Posko Gabungan Lawan Kebakaran Lahan dan Bencana Asap Dibentuk

Butuh Setidaknya Rp12.250.000 Sehari

18
BENTUK POSKO. suasana pembentukan posko gabungan di kantor BPBD Kota Pontianak, Senin (20/8). Bangun Subekti-RK
BENTUK POSKO. suasana pembentukan posko gabungan di kantor BPBD Kota Pontianak, Senin (20/8). Bangun Subekti-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Berawal dari ngobrol ringan di WhatsApp, sejumlah relawan kemanusiaan berkumpul. Dan mendirikan Posko Gabungan untuk penanggulangan bencana kebakaran dan asap yang terjadi saat ini. Di markas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Senin (20/8).

“Kondisi asap dan abu yang makin hari kian mengkhawatirkan, membuat teman-teman pegiat sosial dan masyarakat terpanggil untuk bergerak membantu pemerintah menanganinya,” ungkap Awaluddin Razab, koordinator Komunitas Mulia Hati, sekaligus Koordinator Unsur Masyarakat pada Posko Gabungan saat diwawancarai Rakyat Kalbar.

Imbuh dia, “Bergerak dari keinginan yang sama ini kemudian digagas pertemuan antara masyarakat yang terdiri dari perorangan, relawan, lembaga sosial dan pemerintah yang diwakili BPBD Kota Pontianak”.

Baca Juga: Kabut Asap Lumpuhkan Pendidikan Kubu Raya

Hasil dari pertemuan itu: semua pihak sepakat untuk bersama saling bantu dalam menangani masalah kebakaran lahan dan kabut asap. “Dengan sumber daya yang ada di masyarakat,” tutur Awal, karib dia disapa.
Ia menjelaskan mengenai langkah tim untuk sepuluh hari kedepan. Ini dilakukan mengingat kondisi saat ini sudah sangat darurat.

Langkah pertama yaitu supply logistik tim pemadam. Ini berupa dana yang dibutuhkan tim pemadam untuk bekerja.
“Kami kalkulasikan biaya untuk 5 tim pemadam berjumlah Rp2.250.000/hari. Kedua yaitu supply air tangki. Kami butuh air tangki sebanyak 800 kubik tiap harinya dengan dana Rp10 juta perhari,” jelasnya.
Langkah ketiga adalah rekrutmen dan pelatihan relawan. Ini dijadwalkan sekitar tanggal 23 Agustus nanti.

“Keempat yaitu pembagian masker dan terakhir yaitu mengajak para ulama untuk melaksanakan sholat Istisqo’ (minta hujan),” papar Awal.
Pemerintah Kota Pontianak, melalui BPBD-nya, menyambut baik gagasan ini. Apalagi saat ini BPBD tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai para pemadam yang selama ini terus berjuang.

“Untuk anggaran, BPBD mengatakan mereka punya. Tapi anggaran itu tidak cukup untuk dipakai terus untuk pendanaan tenaga pemadam. Maka dari itu, kami akan menggunakan jalan crowdfunding atau pengajuan dana kepada pihak yang bisa dijadikan sponsor. Pemerintah sendiri menyambut baik gagasan ini,” bebernya.

Baca Juga: Kabut Asap, Produk Indonesia Bisa Diboikot

Ia berharap, masyarakat tergugah kepeduliannya bahwa Karhutla dan dampaknya adalah masalah bersama. Perlu saling mengingatkan, mewaspadai, menanggulangi, dan menunjukkan —jika ada bukti-bukti kesengajaan oknum pemilik lahan.

Kedua, pemerintah memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat tentang kondisi nyata, dampak, dan tindakan yang perlu diambil oleh setiap individu. Ke depan, pemerintah perlu memberikan peringatan dini kebakaran lahan ketika musim kemarau mulai tiba.

“Terakhir, ada tindakan nyata bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan, karena selama ini belum nampak langkah hukum yang tegas, Kami ingin ada efek jera bagi semua pelakunya,” pungkas Awal.

Laporan: Bangun Subekti
Editor: Mohamad iQbaL