PLN Dituding Bangun Image dengan Langgar Etika, Media Seolah Wastafel untuk Cuci Tangan Saja

Ibnu Utomo/Ketua Forum Masyarakat Anti Pembodohan

12 – Forum Masyarakat Anti Pembodohan memprotes tindakan Deputi Manajer Komunikasi dan Hukum PLN Wilayah Kalbar, Doing saat memberikan satu unit sepeda motor kepada salah satu media massa baru-baru ini.

“PLN Kalbar sedang krisis. Selain itu kinerjanya belum optimal. Kenapa Doing malah memberi hadiah begitu,” sesal Ketua Forum Masyarakat Anti Pembodohan, Ibnu Utomo, di Hotel Golden Tulip Pontianak, Rabu (25/11).

Saking kesalnya, pria bertubuh tambun ini menyebut, Doing tidak memiliki etika. “Orang ini etikanya sudah tidak ada. Dia berbuat semena-mena,” hardik Ibnu sambil menunjuk foto Doing ketika menyerahkan sepeda motor yang diterbitkan oleh salah satu koran daerah.

Ibnu lantas mempertanyakan dari mana sumber dana hadiah Doing tersebut. “Sekarang saya bertanya, uang untuk beli motor itu dari mana? Mohon dijelaskan Pak Doing. Sebagai warga negara, saya berhak tahu,” tegas Ibnu.

Ia berpendapat, jika PLN Wilayah Kalbar memang mau memberikan CSR, sebenarnya masih banyak yang lebih bermanfaat. “Misalnya memberikan bantuan berupa bedah rumah. Tapi kalau begini, kita tahu kalau pemberian hadiah itu hanyalah upaya membangun image,” satirnya.

Kepada wartawan koran ini, Ibnu berpesan, supaya perusahaan media massa jangan gampang menerima sesuatu. Menurutnya, sebelum menerima pemberian dari seseorang alangkah baiknya dicari tahu dulu sumber dana itu dari mana dan apa maksudnya.

“Jangan gampang menerima sesuatu. Media menerima hadiah itu dalam rangka apa? Saya tanya, ada atau tidak ikatan atau kerjasamanya?Ini perlu dipertanyakan!Sebaiknya PLN berikan masyarakat itu sesuatu hal-hal yang berguna,” lugasnya.

Pembaca ingin tahu kelanjutan kritikan Ibnu terhadap PLN Wilayah Kalbar?Simaklah wawancara wartawan Rakyat Kalbar bersama Ibnu Utomo selengkapnya;

+Menurut anda, apa motivasi PLN Wilayah Kalbar memberikan sepeda motor itu?

-Mohon maaf dengan segala hormat kepada media yang bersangkutan. Bukannya saya tidak senang. Tapi menurut hemat saya, pemberian itu seolah menggambarkan bahwa ada kepentingan-kepentingan PLN Wilayah Kalbar kepada media untuk membangun citra perusahaan setrum itu.

+Lantas mengapa anda memprotes PLN Wilayah Kalbar memberikan hadiah ke perusahaan media?

-Kalau orang Jawa bilang, pemberian ini bisa ewo pakewo. Kalau PLN Wilayah Kalbar berkasus, media bersangkutan pasti tidak independen dan kritis dalam membuat berita. Dengan alasan, alamak diakan (Doing, red) pernah bantu kita.

Jadi ke depan, media massa dikhawatirkan tidak ada netralitasnya. Jangan gampang dong menerima hadiah. Apalagi dari BUMN-BUMN yang bermasalah. PLN ini bukan hanya sekadar bermasalah, tapi sudah bintang limanya masalah.

+Selain itu?

-Hadiah dibeli dari uang siapa, apakah uangnya Doing? Kan mustahil, mana mau Doing keluar satu rupiah pun. Nah sekarang menjadi pertanyaan publik, dalam rangka apa dia memberikan itu. Saya juga mau tahu.

+Anda beranggapan pemberian ini hanya upaya membangun image?

-Ya begitulah. Membangun image sebenarnya ada sarananya. Kali ini, apa yang dilakukan Doing itu sangat tidak beretika. Media seolah dijadikan semacam tempat membersihkan diri. Seperti wastafel untuk cuci tangan.

Padahal media massa itu diperlukan sebagai sarana publik. Saya berpendapat media sangat-sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai kontrol sosial ketika rakyat sudah tidak bisa lagi bersuara.

Kalau sudah begini, media massa bersangkutan akan ngeri-ngeri sedap mau mengkritisi PLN Wilayah Kalbar. Nanti pasti bilang; ‘Waduh, gak bisa ngangkat berita PLN. Karena Bang Doing sahabat kita’.

Jangan gampang lho terima pemberian dari perusahaan plat merah. Polisi dan kejaksaan saja tidak seberani itu. Kalau ini diberikan kepada pejabat negara, sudah termasuk gratifikasi. Jangan main-main lho bos. Saya bukan mau membesar-besarkan, tapi sekadar mengingatkan untuk hati-hati dalam menerima sesuatu.

+Menurut anda, apa yang seharusnya dilakukan media sebelum menerima hadiah itu?

-Media harus cari tahu track record PLN Wilayah Kalbar. Di tengah ketidaknormalan keuangannya dan morat-maritnya kinerja mereka. Apakah pantas PLN begitu? Kecuali, perusahaan BUMN ini tidak bermasalah. Apa yang dilakukan Doing itu ending-nya sudah ke baca.

+Anda menengarai PLN Wilayah Kalbar punya maksud tertentu?

-Tentu Doing berupaya menguasai salah satu media yang ada di Kalbari. Sebenarnya masih banyak media dan mengapa Doing tidak menyumbang ke media-media lain? Kenapa Doing tidak mau bantu Rakyat Kalbar yang sering mengkritisinya?

Independensi media harus dijaga. Jangan sampai ditunggangi kepentingan-kepentingan PLN. Jangan sembarang. Saya bicara kali ini secara blak-blakan.

+Pesan anda?

-Media jangan sampai makan budi dari BUMN dan orang-orang yang bermasalah. Dengan harga motor Rp10 sampai Rp15 juta, dosa mereka bisa terhapus. Dosa mereka miliaran, masak bisa ditutupi dengan Rp15 juta.

Reporter: Deska Irnansyafara

Redaktur: Andry Soe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.