Demi Rupiah, Tori Kerja Kupas Bawang Sampai Sakit

KUPAS BAWANG. Tori (baju merah) bersama anaknya tengah mengupas 10 kg bawang merah, di kediaman kerabatnya di Tanjung Raya II Pontianak, Jumat (30/8). (Nova Sari-RK)

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Berbagai upaya dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya saja Tori. Meski wanita ini sudah berusia lanjut, 70 tahun tapi tetap kerja keras menghasilkan rupiah sebagai pengupas bawang.

Bik Tori, begitu ia disapa. Lansia ini sangat piawai memainkan pisau saat mengupas bawang. Kebanyakan orang merasakan perih di mata saat melakoni pekerjaan tersebut, tapi tidak bagi Bik Tori.

Ibu tiga anak ini sudah cukup lama ditinggal mati sang suami. Tuntutan hidup yang kian besar membuat ia harus terus berjuang melanjutkan hidupnya. Bahkan berbagai pekerjaan sudah dilakoni.

Sebelumnya, Tori pernah menjadi buruh di pasar sebagai pengupas udang. Namun apa daya, dia harus meninggalkan pekerjaan itu lantaran perusahaan gulung tikar. Tori banting stir cari pekerjaan baru.

“Ngga tau tutup kenapa, mungkin bangkrut, dulu saya kerja sebagai pengupas udang mulai dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Hasil pendapatannya cukup lumayan sekitar Rp40.000/harinya,” ungkapnya, Jumat (30/8).

Seiring waktu, warga Pontianak Utara ini mencoba mencari pekerjaan baru. Memiliki kerabat yang tinggal di Gang Makmur Tanjung Raya 2, di tempat ini mayoritas penduduk bekerja sebagai pengupas dan bersih-bersih bawang. Baik bawang putih dan merah yang diambil dari salah seorang pedagang untuk dijual kembali ke pasar-pasar tradisional di Pontianak.

“Jadi saya mencoba untuk bekerja ambil upah mengupas bawang di sini. Mengupasnya di rumah kerabat saya, nanti saya ambil sendiri bawangnya di rumah bos, tergantung kemampuan maunya berapa kilo mengupas, saya bawa lalu saya kupas, sendiri, tapi juga dibantu oleh anak saya,” katanya.

Hampir sembilan tahun Tori melakoni pekerjaan ini. Per harinya ia mampu mengupas 10-18 kilogram bawang, baik itu bawang putih maupun merah. Harga untuk mengupas bawang ini berbeda-beda. Hitungannya untuk bawang putih dihargai Rp2.000 per kilo. Sedangkan bawang merah Rp2.500 per kilo.

“Bawang putih ini lebih murah karena untuk mengupasnya agak mudah ketimbang bawang merah. Makanya berbeda harga kupasnya, tapi ada yang lebih mudah, yaitu membersihkan bawang merah dari akar-akarnya ini tidak dikupas hanya dibersihkan saja, akarnya dipotong ini kita dibayar Rp10.000 per karung,” jelas Tori.

Namun karena usia dan sudah tak sesehat dulu, aktivitas mengupas bawang ini mulai dikuranginya. Dia kerap sakit karena duduk terlalu lama.

“Kemarin saya bisa kupas 10-18 kilo per hari. Sekarang sudah agak berkurang bahkan pernah saya cuma enam kilo saja. Karena sudah tak mampu mengupas banyak-banyak lagi suka sakit, bahkan biaya berobat dengan pendapatan tidak sesuai, tapi karena kebutuhan mau tidak mau, ibu saya yang usianya hampir 100 tahun juga ambil upah kupas bawang, karena sering sakit juga jadi sudah berhenti,” ucapnya.

Dari pendapatan mengupas bawang ini, tentu tidak sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup janda beranak tiga ini. Meski anak-anak Tori sudah berkeluarga, namun ia tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya.

“Intinya selalu bersyukur, apa yang bisa dikerjakan, ya kita kerjakan, lagi pula mengupas bawang anak saya juga membantu sehingga agak lebih ringan,” pungkasnya. (ova)