RIP Demam Pokemon Go (2016–2016)

Cause of Death: Kurang Variasi

138
ilustrasi.net

eQuator.co.id – Permainan Pokemon Go resmi dirilis pada 6 Juli. Dimulai dari Australia, Selandia Bru, lalu AS dan Kanada. Berlanjut pada 14 Juli, penduduk Inggris bisa mengunduh game tersebut melalui aplikasi Android dan iOS. Sejak itu, permainan tersebut berturut-turut meluas ke negara lain. Termasuk Indonesia, yang kebagian jadwal rilis 6 Agustus.

Keriuhan terjadi. Apalagi, meski belum masuk secara resmi, game itu bisa diunduh dengan file apk untuk Android ataupun Apple ID negara lain untuk iOS. Dengan bantuan GPS, banyak orang yang asyik berburu Pokemon. Terasa menyenangkan karena game itu memberikan sensasi baru. Memunculkan monster-monster lucu di layar smartphone. Keluar-masuk tempat umum, berkeliling kompleks, hingga masuk kuburan dilakukan demi mendapat monster idaman atau menguasai gym.

Dunia terkena demam Pokemon Go. Di mana-mana, mudah menemukan orang yang menangkapi Pokemon. Banyak kasus menarik terjadi. Ada orang tua di San Tan Valley, Arizona, yang ditahan polisi akibat penelantaran anak karena saking asyiknya mencari Pokemon. Ada pula dua pria yang terjatuh dari tebing di Encinitas, California.

Belum lagi, muncul berbagai larangan mencari Pokemon di area-area privat. Masih banyak kasus lain yang muncul dengan penyebab sama, yakni pemburu yang terlalu antusias memainkan game-nya. Ditambah pula, para selebriti ikut keranjingan memainkannya. Betul-betul menjadi fenomena luar biasa. ”Saya tidak menyangka hasilnya akan seheboh ini. Prediksi kami, penggemar Pokemon Go hanyalah mereka yang mengenal Pokemon sejak 1998 atau 2000,” ujar John Hanke, CEO Niantic sekaligus kreator Pokemon Go.

Situs Guinness World Records mencatat, tak kurang lima rekor dibuat Pokemon Go. Yakni, mobile game dengan pemasukan tertinggi bulan pertama, mobile game paling diunduh pada bulan pertama, mobile game dengan total unduhan terbanyak dan pemasukan tertinggi secara internasional pada bulan pertama, serta mobile game paling cepat yang mampu menghasilkan USD 100 juta karena hanya butuh waktu 20 hari saja.

Masa-masa indah itu ternyata hanya sebentar. Memasuki September, penurunan terjadi. Berdasar pantauan Forbes, tren itu sebetulnya terbaca sejak akhir Agustus. Di AS, 80 persen atau sekitar 10 juta user aktif kehilangan minat. Masih pada bulan yang sama, popularitas Pokemon Go di App Store dikalahkan oleh game pendahulunya, Clash Royale. Pencarian di Google juga turun drastis.

Pada pertengahan September, sejumlah situs menyatakan bahwa Pokemon Go sudah tidak populer lagi. Para pemain bosan dengan fitur permainan yang itu-itu saja. Mencari monster, bertarung di gym, dan menaikkan level. Sesimpel itu. Tidak ada tantangan baru.

Spyke O’Hanlin, anggota Pokemon Go! Southwest Trainers, komunitas Pokemon Go terbesar di Plymouth, AS, membenarkan adanya penurunan popularitas game. ”Belakangan ini, anggota kami sudah tidak terlalu sering bermain,” ujarnya kepada The Herald. O’Hanlin pun menjelaskan bahwa komunitasnya sudah tidak ramai.

Kini grupnya hanya menerima satu, dua, atau kadang tak ada permintaan bergabung dalam satu hari. Padahal, pada bulan pertama Pokemon Go dirilis, permintaan bergabung bisa mencapai puluhan dalam sehari. ”Semakin lama, jumlah anggota juga semakin menurun seiring menurunnya popularitas game,” ujarnya.

Sejumlah alasan bermunculan terkait dengan penurunan popularitas Pokemon Go. Yang pertama adalah kurangnya variasi. Pada masa awal, player akan merasa seru mencari Pokemon atau mendapatkan item di berbagai Pokestop. Namun, setelah mendapatkan berbagai monster dan item, ya sudah. Tidak ada lagi misi khusus yang menantang. Apalagi jika tak digunakan, item yang didapat dari Pokestop itu tak bisa ditambah. Rasanya sia-sia melewati banyak Pokestop tapi bag-nya sudah penuh. Bikin bosan.

Demikian pula pertarungan di gym. Selesai bertarung atau menaikkan level, tidak ada perubahan atau privilege yang signifikan bagi player, selain poin untuk memperkuat Pokemon. Setelah berhasil menguasai gym, tak ada lagi level baru permainan. Player hanya bisa melakukan hal yang sama. Mencari monster, lalu bertarung. Begitu saja berulang. Tak ada tantangan.

Janji Niantic yang diungkapkan di San Diego Comic Con Juli lalu pun seolah hanya angin lalu. Saat itu Hanke berjanji menambahkan fitur-fitur baru. Misalnya, interaksi antar pemain (selain bertarung), trading (tukar Pokemon), dan Pokemon Center (pusat perawatan dan pemulihan kekuatan Pokemon). Nyatanya, hingga kini ketiganya belum terwujud. Game Pokemon Go relatif masih sama dengan saat dirilis.

Jumlah Pokemon pun tak berubah. Yakni, 151 jenis Pokemon dari generasi pertama. Dari jumlah itu, 6 Pokemon belum dirilis. Yakni, Articuno, Zapdos, Moltres, Ditto, Mew, dan Mewtwo.

Penyebab lain adalah kecurangan pemain yang tidak mendapatkan sanksi apa pun. Di game populer lain seperti Clash of Clans, pemain yang curang akan di-banned oleh developer game. Mulai banned sementara sampai akunnya dibekukan. Di Pokemon Go, hal itu sebelumnya tak terjadi meski kini sudah mulai ada kebijakan baru menindak mereka yang menggunakan fake GPS atau curang saat tarung.

Menyikapi hal itu, O’Hanlin dan para anggotanya mendesak Niantic untuk segera melakukan terobosan. Selama ini, kabar pembaruan fitur hanya sekadar berita di media sosial. ”Belum ada langkah pasti atau bahkan event khusus seperti yang dijanjikan Niantic. Kalau mereka seperti ini, Pokemon Go bisa mati selamanya,” ujar pria 31 tahun itu. (len/c11/ayi)