Kabut Asap Lumpuhkan Pendidikan Kubu Raya

7
Kabut Asap

eQuator.co.id – Kubu Raya-RK. Setakat ini kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalbar khususnya di Kabupaten Kubu Raya kian mengkhawatirkan.

Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, asap tebal mulai mengancam kesehatan warga. Merespons hal itu, Pemerintah Kubu Raya meliburkan aktivitas sekolah. Mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD dan SMP. Libur dimulai pada 20-21 Agustus dan masuk kembali pada 23 Agustus 2018.

“Memperhatikan kondisi cuaca yang tidak sehat sebagai akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan, maka Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan meliburkan siswa PAUD, TK, SD dan SMP. Mulai tanggal 20 dan 21 Agustus dan masuk kembali pada tanggal 23 Agustus 2018,” ujar Bupati Kubu Raya, H Rusman Ali, Senin (20/8).

H Rusman Ali menyebut di Kabupaten Kubu Raya cukup banyak petani yang menerapkan sistem ladang berpindah. Namun teknik yang dipergunakan dalam membuka lahan seringkali dengan cara membakar. Akibatnya udara tercemar bahkan berpengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan.

“Yang paling enak itu membakar. Untuk itu, saya mohon kepada semua tokoh masyarakat. Mulai dari kepala desa, RW hingga RT tolong disampaikan kepada masyarakat atau teman-teman petani. Tolong jangan membakar. Ini waktu-waktu yang rawan. Waktu-waktu yang sangat mengerikan,” ucap H Rusman Ali.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya memetakan sebanyak 18 desa yang masuk kategori rawan terjadi karhutla. Ke-18 desa tersebut tersebar di beberapa kecamatan. Yakni, Kecamatan Sungai Raya, Kecamatan Rasau Jaya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kecamatan Kuala Mandor B, Kecamatan Kubu dan Kecamatan Terentang.

“Desa-desa yang dikategorikan rawan karhutla. Di antaranya, Sungai Raya, Sungai Raya Dalam, Arang Limbung, Limbung, Madu Sari, Teluk Bakung, Pancaroba, Rasau Jaya Umum, Rasau Jaya 1, Terentang Hilir dan Seruat. Kebanyakan desa yang kategori rawan karhutla ini memiliki tekstur tanah gambut cukup tebal yang mudah terbakar,” ujar Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPBD Kubu Raya, Sulistiono.

Sulistiono menyatakan, api yang timbul lebih dominan dikarenakan ulah manusia yang membakar dengan sengaja. Dengan tujuan membuka lahan dan hal tersebut kerap terjadi.

“Seperti kemarin sore di Desa Limbung pelaku pembakar lahan tertangkap saat akan memulai membakar lahan. Beruntung api belum membesar, sehingga dengan cepat bisa dipadamkan,” tuturnya.

Reporter: Syamsul Arifin

Redaktur: Andry Soe