Sambil Gendong Bayinya, Jumarti Nangis Gemetaran

Atap Beterbangan, Rumah Tergenang

15
BETULKAN ATAP. Jecky dibantu rekannya sedang menaikkan seng untuk membetulkan atap rumahnya yang rusak akibat puting beliung di Gang Rawasari 1A Jalan Sultan Syahrir Pontianak, Kamis (29/11). Maulidi Murni-RK

eQuator.co.idPONTIANAK-RK. Rabu (28/11) siang menjadi peristiwa menegangkan bagi Jumarti, 33. Bagaimana tidak, kediamannya warga Gang Rawasari 1A Jalan Sultan Syahrir Pontianak ini rusak berat akibat diterpa puting beliung disertai hujan deras.

Diceritakan Jumarti, kejadian sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, ia bersama bayinya yang berusia dua tahun sedang tidur di lantai bawah. Tiba-tiba teras angin begitu kuat. Ketika bangun, ia melihat rumahnya sudah tergenang. Lantaran lantai dua rumahnya jebol.
“Ada bunyi geruduk-geruduk, tak tahu di lantai atas rupanya jebol,” jelasnya ketika ditemui di kediamannya.
Untuk memastikan, Jumarti naik ke lantai dua. Lantaran atap jebol, air hujan teus mengucur deras masuk ke dalam rumah. “Saat lihat itu, saya nangis dan gemetar,” kisahnya.
Walau rumah sudah rusak, ia tak bergeming. Bersama bayinya ia menahan diri di dalam rumah. Badannya terasa lemah. Apalagi bayinya terus menangis lantaran takut.
Saking kencangnya puting beliung yang disertai hujan deras, rumah tetangga Jumarti berjarak sekitar 3 meter di depan kediamannya tak terlihat. Angin kencang tersebut seperti awan hitam.

Sambil menangis dan gemetaran, Jumarti terus menggendong bayinya. Ia mencoba menghubungi suaminya Jecky, yang sedang berkerja. Namun beberapa kali ditelepon, suami tidak menjawab. “Akhirnya suami nelpon balik, dan dia langsung pulang,” tutup Jumarti.
Saat pulang, Jecky hanya bisa pasrah melihat kondisi rumahnya. “Rumah banjir, dek pada rontok, mau diapain lagi,” ujar Jecky.
Puting beliung menerbangkan seng-seng rumahnya. Dibantu rekannya, Jecky berusaha memperbaiki atap dan mengganti seng kediamannya. “Saya beli sekitar 10 seng, ada juga sebagian yang masih bisa dipakai,” jelasnya.
Sementara alat-alat elektronik, dia belum bisa memastikan apakah rusak terkena hujan. Karena ia belum coba menyalakannya. Namun yang pasti, tempat tidur di lantai atas dan bawah basah semua. Bahkan bohlam lampu semuanya terisi air.  “Saya malamnya ngungsi di rumah depan (tetangga). Hari ini kita bersih-bersih dan betulkan seng,” tuntas Jecky.
Kejadian sama dialami Rudi, warga Gang Rawasari lainnya. Kendati jarak lokasi Rudi dan Jecky cukup berjauhan, puting beliung juga menghantam rumahnya. “Awalnya cuaca bagus, tiba-tiba gerimis, setelah gerimis hujan lalu deras,” ujar pria 46 tahun ini.
Ketika hujan deras tanpa selang waktu lama terdengar bunyi gemuruh angin berputar. Dia lalu mencoba membuka pintu depan rumah untuk melijat kondisi di luar. “Angin dari sana (depan rumah) udah berputar, saya tidak berani lalu, saya tutup pintu,” jelasnya.
Saat menutup pintu, Rudi masih sempat bertahan di ruang tamu. Terdengar bunyi seng terangkat. Pikirnya hal tersebut sangat berbahaya, sehingga dia meninggalkan ruang tamu menuju belakang. “Dak lama seng terangkat, sama kaca-kacanya. Kalau saya di situ (ruang tamu) mungkin bisa ikut berputar kali, kejadian dalam hitungan detik,” ungkapnya.
Dijelaskannya, saking kuatnya angin, kaligrafi dan foto-foto di dinding berhamburan pecah. Ditambah kondisi rumah ketika itu dalam keadaan banjir. Jaringan listrik juga dalam padam.
Dia melihat dari balik kaca bagian samping rumah. Angin tampak bergerak ke arah belakang. Wujudnya seperti batang pohon dan berwarna hitam. “Lalu dak ada suara gemuruh lagi, hanya hujan saja,” ucapnya.
Rumah Rudi rusak parah. Bagian teras dan ruang tamu sudah tak ada seng lagi. Bahkan kayu ada yang lepas. Sebagian di ruang tengah dan dapur atapnya ada yang terlepas juga.
Ketua RT 4/RW 7 Gang Rawasari Zulkarnain Abdurrahman menyebutkan ada 19 rumah warganya yang rusak akibat musibah itu. Namun yang paling para ada lima rumah. Rusaknya kebanyakan pada bagian atap. “Rusaknya di bagian atap, bahkan deknya juga ada yang jebol,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.
Dia menceritakan, saat kejadian angin memang menderu-deru dari depan rumahnya. Angin kencang disertai hujan deras itu mengangkat apapun yang dilewatinya. “Saya lagi mau nutup lalu terlempar,” kisahnya.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Kejadian ini baru pertama kali menimpa pemukiman mereka.
“Rumah saya tidak rusak begitu parah, hanya beberapa seng di bagian depan rumah terlepas akibat material dari rumah tetangga yang terbang menghantam rumah saja,” tutur Zulkarnain.
Mengetahui ada musibah puting beliung, Pemerintah Kota Pontianak langsung melakukan pendataan. Bantuan konsumsi kepada warganya langsung diberikan pada hari itu. Sebagian warga yang terkena musibah ada yang mengungsi di rumah keluarga masing-masing.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bahkan turun ke lokasi bencana. Secara simbolis, Edi menyerahkan bantuan seng kepada pemilih yang rumahnya rusak. “Memang akhir-akhir ini cuaca di Kota Pontianak disertai angin kencang dan hujan lebat,” jelas Edi.
Sebenarnya kata dia, hujan deras dan angin kencang ada rute-rutenya dibeberapa titik. Maka ia mengaku terkejut, karena biasanya musibah serupa sering terjadi di kawasan Pontianak Timur dan Pontianak Utara. “Ini memang tidak bisa kita ketahui pastinya,” ucapnya.

Edi berharap warga selalu mengantisipasi kejadian alam serupa. Terutama rumah yang tidak permanen. “Takut atap dan kayunya nimpa pemilik rumah,” cemasnya.
Oleh sebab itu, Edi mengimbau seluruh warga Kota Pontianak untuk mengecek kembali rumahnya. Apabila cuaca tidak memungkinkan, hujan disertai angin kencang agar tidak berada di bawah pohon atau rumah semi permanen. Apalagi kondisi rumah sudah tua, atap dan bahan-bahannya banyak lapuk.
Puting beliung kemarin tak sekedar merusak rumah-rumah warga. Billboard juga ada yang tumbang. Agar tak terulang, Edi minta pemilik billboard di Kota Pontianak untuk mengeceknya kembali.
“Untuk fasum yang rusak akibat billboard yang tumbang, mereka harus mengganti rugi, mungkin kita sanksi. Karena bikinnya asal-asal. Sebelum bikin, kan udah ada perhitungan terhadap angin,” tegas Edi.

 

Laporan: Maulidi Murni

Editor: Arman Hairiadi