Jauh dari Orangtua, Hidup Mandiri di Gubuk Sederhana

Perjuangan Anak-anak Dusun Sentalang Demi Menempuh Pendidikan

SEMANGAT ANAK KAMPUNG. Franshina Lia bersama anak-anak Dusun Sentalang tinggal di gubuk sederhana untuk dapat mengenyam pendidikan di SDN 2 Sempayuk, Belimbing, Lumar, Bengkayang, Sabtu (26/1). Kurnadi-RK

Perjuangan anak-anak Dusun Sentalang Desa Setia Budi Kecamatan Bengkayang Kabupaten Bengkayang menempuh pendidikan patut diacungkan jempol. Di usia dini, mereka sudah hidup mandiri. Tinggal jauh dari orangtua di gubuk seadanya.

KURNADI, Bengkayang

eQuator.co.id – DELAPAN pondok berjejer diantara rumah penduduk di Dusun Sempayuk Desa Belimbing Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang. Gubuk-gubuk tersebut menjadi tempat tinggal anak-anak Dusun Sentalang Desa Setia Budi Kecamatan Bengkayang. Gubuk-gubuk tersebut dihuni sekitar 20 orang.

Anak-anak Dusun Sentalang ini terpaksa tinggal di gubuk dan jauh dari orangtua. Sebab di kampung mereka tidak ada sekolah. Hanya di Dusun Sempayuk, tempat mengenyam pendidikan yang terdekat.

Salah seorang penghuni gubuk seadanya tersebut Franhina Lia. Putri 13 tahun ini duduk di bangku Kelas IV SDN 2 Sempayuk. Bersama kakak kandungnya, Lia sudah tujuh tahun menempati gubuk itu. “Saya bersama dengan kakak dan saudara lainnya telah tinggal selama tujuh tahun sejak kelas I SDN hingga sekarang,” kata Lia kepada Rakyat Kalbar, Sabtu (26/1).

Mereka tidak mungkin berangkat sekolah dari kampungnya. Sebab dari Dusun Sentalang ke Dusun Sempayuk belum ada akses jalan. Bila dipaksakan mereka harus menempuh hutan dan kebun. Jaraknya mencapai sekitar 12 kilometer.

Makanya, orangtua mereka bangun gubuk di Dusun Sempayuk. Agar berangkat sekolah setiap pagi tidak terlambat. Dengan jalan kaki, Dusun Sentalang ke Dusun Sempayuk membutuhkan waktu tiga jam. “Kalau dari Dusun Sentalang, paling tidak kami harus berangkat jam 4 subuh,” jelas Lia.

Gubuk terbuat dari papan, beratapkan daun sagu dan berlantai tanah. Berdiri di atas tanah seluas kira-kira 35 – 40 M². Gubuk yang dihuni Lia memiliki tiga kamar. Masing-masing kamar berisi dua orang. “Kami tidur di ruangan seadanya berukuran 1,5 x 2 meter. Cukup untuk berdua saja,” ungkapnya.

Di damping Dini Kelas IX SMP, Olivia Kelas V SD, Diana V SD dan

Litiva Kelas IV SD, Lia menjelaskan, untuk makan dan kebutuhan sehari-hari mereka dibawakan orangtua. Kadang juga mereka yang pulang ke Dusun Sentalang untuk mengambil bekal. Baik beras, sayuran dan keperluan lainnya. “Untuk masalah dapur, kami sudah terbiasa masak sendiri,” ujar Lia.

Dalam satu gubuk terdapat dapur, kayu bakar, rak piring papan, kamar tidur, tempat menggantung pakaian dan lainnya. Masing-masing kamar ada satu bohlam lampu. Penerangan diambil dari rumah tetangga. Untuk mendapatkan penerangan itu tidak gratis. Mereka harus membayar ke tetangga. “Satu bola lampu Rp10 ribu per bulan. Karena kami ada tiga kamar dan tiga lampu, jadi setiap bulan bayar Rp30 ribu,” paparnya.

Lia akan terus berupaya menyelesaikan pendidikan dasarnya. Walau dirinya tidak pernah menerima bantuan sekolah. Cuma diakui dia, orangtuanya mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). “Saya bercita-cita menjadi Polwan. Paling tidak sampai kuliah,” tutup Lia.

Sementara Kepala Dusun Sempayuk, Iyun menuturkan, anak-anak Dusun Sentalang memang tinggal sudah lama tinggal di gubuk tersebut. Untuk anak-anak Dusun Sentalang, sekolah terdekat hanya di Dusun Sempayuk. Sementara akses jalan antara Dusun Sentalang dengan Dusun Sempayuk belum ada. Ada jalan, tapi harus memutar ke Bengkayang. Jaraknya 40 km.

Iyun berharap ada perhatian serius pemerintah memberikan solusi kepada anak-anak tersebut. Misalnya dibangunkan asrama atau akses jalan Sempayuk-Sentalang dibuka. “Jika akses jalan ada, tentunya mereka tidak lagi tinggal di gubuk,” pungkasnya.

Selama ini kata dia, kendalanya jalan menuju sekolah tidak bisa ditempuh dengan cepat. Karena melewati hutan dan kebun. “Jaraknya sangat jauh dari rumah ke sekolah,” jelas Iyun. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi