Pemkot Harus Ubah Mindset, Tak Selalu Eksplorasi SDA

Wali Kota/Wakil Wali Kota se Kalimantan Kumpul di Singkawang

14
RAKER. Sutarmidji membuka Raker ke-4 Apeksi se-Kalimantan di Dayang Resort Singkawang, Kamis (27/9). Suhendra-RK

eQuator.co.id – Singkawang-RK. Singkawang menjadi tuan rumah Rapat Kerja (Raker) ke 4 Komisariat Wilayah V Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi). Kegiatan yang diikuti Wali Kota/Wakil Wali Kota se Kalimantan ini dibuka Gubernur Kalbar Sutarmidji di Dayang Resort, Singkawang, Kamis (27/9).

Sutarmidji mengatakan, pemerintah kota (Pemkot) yang ada di Kalimantan harus mengubah pola pemikiran. Tidak selalu berpikiran tentang eksplorasi sumber daya alam (SDA) saja. Namun harus ada perubahan pemikiran konsep pembangunan daerah dengan cara menggali pariwisata yang ada di setiap kota di pulau Kalimantan. “Karena SDA bisa habis,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Midji ini mengatakan, dengan mengubah pola kelola pariwisata dan kebudayaan, maka pembangunan di kota tersebut akan maju berkembang. Dia mencontohkan, saat ini Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Pontianak naik hampir Rp500 miliar dari sebelumnya hanya Rp63 miliar.

“Nah, untuk menjadikan kota jasa, dengan cara meningkatkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Mengeklpoitasi pariwisata dan memiliki satu data di setiap OPD guna meningkatkan percepatan pembangunan bagi pemeritah kota setempat,” paparnya.

Di era otonomi daerah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Pemda dalam merencanakan pembangunannya. Pemda dapat menentukan sektor-sektor prioritas sesuai dengan pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan. Ini diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

“Pembagian kewenangan didasarkan pada kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antartingkat pemerintahan,” lugas Midji.

Sementara itu, Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, wilayah yang dipimpinnya memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. Seperti sektor pariwisata.

“Kalau dari segi alam kita ada gunung, pantai yang sudah terkenal pasir panjang, rindu alam, taman bugenvil,” ujarnya.

Sementara dari segi budaya, Kota Singkawang memiliki Capgome. Budaya masing-masing etnis lainnya juga ada. Pihaknya saat ini sedang gencar melakukan berbagai event. Melalui acara, agenda dan event budaya ini, bisa dijadikan sebagai ajang promosi wisata Kota Singkawang. “Saya pikir kalau dengan mendatangkan orang dan melalui event itu lebih cepat untuk menyampaikan potensi wisata kepada masyarakat luas,” tutur Tjhai Chui Mie.

Wakil Ketua Dewan Apeksi Bidang Ekonomi dan Keuangan, Rizal Effendi mengatakan, satu di antara strategi Indonesia untuk memperkuat nilai rupiah adalah menggenjot sektor pariwisata. Terutama mendatangkan turis mancanegara. Hal ini dilakukan seraya pemerintah mengimbau warga Indonesia agar tidak berpergian ke luar negeri, kecuali terpaksa.

“Karena kalau warga Indonesia berangkat ke luar negeri, maka tentu akan membeli dolar. Kalau turis datang, maka membawa dolar dan itu akan menguatkan nilai rupiah,” terangnya.

Maka, kata Rizal, Raker Apeksi ini sangat penting. Karena bisa mengubah pola pemikiran untuk mengembangkan wisata yang green pollution atau juga wisata yang diwarnai dengan konsep pembangunan budaya di Singkawang. Yang dikenal dengan istilah Tidayu atau Tionghoa, Dayak dan Melayu. “Sehingga etnis ini kalau kita kembangkan bersama-sama sangat memperkuat sektor pariwisata di Kalimantan,” ujarnya.

Laporan: Suhendra

Editor: Arman Hairiadi