Tak Terima Ada Istilah ‘Tuyul’

(Lagi) Gojek Didemo Driver

31
DEMO LAGI. Puluhan driver berunjuk rasa di depan kantor Gojek perwakilan Pontianak, Jalan Urai Bawadi, Rabu (7/11). Bangun Subekti-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Untuk kesekiankalinya kantor PT Gojek Indonesia perwakilan Kalbar didemo drivernya. Kali ini ada puluhan driver Gojek yang tergabung dalam Komunitas Driver Gojek Khatulistiwa berunjuk rasa di depan kantor manajemen Gojek Pontianak, Jalan Urai Bawadi, Rabu (7/11).

Para driver mengajukan beberapa tuntutan. Di antaranya meminta ketegasan mengenai istilah ‘tuyul’ yang dipakai beberapa driver Gojek dirasakan telah menyulut perpecahan. “Kami masih bingung, apa yang dimaksud dengan tuyul?” ujar Koordinator A sekaligus Ketua Komunitas Driver Gojek Khatulistiwa, Sam.

Menurutnya, mereka selaku pengguna fake GPS tidak terima akan sebutan itu. Karena saat ada istilah tuyul, mereka jadi terpecah antara driver GPS original dengan yang fake GPS. “Padahal kita itu saudara seaspal dan se almamater,” sebutnya.

Pengunjuk rasa juga mempertanyakan kepada manajemen di Pontianak berapa banyak kuota yang boleh diterima oleh Gojek. Karena dalam pandangan para driver, manajemen selalu membuka penerimaan baru. Sehingga berakibat berkurangnya penghasilan para driver sebelumnya. “Kami menanyakan, berapa banyak driver Gojek yang diterima?” tanya Sam.

Pengunjuk rasa juga menanyakan mengenai rumah makan yang telah tutup, namun masih terdaftar diaplikasi Gojek. Karena hal ini terkadang membuat performa driver jadi menurun. Karena customer tidak membatalkan orderan walau pihaknya beritahu bahwa rumah makan tersebut sudah tutup. “Hal ini membuat kami dikira tidak melayani mereka,” jelas Sam.

Sementara itu, perwakilan manajemen Gojek di Pontianak, Yendi Valentine hanya memberi sedikit tanggapan terhadap tuntutan para driver. Ia mengatakan, aspirasi para driver diterima dengan tangan terbuka. Tentu saja jawab tersebut tidak memuaskan bagi pengunjuk rasa. Bagi mereka, sudah cukup sering manajemen berkata demikian.

“Namun tidak juga ada solusinya. Manajemen juga ditanya mengenai berapa driver yang beroperasi saat ini pun tidak bisa dijawab. Kami juga ingin nantinya saat acara kopi darat jangan dilakukan di warung kopi atau kafe. Sudah puas kami di sana,” tegas Sam menjawab tanggapan manajemen.

Dalam wawancara dengan awak media, Sam mengatakan bahwa aplikasi fake GPS bukanlah barang haram. Karena telah ada di Play Store dan sudah diakui manajemen.

“Sekali pun kami menggunakan fake GPS, kami tetap ambil semua orderan. Tidak ada order fiktif yang kami buat, semua kami ambil. Fake GPS juga sudah diakui manajemen,” ujarnya.

Kegunaan aplikasi itu agar driver tetap bekerja sekali pun mereka aslinya tidak berada di titik Go Food. Tapi jadinya berada di titik Go Food. “Kasihan melihat mereka hanya diam kayak orang gila di warkop karena tidak berada di titik Go Food,” sebutnya.

Sam menuturkan, aksi tersebut akan terus berlanjut pada minggu depan. Bahkan bila tuntutan tidak dipenuhi, Sam beserta komunitasnya akan membuat surat kepada dewan agar membuat sebuah keputusan untuk menyelesaikan perseteruan antar driver. Karena pihaknya ingin manajemen Gojek untuk tegas memberitahu berapa sebenarnya kuota yang diinginkan.

“Jumlah driver di Pontianak saja sudah tercatat 10 ribu orang. Sebenarnya manajemen ini maunya berapa orang yang boleh mendaftar? Karena setiap saat ada saja pembukaan baru,” tuturnya.

“Kasihan teman-teman yang sudah lama di Gojek. Malah ada yang tidak bisa melakukan tutup point. Dengan permasalahan-permasalahan tersebut, kami akan buat surat ke dewan untuk turun tangan,” timpal Sam.

Saat dimintai tanggapan atas aksi tersebut, Yendi mengelak dengan alasan harus mendapat persetujuan dari manajemen Gojek pusat.

“Mohon maaf kami tidak bisa membuat keterangan apa pun pada media karena harus melalui persetujuan manajemen pusat. Namun bila situasinya seperti ini akan ada perwakilan pusat yang datang untuk mediasi,” pungkas Yendi.

Aksi diakhiri dengan penyegelan kantor manajemen oleh para pendemo dengan spanduk-spanduk berisi tuntutan.

 

Laporan: Bangun Subekti

Editor: Arman Hairiadi