Peran Gizi dalam Upaya Pencegahan Komplikasi Campak dan Rubella

60
Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak berfoto bersama--Mahasiswa for RK

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah pada kulit. Rubella umumnya menyerang anak-anak dan remaja. Menurut data dari WHO, pada tahun 2016 di Indonesia terdapat lebih dari 800 kasus rubella yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella dan dapat menyebar dengan sangat mudah. Penularan utamanya dapat melalui butiran liur di udara yang dikeluarkan penderita melalui batuk atau bersin. Berbagi makanan dan minuman dalam piring atau gelas yang sama dengan penderita juga dapat menularkan rubella. Sama halnya jika menyentuh mata, hidung, atau mulut, setelah memegang benda yang terkontaminasi virus rubella.

“Walau sama-sama menyebabkan ruam kemerahan pada kulit, rubella berbeda dengan campak,” ujar Nurjanah, Mahasiswi Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Selasa (13/11).

Ia menuturkan, penyakit ini biasanya lebih ringan dibandingkan dengan campak. Tetapi jika menyerang wanita yang sedang hamil, terutama sebelum usia kehamilan lima bulan, rubella berpotensi tinggi untuk menyebabkan sindrom rubella kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan.

“WHO memperkirakan tiap tahun terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang terlahir dengan sindrom ini,” jelasnya.

Sindrom rubella kongenital dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, kerusakan otak, organ hati, serta paru-paru. Diabetes tipe 1, hipertiroidisme, hipotiroidisme, serta pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir dengan sindrom ini.

Penderita rubella pada anak-anak cenderung mengalami gejala-gejala yang lebih ringan daripada penderita dewasa. Tetapi ada juga penderita rubella yang tidak mengalami gejala apa pun, namun tetap dapat menularkan virus rubella.

Penyakit ini, lanjutnya, umumnya membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari sejak terjadi pajanan sampai menimbulkan gejala. Gejala-gejala umum rubella meliputi demam, sakit kepala, hidung tersumbat atau pilek.

“Kemudian tidak nafsu makan, mata merah. Pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher,” katanya.

Selanjutnya, ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah lalu menyebar ke badan, tangan, dan kaki. Ruam ini umumnya berlangsung selama 1-3 hari.

Nyeri pada sendi, terutama pada penderita remaja wanita. Begitu terinfeksi, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dalam waktu 5 hari hingga 1 pekan. Potensi tertinggi penderita untuk menularkan rubella biasanya pada hari pertama sampai hari ke-5 setelah ruam muncul.

Ruam kemerahan akibat rubella memiliki karakteristik yang mirip dengan ruam-ruam lain. Guna memastikan diagnosis, dokter biasanya mengambil sampel air liur atau darah untuk diperiksa di laboratorium.

“Tes tersebut digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi rubella,” ungkap dia.

Apabila terdapat antibodi IgM, berarti orang tersebut sedang menderita rubella. Sedangkan keberadaan antibodi IgG menandakan bahwa seseorang tersebut pernah menderita rubella atau sudah menerima vaksinasi.

Pemeriksaan rubella juga bisa dimasukkan dalam serangkaian tes prenatal untuk ibu hamil, khususnya untuk yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan melalui tes darah.

Jika ibu hamil didiagnosis menderita rubella, pemeriksaan lanjutan yang mungkin dianjurkan adalah USG dan amniosentesis. (Prosedur pengambilan dan analisis sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan pada janin).

Pencegahan rubella yang paling efektif adalah dengan vaksinasi, terutama bagi wanita yang berencana untuk hamil. Sekitar 90 persen orang yang menerima vaksin ini akan terhindar dari rubella. Sejak adanya program vaksinasi, jumlah kasus rubella yang tercatat secara global berkurang secara signifikan.

“Vaksin MR ini memberikan perlindungan terhadap penyakit campak dan rubella. Sebelumnya, pencegahan rubella tergabung dalam vaksin kombinasi MMR yang juga mencegah campak dan gondong,” bebernya.

Pemberian vaksin MR direkomendasikan pada anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun, dan diberikan melalui suntikan pada jaringan lemak (subkutan) lengan atas. Vaksin MR ini diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di bangku kelas 1 SD, yaitu sekitar usia 6 tahun.

Orang dewasa dan anak-anak yang hanya mendapatkan satu kali suntikan vaksin MMR, dapat mendapatkan vaksin MR pada usia berapa pun. Apabila anak sudah pernah mendapat vaksin MMR, vaksin MR ini juga boleh diberikan.

Wanita yang merencanakan kehamilan juga dianjurkan memeriksakan diri melalui tes darah. Jika hasil tes menunjukkan bahwa seorang wanita belum memiliki kekebalan terhadap rubella, dokter akan menganjurkannya untuk menerima vaksin MR. Setelah itu, dia harus menunggu minimal 4 minggu untuk hamil. “Harap diingat bahwa vaksinasi ini tidak boleh dijalani saat sedang hamil,” terang dia.

Pada dasarnya, penyakit campak erat kaitannya dengan gizi. Karena penyakit campak dapat menyerang sistem pernapasan dan sistem kekebalan sehingga anak menjadi rentan terhadap berbagai penyakit infeksi lainnya.

Asupan makanan dan penyakit infeksi merupakan faktor penyebab langsung dari status gizi, dimana keduanya merupakan faktor yang saling berpengaruh. Balita yang terkena penyakit infeksi biasanya mengalami perubahan pola makan, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan gizi. Jika hal ini terjadi dalam waktu yang cukup lama maka dapat menyebabkan kekurangan gizi.

“Anak yang terkena penyakit campak dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan, campak juga dapat memperberat anak-anak yang kurus menjadi lebih buruk lagi status gizinya,” kata Nurjanah.

Anak yang terkena penyakit campak dan rubella akan kekurangan zat gizi makro seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Selain zat gizi makro penelitian membuktikan bahwa campak dan rubella memiliki hubungan erat dengan kekurangan zat gizi mikro, yaitu vitamin A.

Pada anak yang menderita campak dan rubella namun tidak mengalami gizi buruk, diberikan kapsul vitamin A sebanyak 2 kali. Yaitu 1 kapsul pada hari pertama dan 1 kapsul pada hari kedua dengan dosis sesuai usia. Namun pada anak yang menderita gizi buruk dan/atau komplikasi pada mata diberikan sebanyak 3 kali, yaitu 1 kapsul pada hari pertama, 1 kapsul pada hari ke kedua, dan 1 kapsul pada hari ke lima belas dengan dosis yang sesuai usia.

Selain dengan pemberian kapsul vitamin A untuk mengatasi masalah gizi pada anak yang terkena campak dan rubella dapat dengan pemberian gizi seimbang dari makanan yang dikonsumsinya. Perbanyak makan buah dan sayur, karena buah dan sayur banyak megandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

Campak dan rubella juga dapat mengakibatkan komplikasi pada mata jika tidak ditangani dengan cepat, maka untuk mencegah terjadinya komplikasi tersebut dapat dengan konsumsi bahan makanan yang mengandung vitamin A, yaitu seperti wortel yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan mata. Karena wortel banyak mengadung vitamin A selain itu ada bahan makanan lain yaitu seperti pepaya, labu, jeruk, tomat dan lainnya.

“Serta utamakan gizi seimbang dan konsumsi makanan yang beragam,” pungkasnya. (Riz)