Ribuan Pelajar Indonesia Difasilitasi ITCC Kuliah ke Tiongkok

Ingin Pintar, Kenapa Harus Dipersulit?

92
Muhammad Pitoyo

Sudah hampir sebelas tahun Andrean Sugianto berjuang untuk menyekolahkan para pelajar Indonesia belajar ke Tiongkok. Berbagai pengalaman baik pahit mau pun manis telah ia lewati untuk menjelajahi berbagai pelosok di Indonesia.

Bangun Subekti, Pontianak

eQuator.co.id – MELALUI Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC), pria yang akrab disapa Andre So ini memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya. Lembaga yang telah berdiri sejak 2001 itu telah berhasil menyekolahkan banyak pelajar Indonesia ke Tiongkok. Jika dihitung jumlahnya sudah ribuan. Tahun 2017 saja sudah membantu 350 pelajar untuk kuliah Tiongkok.

“Semua itu karena saya merasa kenapa ingin pintar saja harus dipersulit. Bikin ini itu dan sebagainya, bayar ini itu dan sebagainya. Anak-anak Indonesia butuh pendidikan bahkan kalau perlu sampai ke luar negeri,” terangnya kepada Rakyat Kalbar, Minggu (8/7).

ITCC berperan menjembatani informasi mengenai program kuliah yang ada di Tiongkok. Termasuk persyaratan dan program bea siswa. Lembaga ini juga membantu dalam menyusun dokumen yang diperlukan saat akan berangkat dan berada di Tiongkok.

“Kita jembatani informasi, pelajar yang memanfaatkan. Contohnya untuk saat ini di China ada program free kuliah dan free asrama. Namun sebelum berangkat, tentu akan kami latih dulu selama kurang lima bulan di Surabaya. Terutama bahasa dan budaya di sana,” terangnya.

Dia berharap pelajar-pelajar Indonesia memanfaatkan fasilitas yang telah disiapkan ITCC. Persyaratan mendaftar ke Tiongkok pun lebih mudah.

Andrean Sugianto

“Persyaratannya juga lebih sederhana dibanding kuliah di sini. Kami sudah menyediakan fasilitas Ijazah, paspor, foto dan training bahasa di Surabaya. Tinggal dimanfaatkan saja,” pungkas Andre So.

Salah seorang yang beruntung yaitu Muhammad Pitoyo. Berkat bea siswa dari ITCC, pemuda asal Kediri, Jawa Timur ini mendapat kesempatan kuliah di Suzhou Institute of Trade and Commerce jurusan International Business. “Sangat bersyukur sekali,” ungkap Pitoyo kepada Rakyat Kalbar via WhatsApp saat di Bandara Pudong, Shanghai, Tiongkok menuju Indonesia, Sabtu (7/8).

Pitoyo terpilih saat dilatih di SIIBT, Surabaya selama 10 bulan.

“Dalam 10 bulan itu saya juga berlatih bahada Mandarin. Saya juga dibantu untuk mengurus bea siswa ke China dan alhamdulillah berhasil masuk di Suzhou,” ceritanya.

Selama menjalani pendidikan D3 di Suzhou, dirinya mengaku banyak sekali kegiatan kampus yang diikuti. Terkadang kampus mengadakan event-event budaya. Salah satunya event memasak masakan China. “Kampus juga pernah meminta untuk menampilkan kesenian tari Indonesia,” katanya.

Saat libur kuliah merupakan waktunya bagi Pitoyo dan kawan-kawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata di Tiongkok. Dirinya pun bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia cabang Suzhou. Mereka turut mengumpulkan dan membina mahasiswa yang kuliah di sana. “Kita ajak berorganisasi. Kebetulan saya di divisi wirausaha jadi sekalian menularkan ilmu yang saya terima di kuliah,” jelasnya.

Pemuda ini juga menorehkan prestasi yang membanggakan kampusnya. Ia pernah menjadi juara dua lomba di Kota Wuxi. “Bangga pastinya,” ucapnya.

Waktu liburan ada dua kali. Pada musim dingin di Januari hingga Februari dan musim panas di Juli hingga Agustus. Rata-rata mereka libur selama dua bulan. “Kalau Idul Fitri dan puasa kami nggak pulang, belum libur soalnya. Gantinya kami biasa kumpul-kumpul buat masak-masak,” ungkapnya.

Di akhir pembicaraan, dirinya mengungkapkan bahwa ada kemungkinan ia bisa melanjutkan S1 di Tiongkok. Yaitu melanjutkan program yang sedang ia ikuti saat ini. (*)