PRAY FOR PARIS

PENJAGAAN. Polisi bersenjata patroli berjalan kaki mengelilingi area Saint- German, di Paris, 14 November. I ST / N ET

eQuator – Pierre Janaszak awalnya mengira lima orang bersenjata AK-47 yang mendadak masuk ke gedung konser Bataclan itu adalah bagian dari pertunjukan. Sebab, di gedung berkapasitas 1.500 orang tersebut, sejam sudah band Eagles of Death Metal mengentak para penggemar mereka.

Begitu lima orang itu mulai melepaskan tembakan, baru Janaszak dan semua yang ada di dalam gedung di Paris tersebut sadar. Hingga sekitar 20 menit kemudian, sebelum polisi datang, yang terjadi adalah pembantaian.

Lima penyerang itu menembak secara membabi buta ke arah penonton pertunjukan yang tiketnya terjual habis tersebut. Mereka juga melemparkan beberapa granat.

”Darah dan mayat di mana-mana,” kenang Janaszak yang bekerja sebagai penyiar radio seperti dikutip BBC, Sabtu (14/11) waktu setempat.

Kengerian di Bataclan itu hanyalah satu di antara enam teror penembakan dan peledakan bom di Paris yang terjadi hanya dalam waktu 100 menit pada Jumat malam (13/11) waktu setempat (Sabtu dini hari WIB). Persisnya dimulai dari penembakan di Bar Le Carillon pada pukul 21.20 sampai penyerbuan ke Bataclan 1 jam 40 menit kemudian.

Muara dari malam jahanam di Paris itu, sampai berita ini selesai ditulis tadi malam pukul 23.30 WIB, sedikitnya 128 orang tewas dan 200 lebih luka-luka. Kondisi 99 di antara korban luka tersebut kritis. Presiden Prancis Francois Hollande pun menyatakan negaranya berada dalam kondisi darurat serta menutup semua perbatasan.

Itulah serangan paling mematikan di Eropa sejak pengeboman di Madrid, Spanyol, pada 2004. Padahal, baru Januari lalu Paris diguncang penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo yang total menewaskan 12 orang. Dunia pun kemarin ramai-ramai berdoa untuk Paris (Pray for Paris), selain mengutuk tentunya.

Kelompok ISIS (Negara Islam Iraq dan Syria) menyatakan diri bertanggung jawab atas serangan yang membuat Prancis berkabung nasional selama tiga hari tersebut.

Mereka menyebutnya sebagai harga yang harus dibayar Prancis atas keterlibatan dalam konflik Syria. ”Delapan saudara kami membawa bom dan senjata untuk menyerang area di jantung ibu kota Prancis yang sebelumnya telah dipilih. Prancis dan mereka yang mengikuti jalurnya harus tahu bahwa mereka tetap menjadi target utama kami.” Demikian petikan bunyi pernyataan bertanggung jawab ISIS yang ditulis dalam bahasa Prancis dan Arab seperti dikutip The Guardian.

Sebelum ISIS mengeluarkan pernyataan, Hollande secara terbuka menyebut mereka sebagai pelaku. ”Serangan mereka diorganisasi dan ditata dari luar dengan bantuan pihak dalam di Prancis,” katanya.

Bagi Hollande, aksi barbar tersebut adalah pernyataan perang. Dan, lanjut presiden dari Partai Sosialis tersebut, Prancis akan menjawab tantangan itu dengan menyiapkan pembalasan tanpa ampun.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius yang tengah berada di Wina, Austria, untuk membahas upaya mencari perdamaian di Syria juga menegaskan kesiapan negaranya menghadapi ISIS. ”Salah satu tujuan kami dalam pertemuan di Wina adalah mencari solusi konkret bagaimana kami bisa menguatkan kerja sama melawan Daesh,” tegas Fabius seperti dikutip AFP. Daesh adalah akronim ISIS dalam bahasa Arab.

Namun, benarkah ISIS bisa sedemikian matang menyiapkan rencana serangan ke sebuah negara Eropa dari tempat operasi mereka di Iraq dan Syria? Salah satu bukti yang dipegang pihak keamanan Prancis adalah ditemukannya paspor Syria dan Mesir di dua di antara tiga jasad pengebom bunuh diri di dekat Stade de France.

Jason Burke, pakar ISIS yang bekerja di The Guardian, juga mengatakan bahwa klaim pertanggungjawaban ISIS itu cukup kredibel. Keyakinannya tersebut didasarkan pada hasil pelacakan SITE, sebuah firma berbasis di Amerika Serikat yang mengkhususkan diri pada pelacakan pernyataan teroris.

”Sebelum ISIS mengeluarkan pernyataan, ada sejumlah pesan antimedia Prancis dari beberapa akun yang terkait dengan ISIS,” tulis Burke.

Kebalikannya, pakar terorisme lainnya, Charlie Winter, justru meragukan. Sebab, pernyataan ISIS tersebut tidak memuat informasi baru. Nama-nama pelaku lapangan yang terlibat pun tak ada, sesuatu yang tidak lazim dalam kebiasaan kelompok itu.

”Jadi, sulit sekali untuk memastikan apakah aksi tersebut terinspirasi atau diotaki (ISIS),” kata senior research associate di Georgia State University itu via Twitter pribadi.

Senada dengan Winter, Thomas Hegghammer, direktur Riset Terorisme pada Biro Riset Pertahanan Norwegia, skeptis pada begitu cepatnya pemerintah Prancis menyimpulkan ISIS sebagai pelaku.

”Kita tidak bisa sepenuhnya percaya itu aksi ISIS sampai ISIS bisa menunjukkan info unik terkait peristiwa tersebut. Baik berupa nama-nama pelaku lapangan maupun foto-foto saat mereka berlatih sebelum melakukan serangan,” katanya, juga di Twitter.

Selain pernyataan bertanggung jawab, ISIS sebenarnya merilis video yang berisi ancaman kepada Prancis. Video itu dirilis lewat sayap propaganda mereka, Al Hayat, dan menampilkan salah seorang anggota kelompok radikal tersebut. Tetapi, juga tidak jelas kapan dan di mana video itu dibuat.

Pria tersebut mendesak kelompok muslim Prancis untuk turut melancarkan serangan. ”Selama kalian masih terus mengebom (Syria), kalian tidak akan pernah hidup dengan damai. Bahkan ke pasar pun kalian akan ketakutan,” kata si pria berjanggut tebal itu seperti dikutip Reuters.

Yasmine, seorang saksi mata di Bataclan, juga mengaku mendengar salah seorang penyerang meneriakkan, ”Kalian harus membayar apa yang kalian lakukan di Syria.”

Yasmine terkena tembakan di kaki. ”Semua orang berusaha menyelamatkan diri dengan bertelungkup di lantai. Saya tak pernah melihat mayat sebanyak itu,” ujarnya sembari menangis kepada kanal televisi BFM.

Aparat keamanan butuh waktu total sekitar dua jam untuk mengakhiri penyerangan di Bataclan itu. Penyerang sempat menyandera belasan penonton. Di pengujung drama, tiga di antara mereka akhirnya meledakkan bom bunuh diri. Dua lainnya tertembak aparat: satu di dalam gedung, satunya lagi di jalan tak jauh dari tempat pertunjukan tersebut.

Sementara itu, meski Prancis menutup perbatasan dan memperketat pengamanan, tidak berarti negeri tuan rumah Euro 2016 tersebut tertutup total. Sebelas bandara di Paris dan sekitarnya tetap beroperasi seperti biasa, termasuk bandara utama, Charles de Gaulle.

Penerbangan dari dan ke ibu kota Negeri Menara Eiffel itu juga masih normal. Namun, memang ada beberapa maskapai yang memilih untuk menghentikan operasional penerbangan untuk sementara waktu. Salah satunya adalah American Airlines.

Sebaliknya, maskapai-maskapai yang lain sama sekali tidak mengubah jadwal penerbangan. Di antaranya adalah United, Delta, Air France, KLM, dan Royal Dutch Airlines.

Rusia pun menegaskan bahwa jadwal penerbangan ke Paris tidak berubah. ”Rosaviatsiya tidak berpikir ke sana (membekukan penerbangan, Red),” terang seorang juru bicara Biro Transportasi Udara Rusia tersebut.

Kremlin juga menegaskan bahwa pihaknya akan meningkatkan pengamanan. Maklum, belum lama berselang, sebuah pesawat komersial mereka jatuh di Sinai, Mesir, dan menewaskan 224 orang di dalamnya.

Dalam edaran resmi, Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan bahwa teror tidak mengganggu aktivitas perhubungan Prancis. ”Seluruh bandara di Paris tetap beroperasi normal. Tetapi, sudah pasti keamanannya dilipatgandakan,” terang Kementerian Luar Negeri Prancis.

Selain bandara, sistem transportasi darat di Paris tetap normal. Rute kereta api yang menghubungkan ibu kota dengan kota-kota lain di Prancis dan belahan Eropa lainnya tetap normal. Termasuk Eurostar yang menjadi sarana transportasi favorit warga Prancis dan Inggris. Sempat terganggu pada Jumat malam lalu, Eurostar sudah beroperasi normal kemarin.

Di luar transportasi, sektor perekonomian lain yang langsung menanggung akibat pembantaian di Paris adalah pariwisata. Kemarin pemerintah pusat memerintah seluruh tempat hiburan atau objek wisata tutup.

Demikian halnya dengan sekolah-sekolah, pasar, museum, dan sejumlah kantor. Itu berkaitan dengan hari berkabung nasional Prancis yang bakal berlangsung tiga hari. Band U2 pun membatalkan konser di Paris kemarin yang sedianya dijadikan film dokumenter.

”Hari ini seluruh fasilitas (umum) di kota ini tutup,” terang Balai Kota Paris pada laman depan situs resminya.

Kolam renang, lapangan tenis, pasar buah, dan gedung-gedung olahraga juga tidak beroperasi. Nyaris seluruh kantor lembaga pemerintah juga tutup kemarin. Satu-satunya kantor yang buka adalah catatan sipil. Sebab, mereka tetap harus mencatat pernikahan atau kelahiran dan kematian.

Di tempat terpisah, Kementerian Olahraga Prancis mengimbau federasi olahraga agar membatalkan seluruh agendanya akhir pekan ini. Misalnya, pertandingan rugbi untuk memperebutkan Piala Eropa.

Selamat berkat

Telpon Genggam

Selalu ada kisah yang menghangatkan hati di balik setiap tragedi. Tidak terkecuali peristiwa keji yang mengguncang ibu kota Prancis Jumat malam (13/11) itu. Berkat internet, kisah-kisah tersebut dengan cepat tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Salah satunya kesaksian Sylvestre.

Pemuda berkulit hitam itu menyatakan sedang berbicara di telepon dengan temannya saat ledakan bom dan berondongan peluru menggemparkan Kota Paris. ”Saya baru saja mengakhiri pembicaraan saat tiba-tiba sesuatu mengenai telepon genggam saya dengan keras,” katanya kepada iTele.

Akibatnya, telepon genggam Sylvestre rusak. Layar telepon genggam itu pun pecah dan casing bagian belakang rusak parah.

Saat itu Sylvestre baru menyadari bahwa ada serangan teror di Stade de France. Beruntung, meski melintasi gedung tersebut, dia luput dari maut.

”Telepon genggam ini menyelamatkan nyawa saya. Jika pecahan bom itu tidak mengenai benda ini, jelas kepala saya yang hancur,” paparnya.

Dia tidak henti bersyukur karena masih selamat, meski nyawanya nyaris melayang. Tidak seperti beberapa saksi atau korban selamat yang lain, Sylvestre sama sekali tidak menyebut pelaku.

Beberapa orang mengatakan bahwa pelaku yang meledakkan bom maupun menembaki target dengan kalem tersebut memakai pakaian serbahitam. Sylvestre yang ketika itu hanya kebetulan melintasi Stade de France tidak terlalu perhatian. Sebab, fokusnya adalah perbincangan dengan temannya di telepon. (AFP/theindependent/Jawa Pos/JPG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.