Sesuai Adat dan Historis, Kreativitas Jangan Jauh Menyimpang

Festival Arakan Pengantin Melayu, Sambut Harjad Pontianak

ARAKAN PENGANTIN. Salah satu peserta Festival Arakan Pengantin Melayu Pontianak di Jalan Ahmad Yani, Minggu (7/10). Maulidi Murni-RK

Pemerintah Kota Pontianak intens menjaga kearifan lokal. Berbagai tradisi dan budaya berupaya terus dilestarikan. Salah satunya dengan menggelar Festival Arakan Pengantin.

Maulidi Murni, Pontianak

eQuator.co.id – Delapan peserta arakan pengantin Melayu Kota Pontianak memikat pengunjung di jalur Car Free Day Jalan Ahmad Yani, Minggu (7/10). Melewati kawasan hari bebas dari kendaraan itu, para pengantin diiringi rombongan yang terdiri dari orangtua masing-masing. Pembawa pohon manggar, pokok telok dan barang-barang hantaran juga tidak ketinggalan. Arakan pengantin diiringi tanjidor dan rebana.

Mereka tentu bukan pengantin benaran. Tetapi para peserta Festival Arakan Pengantin. Peserta terdiri dari enam utusan kecamatan se Kota Pontianak. Sedangkan dua peserta berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu dan Bank Kalbar.
Arakan pengantin mulai dari halaman Museum Negeri Kalbar hingga Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Festival ini dilepas Plt Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono. Rangkaian kegiatan menyambut Hari Jadi (Harjad) ke 247 Kota Pontianak yang jatuh pada 23 Oktober 2018 itu menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung lokasi Car Free Day.

Edi menyebutkan, Festival Arakan Pengantin Melayu Pontianak ini dapat membuat penggiat budaya dan pariwisata berkreasi semaksimal mungkin. Bisa memberikan inspirasi bagi warga dalam kegiatan memperingati hari besar dan perayaan. “Baik yang dilakukan masyarakat maupun institusi,” katanya.

Festival Arakan Pengantin ini sudah kesekian kalinya diselenggarakan. Kreativitas yang dilakukan jangan sampai menyimpang jauh dari adat dan historis.
“Kita terus melestarikannya dan mengajak warga untuk kembali mengingat budaya yang salah satu upaya dalam pelestarian,” ujarnya.
Di era milenial ini, tidak ada salahnya kreativitas dan inovasi terus ditingkarkan. Menyebarkan informasi melalui media yang ada bisa semakin memperkenalkan Kota Pontianak. Agar menjadi salah satu destinasi yang patut dikunjungi. Lantaran keramah tamahan warganya.
Dari setiap momentum yang dilaksanakan harus dilakukan kolaborsi bersama-sama. Tanpa kebersamaan, apa yang dikerjakan dan dilakukan tidak bisa maksimal. Kebersamaan yang dimaksud membangkitkan bagaimana Kota Pontianak selalu menggeliat dengan berbagai aktivitas. “Diharapkan dampak positif bagi kemajuan Pontianak,” harapnya.
Penggunaan pakaian telok belanga dalam arakan pengantin menjadi peluang ekonomi kreatif (ekraf) fashion seni budaya. Pastinya mereka akan melakukan kreativitas untuk menciptakan model atau menggali nilai historis yang dulu pernah ada. Sehingga perekonomian tetap tumbuh dalam kegiatan yang dilakukan dengan kreatif dan atraktif.
Melalui Festival Arakan Pengantin ini mudah-mudahan Kota Pontianak semakin dikenal. Termasuk kreativitas dan budayanya. “Kedepan setiap kegiatan harus dievaluasi agar semakin semarak dan meriah,” pesan Edi.
Kecamatan Pontianak Utara berhasil menjadi juara pertama Festival Arakan Pengantin ini. Selain arakan pengantin, tanjidor juga turut diperlombakan. Ketika tanjidor disajikan sekaligus dinilai, Edi sempat naik ke atas panggung. Membaur bersama para peserta, Edi berjoget  diiringi musik tanjidor. Kecamatan Pontianak Timur berhasil meraih juara pertama dilomba tanjidor ini.
Camat Pontianak Utara, Aulia Candra menuturkan, pihaknya tidak ada target juara dalam Festival Arakan Pengantin ini. Keikutsertaan mereka untuk menyemarakkan Harjad Kota Pontianak ke 247. Dirinya yakin, kekompakkan arakan pengantin Pontianak Utara menjadi salah satu nilai plus sehingga meraih juara pertama.
“Alhamdulillah kawan-kawan ASN, PKK, organisasi kemasyarakatan, semua kita libatkan, hasilnya kompak dan berhasil sebagai juara pertama,” tuturnya.
Mantan Kepala Bagian Humas Pemkot Pontianak ini mengatakan, persiapan yang dilakukan pihaknya cukup singkat. Cuma dua pekan. Menurutnya, yang cukup sulit adalah mencocokkan pakaian, barang-barang hantaran dan sebagainya sesuai dengan tema.
“Kami sengaja menonjolkan pakaian dengan warna-warna cerah sebagai wujud semangat dalam merayakan Hari Jadi Kota Pontianak,” tutup Aulia. (*)

 

Editor: Arman Hairiadi