Intrusi perliter Sungai Kapuas dan Landak Sudah 3.000 Mililiter, PDAM: Jangan Dikonsumsi

Hujan Sebelum HUT Proklamasi

ilustrasi. net

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Setelah sesak menghirup asap, warga mulai mengeluhkan kondisi air bersih dari PDAM Kota Pontianak. Mulai payau, bahkan asin pada jam-jam tertentu. Namun, tak ada alternatif, terpaksa tetap digunakan.

“Mulai kemarin sore malah sudah mulai asin. Tandenye pas maok nyuci baju tadak keluar busa. Sekali dirase udah payau,” ujar Nazwa, warga Pontianak Utara yang mencuci dengan air PDAM, Senin (12/8).

Tapi ape nak dikate, perempuan yang sudah menetap lebih 21 tahun di Kota Pontianak ini menyadari kondisi semacam ini sudah agenda rutin tahunan. “Ya setiap tahun pasti ada kabut asap. Lalu air payau. Itu pasti terjadi di sini. Saya harap kemarau ini cepat berlalulah,” keluhnya.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa, Lajito, membenarkan. Dijelaskannya, saat ini air Sungai Kapuas dan Sungai Landak sudah terintrusi alias dimasuki air laut. Bahkan ambang batas intrusi pun sudah mencapai 3000 miligram perliter.

“Ambang batas air bersih itu 600 miligram per liter. Saat ini sudah di posisi 3.000 miligram per liter, sudah tinggi,” jelas Lajito dihubungi Rakyat Kalbar, Senin (12/8).

Karena itu Lajito mengimbau seluruh pelanggan agar tidak menggunakan air PDAM untuk dikonsumsi. Tingginya kandungan kadar garam di sumber baku PDAM (Sungai Kapuas dan Landak), sementara ini hanya bisa digunakan untuk mandi dan cuci.

Tentu saja PDAM tak bisa menghentikan produksinya, kecuali air laut sudah memenuhi Kapuas dan Landak seperti 20 tahun silam. “Jadi air ini tetap kita olah dan akan tetap didistribusikan. Tetapi hanya untuk mandi dan mencuci saja. Posisi kadar garam yang naik itu sudah kita umumkan melalui website dan juga media,” paparnya.

Tak bisa melawan alam, kata Lajito, kondisi semacam ini juga tergantung pada perubahan cuaca. Karena air dari hulu itu prosesnya akan mengalir ke laut. Tetapi jika sungai-sungai dan danau di pehuluan mengering, sumber baku pun asin.

“Kalau bisa hari ini selesai. Hanya saja cuaca ini kan tidak bisa diprediksi. Selama tidak hujan air di hulu kering. Jadi air dari laut akan masuk terus,” ungkapnya. Sambung Lajito, “Tapi saya mendengar radio dari BMKG kemungkinan besok hujan. Itu prediksi mereka, hasilnya belum tahu. Kita berharap tidak lama karena tidak enak kepada pelanggan”.

Hujan Molor

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Supadio Pontianak Sutikno menuturkan, dua hari terakhir Badai Krosa diam tidak bergerak. Sehingga saat ini stasioner berada di tekanan 965 hPa.

“Sehingga hujannya diprakirakan mundur sedikit,” jelasnya.

Ia mencontohkan situasi pada hari ini diprakirakan akan turun hujan di sebagian wilayah Kabupaten Kapuas Hulu bagian utara, Kabupaten Sanggau bagian Utara, dan Kabupaten Bengkayang bagian utara.

Diprakirakan juga, pada 14 Agustus 2019 akan turun hujan di bagian tengah hingga timur Kalimantan Barat. “Lalu tanggal lima belasnya akan turun hujan hampir merata di wilayah Kalbar,” ungkapnya.

Untuk kondisi udara saat ini, berdasarkan pantauan update di https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/informasi-partikulat-pm10.bmkg kualitas udara di Kota Pontianak masuk dalam kategori tidak sehat karena menduduki posisi 150 PM10.

Cuaca terik dan pengap masih menyelimuti kota Pontianak. Walaupun terlihat awan yang tertutup kabut asap, secara kasat mata tanda-tanda hujan masih belum tampak. Sementara kabut asap semakin hari kian tebal menyelimuti kota katulistiwa ini.

 

Laporan: Rizka Nanda

Editor: Mohamad iQbaL