Demi Sesuap Nasi, Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

Keseharian Petani Jorong Lompek, Bergantung Seutas Tali Sling

53
BERBAHAYA. Salah seorang petani meniti sling menyeberang sungai di Jorong Lompek, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota, Kamis (22/2) siang. Arfidel Ilham/Padang Ekspres
BERBAHAYA. Salah seorang petani meniti sling menyeberang sungai di Jorong Lompek, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota, Kamis (22/2) siang. Arfidel Ilham/Padang Ekspres

Demi membuat dapur tetap mengepul, petani di Jorong Lompek, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota harus mempertaruhkan nyawanya. Dia harus bergantung pada seutas tali sling guna menyeberangi sungai yang deras.

Arfidel Ilham, Limapuluh Kota

eQuator.co.id – Gemuruh air mengalir deras di sela-sela bebatuan berukuran besar di aliran Batang Sinama, membuat bulu kuduk bergindik. Lebih-lebih bila terhempas dari ketinggian, jelas nyawa jadi taruhannya.

Pemandangan inilah yang dihadapi petani di sudut paling Selatan Limapuluh Kota itu. Mereka harus “membunuh” rasa takut, bila ingin dapur tetap mengepul.

Minimal dua kali sehari, petani Jorong Lompek berjalan di atas tali sling yang berukuran lebih kecil dari telapak kaki sebagai pijakan, sepanjang bentangan sungai sekitar 70 meter.

Kedua ujung tali sling berdiameter satu inci itu, diikatkan pada batu besar dan kayu. Sebagai pegangan, terbuat dari rajutan kawat berukuran lebih kecil dari jari kelingking orang dewasa.

Bila tak hati-hati melintas, nyawa taruhannya. Bisa terhempas ke bantuan besar di dasar Batang Sinama dari ketinggian belasan meter. Bila air deras, risiko hanyut terbawa arus sungai jadi tantangannya.

Khairuzal Datuak Tunggang, 69, petani pemilik kebun karet di Bukikcubadak, Jorong Lompek, mengaku tak bisa berbuat banyak. Mau tak mau dia menyeberangi jembatan itu, menuju kebunnya.

“Mambao pupuak ka ladang, tapaso harus dijujuang manyubarang nak (Jika harus memupuk tanaman, terpaksa  harus dipikul, nak),” ungkap Khairuzal ketika ditemui Padang Ekspres usai melintas di jembatan itu, Kamis (22/2) siang.

Sehari-harinya, jembatan itu dilewati petani Jorong Lompek yang rata-rata memiliki perkebunan di Bukik Cubadak. Daerah ini dikenal sebagai sentra penghasil karet Lareh Sago Halaban.

Titian tali sling yang dibuat secara swadaya oleh pemilik kebun di seberang Bukik Cubadak itu, juga sudah berumur cukup lama. Biasanya, bila tali sling sudah berkarat dan rusak, diganti dan diperbarui. “Semuanya dilakukan secara swadaya,” ujar Khairuzal.

Kawasan Bukit Cubadak sejak dari dulunya sudah dijadikan perkebunan bagi warga setempat. Mereka berkebun di bagian lereng, maupun puncak bukit.  Setiap paginya mereka pergi ke kebunnya, dan balik ketika sore tiba.

Setidaknya terdapat lima jembatan titian tali sling di Jorong Lompek dengan kondisi sama. “Di bagian hulu sungai dan di sebelah hilir sungai, juga ada titian sling ini. Petani baru mampu menjadikan tali sling ini sebagai jembatan,” sebut warga Jorong Lompek lainnya, Pintos, 40.

Masyarakat setempat sebetulnya sudah mengidam-idamkan jembatan representatif, paling kurang untuk lewat sepeda motor saja. Namun, sejauh ini harapan itu belum kunjung terkabul.

“Cukup satu saja jembatan yang bisa dilewati kendaraan roda dua, jelas sangat membantu para petani di sini,” tambah Pintos yang biasa disapa Anto.

Pemerintah Nagari Halaban sejak dipimpin Hamdan hingga saat ini dipimpin Fahrurozi, sejauh ini baru fokus membuat jalan menuju pinggir jembatan. Tepatnya, jalan rabat beton dengan dua jalur kendaraan roda empat sampai mendekati pinggir sungai.

“Jalan sudah kita mulai membangunnya, mobil sudah bisa menjangkau hingga pinggir sungai. Ke depan, kita berharap ada perhatian pemerintah untuk membangun jembatan,” harap Fahrurozi.

Warga yakin bila pembangunan jembatan terealisasi, mampu menggeliatkan pereekonomian masyarakat Jorong Lompek. “Kami sangat yakin dalam satu hari saja usai jembatan dibangun, ekonomi masyarakat langsung berubah di  Jorong Lompek,” sebut Khairuzal.

Warga lainnya, Nurjati, 55, sangat berharap kepada anggota dewan yang duduk mewakili rakyat di DPRD, menyampaikan aspirasi masyarakat untuk bisa mendapatkan pembangunan jembatan. “Harapan kita, DPRD dan Pemkab Limapuluh Kota bisa segera merealisasikan pembangunan jembatan untuk petani di Lompek ini,” ujar dia.

Wakil Ketua DPRD Limapuluh Kota, Sastri Adiko Datuak Putiah sebagai anak nagari Lareh Sago Halaban, sangat prihatin. Hanya saja, menurutnya, prioritas pembangunan dari pinggir yang disuarakan pemerintah belum merata dengan baik.

“Di situlah kelemahan kita saat ini. Prioritas pembangunan dari pinggiran belum terwujud dengan baik. Namun, kita tetap akan berupaya mendorong pemerintah daerah untuk memperhatikan kondisi hingga ke sudut nagari,” harap Sastri. (*/Padang Ekspres)