Benarkah Produksi TBS Defisit sehingga Utang Koperasi BSL di PT KAL Membengkak Rp30 Miliar?

36
PABRIK. Pabrik CPO milik PT KAL di Kuala Satong, Matan Hilir Utara, Jumat (9/11). Kamiriluddin-eQuator

eQuator.co.id – Ketapang. Dari laporan keuangan PT KAL, kebun kemitraan BSL disebut-sebut mengalami kerugian Rp300 juta perbulan. Demikian dikatakan Ketua Koperasi Perkebunan BSL, Muhammad Anton Pratama.

Kerugian tersebut didapat dari biaya operasional dan perawatan kebun yang mencapai Rp400 juta tiap bulannya. Sedangkan hasil produksi tandan buah segar (TBS) hanya berkisar Rp170 hingga Rp180 juta. Dari situlah didapat total kerugian kebun kemitraan hingga Rp300 juta tiap bulan. Alhasil, utang koperasi terus mengalami pembengkakan.
Disampaikan Anton, kebun kemitraan ditanam pada tahun 2012 dan 2013. Di tahun 2012, ditanam seluas 278 hektar dan selebihnya ditanam pada tahun 2013. Artinya, sampai saat ini kebun sudah berjalan 6 tahun.

“Berdasarkan MoU, kebun tersebut empat tahun dari tahun penanaman sudah bisa menghasilkan atau panen, artinya kebun yang ditanam pada tahun 2012 sudah dipetik hasilnya selama 2 tahun dan kebun yang masa tanamnya tahun 2013 sudah 1 tahun dipetik hasilnya. Normalnya seperti itu, namun fakta laporan dari pihak KAL beda,” terangnya.

Sampai saat ini, dikatakan Anton, laporan yang ia terima bahwa piutang koperasi lebih Rp 30 miliar. Angka tersebut didapat dari pinjaman modal awal yang diberikan Bank Mandiri sekitar Rp 23 miliar. Ditambah lagi biaya yang bersumber dari PT KAL yang total keseluruhan dibebankan ke koperasi lebih Rp30 miliar.

“Dengan kondisi seperti ini, saya khawatir anggota koperasi tak dapat menikmati hasil kebun kemitraan. Seakan-akan mereka (anggota koperasi, red) hanya sebatas atas nama,” tandasnya. (lud/miq)