Kekeringan Diantisipasi, Karhutla Masih Diwaspadai

AIR BERSIH. Warga Dusun Suka Damai, Desa Sungai Mata-Mata, berbondong-bondong mengambil air bersih yang didistribusikan Pemkab Kayong Utara, Senin (30/7). Warga for RK

eQuator.co.id – KAYONG UTARA-RK. Beberapa pekan terakhir hujan tak kunjung turun di beberapa kawasan di Kabupaten Kayong Utara. Problem menahun kembali muncul. Sejumlah masyarakat kekurangan air bersih.

Beruntung, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat cepat bertindak. Di salah satu dusun, yaitu Dusun Suka Damai, Desa Sungai Mata-Mata, air bersih segera dikucurkan.

“Alhamdulillah hari ini bisa merasakan air bersih dari Pemda KKU,” tutur salah seorang warga di sana, Romi, yang mendapatkan air bersih di tempatnya, Senin (30/7).

Air yang diangkut menggunakan mobil Pemda tersebut sebanyak 4 kubik atau 4 ribu liter. Warga pun berduyun-duyun membawa wadah. Drum, tempayan, maupun ember untuk mendapatkannya.

“Kalau untuk air mandi dan nyuci tidak kami pikirkan, tapi kalau air minum ini, urusan sumber utama dalam tubuh, kalau ini tidak bisa dipenuhi maka akan berdampak pada kesehatan kami,” jelasnya.

Ia berharap Pemda segera mencarikan solusi terhadap permasalahan ini. Yang selalu muncul tiap tahunnya. Di sejumlah kawasan di Kayong Utara.

“Kami berharap agar pemimpin terpilih agatr segera menunaikan janji politiknya khusus di bidang air bersih, agar masyarakat tidak kesulitan dan selalu diresahkan sulitnya mendapatkan air bersih,” harapnya.

Dari Jakarta, kemarau diprediksi jauh lebih parah dari tahun lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam pengamatannya bahkan mencatat kemarau di 2019 akan jauh lebih kering. Dari sebelumnya.

Sebanyak 7.045.400 liter air sudah didistribusikan kementerian dan lembaga untuk mengantisipasi bencana kekeringan yang timbul karena kemarau tersebut. Selain itu, penambahan jumlah mobil tanki, hidran umum, pembuatan sumur bor, dan kampanye hemat air juga dilakukan.

”Untuk bencana kekeringan, BNPB mengindentifikasi sebanyak 55 kepala daerah telah menetapkan Surat Keputusan Bupati dan Walikota Tentang Siaga Darurat Bencana Kekeringan,” ujar Deputi bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Dody Usodo, kemarin (30/7).

Selain kekeringan, hal lain yang tentu saja juga menjadi masalah menahun akibat kemarau adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hingga kemarin, dilaporkan ada lima provinsi dan tiga kabupaten yang menyatakan siaga Karhutla.

Dody menegaskan akan dilakukan koordinasi bersama antara kementerian dan lembaga untuk membahas hal ini. Sejauh ini upaya pencegahan khusus bencana karhutla telah dilakukan. Diantaranya melalui sosialisasi dan kampanye pencegahan karhutla.

”Untuk masalah Karhutla, Kemenko PMK mencatat, terdapat beberapa provinsi rawan yang mengalami kenaikan jumlah hotpsot,” ujarnya.

Provinsi itu adalah Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Sedangkan hingga 1 Juli  sudah lima provinsi dan tiga kabupaten yang menetapkan siaga darurat karhutla. Provinsi yang menyatakan siaga adalah Riau, Kalbar, Sumsel, Kalteng, dan Kalsel. Sedangkan tiga kabupaten yang menyatakan hal sama  adalah Dumai, Sambas, dan Siak.

Plh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan personel gabungan bekerja keras untuk melakukan pemadaman dan pendinginan daerah yang terdapat titik api. Personel tersebut merupakan bagian dari Satuan Tugas (Satgas) darat berasal dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan kementerian serta lembaga terkait.  ”Total personel gabungan berjumlah  5.929 personel yang tersebar di lima provinsi,” ucapnya.

Upaya pengendalian yang dilakukan satgas darat didukung oleh operasi udara. di bawah kendali satgas udara. Helikopter disiagakan di empat provinsi, yaitu Riau 17 helikopter, Sumatera Selatan tiga, Kalimantan Barat enam, dan Kalimantan Tengah  tujuh. Selain armada helikopter, satuan tugas udara didukung pesawat untuk operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC).

“Operasi ini dimaksudkan untuk memicu terjadinya hujan di wilayah-wilayah yang terpapar hotspot dengan menebarkan garam di awan potensial,” ujar Agus.

Penanganan Karhutla memang tak bisa dilakukan sendiri. Memerlukan kerja sama semua pihak. Tak terkecuali Lanud Supadio Pontianak yang telah menyiapkan personilnya guna penanggulangan Karhutla di Kalbar.

Saat ini, Satgas Udara Lanud Supadio terus melakukan pemantauan untuk mendukung penerbangan dan pemadaman kebakaran melalui jalur udara. “Kalau dari darat kan sudah ada rekan-rekan yang ditugaskan. Ini dari udara kita lakukan dengan menggunakan pesawat helikopter dari BNPB,” tutur Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Palito Sitorus, kepada wartawan, Selasa (30/7) pagi.

Beberapa waktu lalu pun, telah dilaksanakan beberapa kali pemadaman menggunakan waterbombing. “BMKG  melihat daerah-daerah mana yang terjadi spot-spot api, kemudian dilakukan patroli udara. Dari patroli udara itu dilakukan waterbombing,” paparnya.

Kendati demikian, sambung dia, sampai dengan saat ini, Lanud Supadio Pontianak belum melihat perkembangan yang signifikan terhadap cuaca yang ada di Kalbar. Sebab siraman-siraman hujan masih membasahi lahan-lahan di Kalbar.

“Tapi kalau misalnya nanti, diperkirakan sama sekali tidak ada turun hujan, mungkin kita akan melakukan modifikasi cuaca yang akan kita bantu dengan angkatan udara sendiri,” tegasnya.

Sejauh ini, kata Palito, sekitar 100 personil Angkatan Udara yang telah disiapkan dalam rangka mendukung penerbangan dan berkordinasi dengan satgas-satgas yang lain. “Karena memang kita fungsinya memang mendukung penerbangan dan melaksanakan kordinasi  dengan satgas-satgas yang lain. Jadi kita memang bukan langsung turun ke lapangan, namun kita mendukung dari udara saja,” pungkasnya.

 

Laporan: Kamiriluddin, Andi Ridwansyah, Jawa Pos/JPG

Editor: Mohamad iQbaL