. Kemudian pengelolaan yang lain, seperti fasilitas, sarana, IAIN sedang mencoba menjadikan kampus yang classroom digital,” ungkapnya.

Firdaus menjelaskan UKT itu ada tingkatannya. IAIN Pontianak ada 1 sampai 4. Jika ingin mendapatkan UKT 1 memang ada persyaratan khusus. Seperti melampirkan penghasilan orangtua, rekening listrik dan air. Jika betul-betul tidak mampu itu harus disertai dengan surat keterangan tidak mampu.

“Saya baru dengar kalau IAIN Pontianak itu UKT termahal. Dalam pertemuan justru kita termurah,” tuturnya, “Setiap semester cara menghitungnya penghasilan saya lebih rendah dibanding UKT. Misalkan penghasilannya 1,2 sementara UKT anak 3 juta. Itu kan pembayarannya enam bulan sekali,” tambahnya.

Pihaknya akan mengundang para mahasiswa yang demo  untuk dialog terbuka. Rencananya Rektor akan menundang mahasiswa dan rembukkan sama-sama.

“Perubahan belum bisa dipastikan,” ucapnya.

Logikanya, kata Firdaus, UKT ini diperuntukkan kepada mahasiswa baru, yang bersuara itu mahasiswa lama. Kemudian ia menilai ada hal yang miris dari mahasiswa.

“Dia mencoba mempertanyakan kebijakan itu lewat demo-demo. Padahal dia bisa berdialog secara terbuka dengan pimpinan,” ujarnya.

Ditegaskannya kepada seluruh staf penerimaan mahasiswa baru untuk jangan pernah ucapkan kalimat bernuansa non humanisasi. “Tetapi kita juga menjaga marwah kampus ini. Orang tidak lulus dari tempat lain lari ke IAIN Pontianak, tak mampu bayar juga ke sini. Dimana marwah kita? Semestinya mereka dialog secara terbuka dulu. Yang kedua dia bantu lembaga ini mencari jalan keluar,” pungkas Firdaus.

 

Laporan: Rizka Nanda

Editor: Mohamad iQbaL