Sekolah Lima Hari Diterapkan Semester Depan

Midji: Anak Usia SD Harus Banyak Bermain

SIPPP. Wali Kota Pontianak Sutarmijdi berfoto bersama para siswa-siswi sambil mengacungkan jari jempol, belum lama ini. Facebook H.Sutarmidji

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) tidak boleh terlalu dibebani dengan pelajaran formal, baik di sekolah maupun les. Karena, hal itu akan membawa masalah bagi perkembangan anak.

Untuk itulah, setelah melalui kajian panjang, Pemerintah Kota Pontianak akan mulai menerapkan sekolah hanya lima hari dalam satu minggu bagi anak-anak SD mulai Januari mendatang.

“Kita akan terapkan awal tahun, atau memasuki semester genap mendatang, SD semuanya lima hari, dan SMP juga,” kata Wali Kota Pontianak H Sutarmidji SH MHum, Senin (14/11).

Untuk menutupi kekurangan jam mata pelajaran di Sabtu, maka setiap harinya jam belajar siswa pun akan ditambah selama satu jam.

“Jam belajarnya ditambah satu jam, setiap hari sudah cukup. Saya yakin itu bisa diwujudkan, saya maunya Januari, biar anak banyak bermain, anak-anak SD itu kan harus, dia jangan dibebani, ada les lah ada apa lah itu,” pesannya.

Wali Kota Pontinak yang akrab disapa Midji ini meminta para orangtua pun dapat memperhatikan perkembangan anak-anaknya.

“Jangan sampai orangtua, sudah dia belajar di sekolah, pulangnya dileskan lagi sampai malam, itu tidak boleh, perkembangan anak harus diperhatikan, tidak boleh,” lugasnya.

Sambil berjalan, Pemkot Pontianak juga akan mempersiapkan segala sesuatunya agar dengan penambahan satu jam dalam setiap harinya itu juga tidak menjadi beban bagi anak.

“Kita siapkan dulu kenyamanan anak di sekolah, kalau kita biarkan lama-lama kalau tidak nyaman nyiksa juga. Tapi saya sudah kaji sejak lama, masih menteri lama sudah kita kaji. SD sebenarnya sudah bisa sekolah lima hari di Pontianak” pungkasnya.

Jika program ini berjalan baik, maka tak hanya SD dan SMP, pihaknya juga akan memberlakukan hal yang sama bagi para siswa SMA dan SMK. Yakni wajib sekolah hanya lima hari dalam satu minggu.

“Tinggal nanti SMA dan SMK, karena Sabtu pun mereka hanya ekstra kurikuler saja, kalau Jumat itukan anak-anak bisa di sekolah, Salat sama-sama ke mana,” tuturnya.

Menurut dia, bukan sesuatu yang sulit untuk menjadikan anak supaya pintar. Tapi tidak mudah untuk menjadikan anak supaya cerdas. Karena menurutnya, kepintaran dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda.

“Pintar gampang membentuknya, kalau cerdas dan berkarakter yang sulit,” sebut Wali Kota Pontianak dua periode ini.

Midji mengatakan, untuk membuat supaya anak pintar, cukup dengan menyuruhnya belajar atau memperbanyak membaca buku pelajaran. Namun hal itu tidak cukup untuk mendukung kesuksesan anak di masa mendatang.

“Kita boleh ingin anak kita pintar, tapi dia juga harus diajari bagaimana, karakter diri anak itu,” pungkasnya.

Kecerdasan, kata Midji sangat berhubungan dengan bagaimana si anak mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Oleh sebab itu, dia meminta kepada para orangtua, apalagi anak-anak yang masih dalam tahap usia SD, agar diberikan ruang untuk waktunya bermain, atau belajar hal-hal di luar kurikulum sekolah.

“Dia harus cerdas, artinya menyesuaikan kondisi yang ada. Makanya dia harus banyak keluar ke tempat-tempat yang memang di situ juga mendapat pendidikan,” katanya.

Baginya, akan menjadi seperti apa anak nanti, tidak terlepas dari peran orangtua. Untuk itu, orangtua harus bisa mengimbangi kebutuhan anak, supaya pintar dan cerdas. Karena, ada beberapa informasi yang mendukung kecerdasan anak yang tidak ditemukan di buku pelajaran.

“Di televisi juga anak bisa dapat pendidikan. Anak kita ajak diskusi,” ujar pria yang digadang-gadang sebagai bakal calon Gubernur Kalbar ini.

 

Laporan: Fikri Akbar

Editor: Arman Hairiadi