Sambas Perlu Bangun Wisata Perbatasan

Poltesa Gelar Seminar Nasional

SEMINAR. Politeknik Negeri Sambas melaksanakan seminar nasional untuk mendorong percepatan pembangunan perbatasan, Rabu (31/7) di Aula DPRD Kabupaten Sambas. (SAIRI/RK)

eQuator.co.id – SAMBAS-RK. Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) melaksanakan seminar nasional untuk mendorong percepatan pembangunan daerah perbatasan, Rabu (31/7) di Aula DPRD Kabupaten Sambas.

Seminar nasional ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis Politeknik Negeri Sambas ke-11.

Hadir sebagai pembicara, Direktur Pengembangan Daerah Perbatasan, Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (PDTu), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Dra. Endang Supriani, MM dan didampingi narasumber lokal yaitu Sekertaris Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Sambas, Edi, SE. M. Eng.

Direktur Poltesa Mahyus, S.Pd S.E. M.M mengatakan, seminar nasional yang mengusung tema percepatan pembangunan daerah perbatasan ini dirancang karena Kabupaten Sambas masih tergolong daerah tertinggal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

“Sehingga kita berinisiatif melalui momentum ini digunakan untuk memberikan pencerahan dalam bentuk seminar nasional dengan menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat,” katanya.

Melalui seminar ini diharapkan, masyarakat, mahasiswa, dosen dan akademis bisa memberikan saran dan masukan kepada pemerintah pusat untuk melaksanakan pembangunan di daerah perbatasan terutama di Kabupaten Sambas.

“Karena kita melihat pada 2020-2024, Kabupaten Sambas tidak masuk lagi dalam strategis pembangunan nasional, padahal kita punya keistimewaan-keistimewaan terutama pada daerah perbatasan, sehingga perlu untuk dibangun agar bisa menyeimbangi Negara Malaysia,” ujarnya.

Terutama pada pembangunan sektor pariwisata, dimana Kabupaten Sambas  memiliki potensi pariwisata perbatasan atau cross border yang perlu sentuhan dari pembangunan pemerintah pusat.

“Kita ambil contoh Danau Toba saja mendapat bantuan dari APBN sebesar Rp3,3 triliun, memang kita bersyukur pada pembangunan jalan telah diselesaikan oleh Presiden Jokowi, namun kita juga menginginkan pembangunan-pembangunan di sektor lain, terutama pariwisata,” jelasnya.

Apabila sektor pariwisata tidak dikembangkan, dikawatirkan peluang menjaring wisatawan mancanegara (wisman) perbatasan dari negara tetangga akan sia-sia. Wisman tak menjangkau destinasi wisata yang ada. Mereka hanya datang lalu pergi, sehingga Kabupaten Sambas tidak mendapatkan apa-apa.

“Maka kita berharap pada kepemimpinan Presiden Jokowi agar tetap memprioritaskan pembangunan Kabupaten Sambas yang merupakan daerah perbatasan sesuai program pemerintah yang ingin membangun infrastruktur dari wilayah pinggiran dan terluar,” tuturnya.

Menurutnya, jika negara tidak membangun sektor wisata ini, dikhawatirkan banyak investor yang masuk dan membangun, namun tidak mensejahterakan daerah sekitar.

“Kita tidak ingin terjebak pada kemajuan daerah wisata yang dibangun para investor dan dikelola secara kapitalis, sehingga tidak mensejahterakan masyarakat daerah sekitar,” pungkasnya. (Sai)