Padupadan Warna Kulit dan Busana

Jangan Lebih dari 3 Warna

13
Jangan Lebih dari 3 Warna

eQuator.co.id – Pontianak -RK. Mode cepat berubah dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat. Terlebih wanita yang selalu ingin tampil perfect (sempurna) dari segala sisi. Padupadan warna kulit dan busana yang dipilih sangat menentukan penampilan.

Untuk menunjang penampilan tidak hanya lekuk tubuh, pakaian hingga aksesoris pun beragam. Tidak kalah penting, kata Amalia Atika SH MKn, makeup juga harus diperhatikan. “Fashion dan mode tidak pernah lepas dari perempuan, apalagi fashion setiap tahun berganti yang menjadi tren. Misalnya, lipstiknya ombrey yang menggabungkan yang gelap dengan warna muda. Saat ini, Korea menjadi icon remaja Indonesia,” ujar Anggota DPRD Kota Pontianak ini kepada Rakyat Kalbar, Jumat (7/9).

Apapun fashion yang akan digunakan, menurut wanita 30 tahun ini, harus membuat pemakainya nyaman, tidak berlebihan agar tidak menjadi pusat perhatian dengan konotasi miring orang lain yang memandang. “Kalau saya, menjadi diri sendiri adalah lebih baik. Tren baju musim dingin misalnya, tapi di Indonesia menggunakan jaket berbulu, kan tidak masuk akal. Malah buat malu, makanya harus menyesuaikan,” paparnya.

Begitu banyak mode yang menjadi tren masa kini, terang Amalia, bisa saja diadopsi. Namun tetap harus memperhatikan situasi dan kondisi si pemakainya. “Yang saya adopsi adalah makeup, itu pun sesuai dengan warna bibir. Kalau untuk foundation sesuai warna kulit kita. Tapi kalau eyeshadow, blush on juga demikian. Jangan seperti kemarin, sempat ada yang gotik gitu seperti merah terang, coklat tua yang identik gelap, disesuaikan saja. Mungkin kalau ke party halloween boleh, tapi kalau keseharian rasanya tidak masuk akal,” tegasnya.

Sedangkan pakaian, khususnya pasmina atau jilbab, wanita dua anak yang hobi bersepeda ini menyebut, jilbab sebagaian besar kiblatnya saat ini ke Turki. Namun, dia menyarankan, sebelum memilih jilbab, gali informasi terlebih dahulu mengenai jilbab yang akan dipakai. Pasalnya, jilbab banyak jenis dan bahan, serta cara pemakaiannya. “Kalau yang saya pakai sekaang bahan paris, mudah dibentuk. Terus adalagi foal yang juga mudah dibentuk. Lalu kerudung sekarang banyak gambar-gambar abstrak. Jadi macam-macam. Saya koleksi itu, satu jenis bahan ada lima, jadi kurang lebih ada 200 dengan berbahan macam-macam,” imbuhnya.

Mantan model saat masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di pulau Jawa tahun 2009 ini menyarankan, jika ingin tampil elegan, jangan menggunakan lebih dari tiga warna fashion. Sebab, jika mengenakan lebih dari tiga warna, maka akan terlihat jomplang. Misalnya, bawahan berwarna biru dipadukan dengan orange untuk atasan. Maka, jilbabnya pilih warna biru muda atau orange muda. Sekalipun cerah, namun itu masih tampak elegan dan tidak akan menjadi pusat perhatian orang. “Kalau masalah warna, saya dapat triknya dari desainer. Dia yang mengajarkan saya masalah eksen warna tidak boleh lebih dari 3 warna. Saya juga dapatkan dari majalah fashion, karena dulu saya suka baca dan pelajari,” paparnya.

Tidak hanya mempelajari serta mengadopsi, wanita kelahiran 30 Februari 1988 ini mempelajari banyak hal tentang fashion. Bahkan, dia pernah menjalankan bisnis butik di Kota Pontianak. Saat memiliki butik, ia seolah menjadi konsultan pribadi konsumen. Dimana konsumen yang membeli busana di tempatnya disarankan dengan berbagai hal. “Saya jadi konsultan pribadi bagi pembeli. Misalnya, kalau dia gendut, saya akan tawarkan ke warna-warna gelap dan baju bergaris simetris ke bawah. Tapi kalau dia kurus, bebas warna,” tambahnya.

Menjadi konsultan bagi konsumen, tujuannya agar setiap yang datang membeli pakaian di butiknya tampil elegan. “Saya tidak mau orang yang keluar dari butik saya kelihatan jelek saat menggunakan pakaian dari butik saya,” tegasnya.

 

Reporter: Gusnadi

Editor: Yuni Kurniyanto