Smart Kampung, Buka Peluang Bagi Orang Banyak

Melihat Perjuangan Remaja Masjid Babussalam, Tanjung Wangi (bagian 2/selesai)

46
TESTIMONI. Muda Mahendrawan, Bupati Kubu Raya terpilih sedang menulis mengenai testimoni dan gambaran rencana pembanuanan Smart Kampung—Irmas Babussalam for RK

Selain menyulap Dusun Tanjung Wangi, Desa Rasau Jaya Dua, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu menjadi dusun mandiri dan madani, Ikatan Remaja Masjid (Irmas) Babussalam Dusun Tanjung Wangi juga sedang merencanakan Pembangunan Dusun Digital.

Ocsya Ade CP, Pontianak

eQuator.co.idMereka menyebutnya dengan istilah Smart Kampung. Didefinisikan secara harfiah sebagai Desa Pintar. Yaitu suatu konsep pengembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berbasis komunitas desa. Sebagai sebuah interaksi yang kompleks diantara berbagai sistem yang ada di dalamnya.

“Di sini dusun kami mewakili desa. Jika dusun kami maju, maka desa juga maju. Bisa mewakili Kabupaten Kubu Raya yang kita cintai ini nantinya,” kata Ketua Irmas Babussalam Dusun Tanjung Wangi, Mawardi bin Daeng Kamarudin kepada Rakyat Kalbar, kemarin.

Dalam Smart Kampung, nantinya terdapat berbagai aktivitas dan kegiatan. Seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, industri rumah tangga, kegiatan budaya dan kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Mawardi yang juga Wakil Ketua Irmas Nurul Iman Kecamatan Kubu ini menerangkan, ada tiga dimensi dalam pengembangan Smart Kampung. Pertama, Technology. Yaitu dimensi yang mencakup teknologi yang digunakan dalam pengembangan.

Kedua, People. Yaitu dimensi yang menunjukkan bahwa Green Smart Village dapat membantu mengembangkan meningkatkan pengetahuan, inovasi, produktifitas, rasa kemanusiaan dan wawasan lingkungan di tengah masyarakat. Serta dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat.

Terakhir, Community. Yaitu dimensi di mana dengan penerapan teknologi yang didukung banyak orang maka diharapkan dapat menciptakan suatu komunitas pintar dan mampu menciptakan memiliki nilai tambah di wilayah bersangkutan.

“Smart Kampung kami nantinya memiliki perbedaan dengan konsep Smart City yang lebih dulu dikenal,” tegasnya.

Konsep Smart City, dijelaskan Mawardi, lebih menekankan aspek kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang dicapai melalui peningkatan kualitas layanan publik.

Kebijakan dan konsep Smart City terutama lebih bersifat top-down di mana TIK diterapkan dengan penduduk kota sebagai end-user yang diharapkan dengan cepat belajar dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan.

Berbeda dengan Smart City, konsep Smart Kampung lebih menekankan pada aspek perubahan sosial, pemberdayaan, kemandirian, kebersamaan dan keberlanjutan. Dimana di dalamnya lebih dulu mengkaji dan memperhatikan aspirasi kebutuhan perekonomian rakyat dan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah yang selama ini terpinggirkan. “Pengembangan Smart Kampung dilakukan dengan pola berbasis komunitas dengan salah satu tujuan utama untuk meningkatnya peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kawasan,” kata dia.

Sehingga, untuk menerapkannya harus dilakukan perencanaan dan pemetaan masalah melalui proses kajian yang memperhatikan latar belakang sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat.

“Untuk itu kajian secara multi disiplin baik dari segi sosiologi, sejarah, politik dan ekonomi mutlak harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pendekatan secara teknologi diterapkan,” tutur dia.

Lanjutnya menjelaskan, di Dusun Tanjung Wangi juga sedang dalam tahap pembangunan dan pengembangan tambak ikan dan udang gala. Menurutnya, budidaya tambak hingga sekarang terhitung sebagai suatu usaha yang dapat memberikan keuntungan yang luar biasa.

Kecenderungan kearah ini memang beralasan karena terbukti pada lahan-lahan yang baru dibuka ternyata dapat menghasilkan produksi. Baik pada tingkat penguasaan teknologi petani yang masih rendah hingga sedang. Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya perairan pantai dan laut juga menjadi paradigma baru pembangunan masa sekarang yang harus dilaksanakan secara rasional dan berkelanjutan.

“Adanya potensi sumber daya laut dan pantai yang masih cukup besar peluangnya untuk pengembangan eksploitasi di bidang perikanan khususnya budidaya tambak udang, maka dibutuhkan bentuk usaha budidaya tambak udang di dusun kami ini,” ujarnya.

Hasil akhir yang diharapkan dari budidaya tambak udang adalah dapat membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. “Ya, khususnya masyarakat Dusun Tanjung Wangi,” terang dia.

Marketplace dengan situs jual beli online produk unggulan Dusun Tanjung Wangi juga sedang digarap. Dalam aplikasi ini nantinya banyak produk lokal, hasil alam, kerajinan tangan warga setempat akan dipamerkan. Upaya memajukan daerah dari tingkat bawah ini disambut baik dan didukung Muda Mahendrawan, Bupati Kubu Raya terpilih. Apalagi Muda yang dulunya pernah memimpin Kubu Raya ini dikenal dengan jargon ‘Berlari lebih kencang, berproses lebih cepat, bertindak lebih nyata’.

“Nah, Smart City maupun Smart Kampung menginspirasi untuk terus kita berlari lebih kencang, berproses lebih cepat, bertindak lebih nyata,” ujarnya.

Muda mengaku merasa bahagia ketika ada inisiatif dari masyarakat Dusun Tanjung Wangi, Irmas Babussalam khususnya, yang memiliki suatu konsep yang betul-betul ingin mewujudkan kawasan terpadu dan mandiri dari segala bidang.

“Nah, dengan juga didirikan Yayasan Darul Tahfidz ini maka selaras dan mengiringi kekuatan religius  di kawasan tersebut. Saya merasa bangga, karena ini sekaligus sebagai magnet baru. Insya Allah ini bila betul-betul fokus, karena sebagian besar warga di kabupaten yang berusia sebelas tahun ini adalah petani, nelayan dan pedagang. Maka inisiatif atau konsep yang dibuat seperti ini, merupakan sebuah hal yang sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Karena pemerintah yang sejatinya memang bertugas dan wajib untuk membuka peluang-peluang kepada rakyatnya. “Maka saya yakin apabila konsep kawasan ini benar-benar difokuskan, ini menjadi magnet baru yang membuat kita membuka peluang-peluang kepada orang banyak. Dusun Tanjung Wangi yang bagian dari Kubu Raya ini, saya harapkan bisa menjadi percontohan di daerah lain. Ada 118 desa di Kubu Raya ini,” paparnya.

Karena, saat ini tantangannya adalah pengangguran dan kemiskinan. Ini tentu bukan karena kemauan orangnya. Tapi karena peluang itu belum ada. “Maka sekali lagi saya berharap dengan konsep yang digagas H Muhammada Solihin dan Mawardi serta kawan-kawannya ini, bisa membuka peluang bagi orang banyak. Ini harus didukung bersama-sama. Baik Kepala Desa, Dusun, RT, RW dan tokoh-tokoh,” pungkas Muda. (*)