Harap Nama Supadio Pontianak Diganti Jadi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie

eQuator.co.id – PONTIANAKRK. Sempat menjadi perdebatan, nama Bandara Internasional Supadio Pontianak, namun letaknya di Kubu Raya. Agar tidak menjadi permasalahan, Pemerintah Pusat disarankan mengganti namanya menjadi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

“Beliau pendiri Kota Pontianak, Ibukota Provinsi Kalbar. Perkembangan perekonomian di daerah ini tidak terlepas dari jasanya,” kata Suriansyah, Wakil Ketua DPRD Kalbar, Jumat (9/11).

Sebagai pendiri Kota Pontianak disusul dengan kabupaten/kota lainnya di Kalbar. Jasa Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dinilai sangat besar. Sehingga wajar saja nama beliau bisa disematkan di Bandara seperti daerah lainnya di Indonesia.

“Bandara lainnya di Indonesia, juga menggunakan tokoh atau pahlawan yang begitu dikenang masyarakatnya. Seperti Bandara Sultan Syarif Qasim di Riau, dan daerah lainnya di Indonesia,” tukasnya.

Keinginan masyarakat Kalbar yang disampaikan Suriansyah tersebut, sebelumnya juga pernah diutarakan dai ternama, Ustaz Abdul Somad (UAS) ketika ceramah di Kota Pontianak, beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, sebelum Indonesia merdeka, Pemerintah Belanda membuat kesepakatan dengan Kerajaan Pontianak untuk membuat Bandara, dulunya disebut Lapangan Terbang.

Kerajaan Pontianak menyediakan lahannya di Sungai Durian. Kemudian Pemerintah Belanda meneliti kontur tanahnya sebelum memulai membangun Bandara.

Namun pekerjaan Pemerintah Belanda untuk membangun Bandara itu tidak dapat dilanjutkan. Karena kalah perang melawan Jepang.

Kemudian Jepang yang menguasai Pontianak, menjadikan Bandara di Sungai Durian itu sebagai pangkalan udara militer. Begitu selesai dibangun, diujicobanya dengan menerbangkan pesawat tempur.

Namun ujicoba itu tidak berjalan mulus. Pesawat tempur Jepang mengalami kecelakaan, karena menyenggol troli pasir. Pilotnya pun tewas.

Untuk mengenang pilot tersebut, Pemerintah Jepang membangun tugu. Siapapun yang akan melewati harus memberi hormat, kalau tidak ingin dihukum.

Ketika berhasil mengakhiri pendudukan tentara Jepang, Pemerintah Indonesia menyiapkan operasi Dwikora dengan menggelar kekuatan pesawat tempur dan pasukan.

Untuk menampung pesawat dan pasukan tersebut, Bandara di Sungai Durian pun dibangun dalam waktu singkat. Kemudian diberi nama yang diambil dari Perwira Angkatan Udara (AU) Letkol (PNB) Supadio yang meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Tanpa bermaksud menafikan jasa Letkol Supadio, masyarakat Kalbar, khususnya Kota Pontianak menginginkan Bandara komersil tersebut dinamai dengan pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman.

 

Reporter: Gusnadi

Redaktur: Andry Soe