Pontianak 5 Menit, Ketapang 2 Menit

Gerhana Matahari Tertutup Awan

238
PENUH. Hampir lima ribu umat muslim Kota Pontianak shalat gerhana berjamaah di Masjid Mujahidin, Rabu (9/3) pagi. OCSYA ADE CP

Pontianak-RK. Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) di Kota Pontianak tidak bisa dilihat secara keseluruhan, Rabu (9/3) pagi. Cuaca berawan menyelimuti langit Pontianak, sehingga gerhana hanya dapat dilihat selama beberapa menit saja. Terlebih sebelumnya Kota Pontianak diguyur hujan lebat, sekira pukul 03.00 dinihari.

Fenomena tersebut mulai terlihat sekitar pukul 08.05 hingga pukul 08.10. Waktu yang sangat singkat tersebut tak disia-siakan pengamat Lembaga Penerbagan dan Antariksa Nasional (Lapan), pecinta fotografi, hingga masyarakat umum.

Lapan bekerjasama dengan Pemkot Pontianak menyediakan tempat pengamatan di dua lokasi berbeda, yaitu di Kantor Lapan dan Masjid Mujahidin.

Petugas Fungsional Perekayasa Muda Lapan, Iskandar Bakri mengatakan, jika kondisi cerah, maka gerhana bisa disaksikan sejak pukul 06.23 dengan puncak pukul 07.27 dan berakhir pukul 08.40. “Hanya masalah awan saja tadi yang mengganggu pandangan. Seperti yang kita lihat tadi, tidak bisa terekam dengan baik. Kalau kemarin bisa terlihat jelas,” katanya.

Di Pontianak sendiri kata Iskandar, seharusnya gerhana bisa disaksikan dengan intensitas 93 persen, jika kondisi cerah. Secara keseluruhan, gerhana tersebut terjadi dalam durasi 2 jam 17 menit. Dari durasi tersebut, hanya 5 menit yang bisa dilihat dan terpantau. “Jadi hanya 3,65 persen dari total durasi yang bisa kita lihat tadi,” ujar Iskandar.

Saat fenomena ini terjadi, Kota Pontianak sempat terasa gelap. Dengan awan mendung menyelimuti, suasana gelap itu masih bisa dirasakan. “Sempat terasa gelap saat puncak gerhana tadi,” kata Iskandar.

Sejak pukul 06.00, ribuan umat muslim saling silih berganti datang melaksanakan sholat gerhana atau sholat khusuf di Masjid Mujahidin. Mereka kebanyakan berkendaraan sepeda motor, sudah terlihat memadati parkiran masjid. Jamaah kemudian memenuhi bagian dalam masjid, hingga meluber di pelantaran parkir kendaraan. Shalat khusuf itu berakhir sekitar pukul 08.00. Ketika umat satu per satu meninggalkan masjid, perlahan matahari mulai terlihat muncul dari balik awan.

Tak sedikit yang bersorak melihat gerhana matahari menggunakan kacamata tiga dimensi yang dibagikan pemerintah. “Wow, nampak ya. Meskipun tidak full, tapi terlihat jelas. Semoga ini menjadi berkah kita semua,” harap Yulistia, 26, warga Jalan Wonobaru, Gang Madyosari II, Pontianak Selatan, usai sholat khusuf dan menyaksikan langsung fenomena alam ini.

Momen ini sedianya pernah terjadi pada tahun 1983. Momen tersebut akan terjadi lagi pada tahun depan, tetapi di wilayah Amerika Serikat.

Pasutri Kecewa

Tanpa mengumbar tawa bahkan senyum pun enggan, pasangan suami istri (Pasutri) asal Tanjung Periok-Jakarta, Arisutrisno, 63, dan istrinya Margiyati, 51, tampak kecewa, lantaran GMT di Pontianak tertutup awan. Padahal kedatangannya ke kota khatulistiwa, hanya untuk menyaksikan gerhana.

“Kami datang hanya berdua saja, siang (Selasa) kemarin ke sini. Tidak ada sanak keluarga, memang saya khususkan ke Pontianak untuk melihat gerhana matahari, tapi kondisinya seperti ini,” ujar Arisutrisno kesal saat diwawancarai Rakyat Kalbar di TeraSky lantai sembilan, Transera Hotel Pontianak, Rabu (9/3) sekitar pukul 09.00.

Pasutri yang sudah stay di TeraSky Transera Hotel sejak Pukul 05.40 itu, dengan kursi khusus dan satu meja yang disediakan pihak hotel. Awalnya keduanya sangat semangat dan sesekali melihat ke arah terbit matahari di upuk timur. Hanya saja, cahaya yang diharapkannya muncul untuk dilihat sampai jelang pukul 09.25, tak tampak sama sekali.

“Karena awannya seperti itu, jadi malas melihat ke atas, lebih baik pantau lewat hanphone saja secara live yang disiarkan di televise,” paparnya.

Sedangkan Margiyati melalui telepon selulernya di atas meja, sesekali melihat ke arah layer lebar yang disediakan pihak hotel. Tapi tetap saja, raut wajahnya tampak muram.

“Untung ada infocusnya dari pihak hotel, kalau tidak ya kami hanya bisa lihat lewat HP yang layar kecil ini,” ujarnya.

Kedatangan pasutri untuk pertama kalinya di Pontianak, mengakui keindahan Kota Khatulistiwa. Terlebih saat melihat dari ketinggian di Transera Hotel.

“Cuma mau keluar di malam hari mau cari makanan susah, yang ada hanya warung kopi sepanjang jalan. Tapi suasananya enak dan nyaman, tidak berisik,” katanya.

Disinggung apakan jera atau tidak mendatangi Kota Pontianak, lantaran Kamis (10/3) sudah harus pulang ke Jakarta, keduanya malah mengatakan akan kembali lagi ke Kota Pontianak untuk mengunjungi beberapa lokasi di Pontianak.

“Saya dikabarkan, kalau di sini ada musem yang cukup bagus, ada keratonnya, kemudian ada juga Tugu Khatulistiwa. Kemungkinan besar nanti akan kembali lagi ke Pontianak bersama keluarga yang lain. Apakan lagi hotelnya murah, termasuk hotel ini (Transera),” ungkap Margiyati.

General Manager (GM) Transera Hotel, Patris mengatakan, sejauh ini dapat merasakan kekecewaaan pelanggannya yang tidak dapat menyaksikan langsung gerhana matahari, lantaran tertutup dengan awan tebal, cahanyanya tidak dapat menembus awan tersebut.

“Terlihat di siaran televisi, terutama di Belitung, memang terlihat dengan jelas gerhananya. Transera Hotel sudah mempersiapkan degan baik, bahkan tamu-tamu yang datang dari Kota Pontianak, Jakarta dan juga ada dari mancanegara walaupun cuma sebentar,” kata Petris.

“Kita punya spot yang sangat bagus dalam mengamati gerhana matahari. Namun sayang sekali karena memang cuaca dari tadi malam hujan dan sampai saat ini mendung, sehingga tidak terlihat,” sambungnya.

Beruntung, lanjut Patris, kemungkinan sudah diprediksikan pihaknya. Prooyektor yang disediakan itu, setidaknya sedikit mengobati pelanggannya tersebut.

“Namun ada sedikit obat dengan kita memasang layar lebar, seihigga bisa mengamati fenomena 350 tahun sekali terjadi ini,’ ucap GM Transera Hotel ini.

GMT Tertutup Awan

Warga dari berbagai kecamatan berkumpul di pelabuhan Kedawangan Ketapang, ingin menyaksikan langsung fenomena alam GMT, Rabu (9/3) pagi.

Meski cuaca saat itu tidak mendukung dan sempat turun hujan pada pagi harinya, masyarakat, mulai anak-anak hingga dewasa tetap semangat untuk menyaksikan GMT.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Ketapang, Yulianus mengatakan,GMT di Kecamatan Kendawangan tidak seratus persen terlihat, dikarenakan cuaca tidak mendukung. “Ini membuat gerhana matahari tidak terlihat dengan jelas,” katanya.

Yulinus menjelaskan, Gerhana Matahari sekitar 32 tahun yang lalu pernah tejadi, pada 1983. Kali ini hanya berlangsung sekitar dua menit lebih, mulai pukul 7.30 hingga pukul 7.32.

“Kita berharap, kunjungan wisata di Kabupaten Ketapang  tidak hanya semata-mata dikarenakan fenomena alam gerhana matahari saja, namun juga bisa menyaksikan keindahan alam dan kebudayaan masyarakat yang sangat menarik dan beraneka ragam,” ujar Yulinus.

Bupati Martin Rantan mengatakan, fenomena alam gerhana matahari kali ini, meskipun tertutup awan tebal, tapi sempat dua menit membuat wilayah Kecamatan Kendawangan Gelap.

Bupati merasa bangga meskipun gerhana  matahari di Kecamatan Kendawangan cuma sebentar dan tertutup awan sekitar 90 persen ,tapi kegiatan ini di desain sekian rupa oleh Dinas Pariwisata Ketapang yang lebih menonjolkan kewisataannya, bisa berjalan sukses.

Warga Delta Pawan, Ketapang, Raden mengungkapkan, bersama beberapa temannya sengaja pergi ke Kendawangan, hanya ingin melihat gerhana matahari.

“Sayang gerhana matahari di Kabupaten Ketapang tidak terlihat sempurna, tertutup awan,” ungkapnya kecewa.

“Walaupun hanya sekitar dua menit, tapi ini sangat nyata. Suasana seperti malam hari, gelap gulita,” ungkapnya.

Laporan: Ocsya Ade CP, Gusnadi, Jaidi Chandra

Editor: Hamka Saptono