Polda Kalbar Masih Selidiki Akun Penyebar Hoaks

48
Ilustrasi : Internet

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Tim Cyber Crime Polda Kalbar masih melakukan penyelidikan terhadap laporan adanya akun yang menyebar berita bohong alias hoaks yang berkaitan dengan Pemilihan Kepala Daerah di Bumi Khatulistiwa ini.

“Polda Kalbar mendapatkan laporan terkait hoaks jelang Pilkada, tetapi masih berbentuk laporan,” ungkap Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono belum lama ini.

Menurutnya, untuk menindaklanjuti laporan itu, pihaknya masih memerlukan pendalaman lagi sesuai dengan yang diatur oleh Undang-undang ITE.

“Ada satu laporan yang masuk, berkaitan penyebar informasi hoaks di media sosial. Kita masih lakukan pendalaman,” ujarnya

Agar proses pelaksanaan Pilkada ini berjalan dengan lancar dan kondusif, maka ia juga mengimbau semua pihak terutama masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan cerdas, tidak melakukan kegiatan yang bersifat menghujat, memprovokasi, bahkan melakukan kampanye hitam (black campaign).

“Itu semua diatur dalam undang-undang, normal-normal saja, wajar-wajar saja dan saling menghargai juga bertoleransi sesama para pendukung dan semua pihak terlibat untuk mengawasinya,” pintanya.

Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Informasi (AMPI) Edi Suhairul berharap pemerintah termasuk aparat penegak hukum dan pemangku kepentingan dapat memaksimalkan pencegahan dan penindakan hoaks melalui satuan tugas dan sub organ yang dibentuk internal maupun internal/koordinasi lintas sektoral.

“Aparat penegak hukum dan pemerintah mesti mengambil langkah tegas bagi pelaku atau penyebar hoaks dengan implementasi jerat hukum sesuai ketentuan perundang-undangan berlaku,” kata Edi.

Ia menambahkan, hoaks menjadi tantangan, tidak hanya bagi pemerintah dan aparat penegak hukum, namun juga bagi seluruh elemen masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi.

“Perang terhadap hoaks sudah harus digelorakan karena penyebarannya sangat masif,” jelasnya.

Kesadaran dan budaya literasi masyarakat sebagai pengguna media social, saat ini menurut Edi Jenggot (sapaannya), masih rendah.

“Ini menjadi sasaran empuk bagi pelaku dan penyebar hoaks yang jauh dari semangat keberagaman dan lebih mengarah kepada sikap intoleransi,” pungkasnya. (Riz/***)