12 Anak di Kubu Raya Positif Rubella

Yakinkan Warga agar Mau Divaksin MR

75
Ilustrasi.NET

eQuator.co.idSungai Raya-RK. 12 anak di Kabupaten Kubu Raya positif rubella. Dinas Kesehatan Kubu Raya diminta gencar sosialisasi meyakinkan masyarakat agar anak-anaknya divaksin MR.

“Libatkan semua elemen melakukan sosialisasi supaya masyarakat mau anak-anaknya di vaksin MR. Agar virus rubella tidak menyebar di masyarakat,” kata Wakil Ketua Komisi I DPRD Kubu Raya, Jainal Abidin, Kamis (4/10).

Jainal berharap Pemkab mengundang semua tokoh agama, masyarakat dan kepala desa untuk membantu mensosialisasikan bahayanya penyakit rubella. Karena semua pihak harus turut andil dalam pencegahan rubella.

“Terkait pro dan kontra (imunisasi MR), Dinas Kesehatan harus memberikan pemahaman terhadap masyarakat, agar lebih yakin,” ujarnya.

Vaksinasi ini dalam rangka pencegahan. Jangan sampai menular. Ini sifatnya darurat, karena sampai saat ini belum ada vaksin lain untuk mengatasi rubella tersebut. “Makanya kita sikapi secara arif. Apalagi vaksin tersebut sudah ada Fatwa MUI,” ucap Jainal.

Senada disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kubu Raya, Suharso. Dia berharap, pemerintah harus benar-benar meyakinkan masyarakat supaya mau divaksin.

“Selama itu berdampak positif untuk pengobatan, harus dilakukan. Tapi kalau sisi lain, bersumber sesuatu yang haram, pihak terkait harus mencarikan solusinya,” paparnya.

Apa lagi di Kubu Raya sudah ditemukan 12 bocah positif rubella. Walau begitu, dia mengembalikan ke masing-masing individu.

Intinya masyarakat tidak usah dipaksakan untuk melakukan vaksin MR. “Tapi sosialisai harus dilakukan dan mengandengan semua pihak, terutama meyakinkan masyarakat,” harap Suharso.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan belum tercapainya 95 persen imunisasi MR. Pertama, adanya isu kejadian pasca-imunisasi yang menyebar di masyarakat. Kedua, keterlambatan Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII (Serum Intitute of India). Ketiga, jumlah sasaran MR di Kubu Raya yang merupakan terbesar di Kalbar.

Kemudian keempat, kondisi demografi penduduk dengan tradisi budaya lokal yang heterogen. Kelima, kondisi geografis Kubu Raya yang sangat luas terdiri atas wilayah perairan dan kepulauan dengan transportasi air yang mahal.

“Dengan banyaknya kendala dan hambatan tersebut, capaian imunisasi masih di bawah target nasional, maka waktu pelaksanaan imunisasi MR diperpanjang sampai 31 Oktober 2018 sesuai dengan surat Menteri Kesehatan,” terang Berli.

Dijelaskannya, beberapa hari lalu pihaknya sudah mengambil 50 sample yang tersebar di seluruh kecamatan Kubu Raya. Dari 50 sample yang diambil, 27 positif campak (measles) dan 12 rubella. “Sementara itu masih ada 227 sample lagi yang masih kita pending, karena pertimbangan waktu dan biayanya,” ujarnya.

Ia mengatakan penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) rubella memang berbeda dengan measles. Penetapan KLB untuk campak berdasarkan kenaikan jumlah kasus dalam kurun waktu yang sama diperiode sebelumnya. Atau ada yang meninggal. Satu saja meninggal sudah KLB.

“Kalau rubella ditemukan saja 1 sample sudah KLB, karena dampak rubella, akan mengakibatkan anak cacat bahkan meninggal,” ujarnya.

 

Laporan: Syamsul Arifin

Editor: Arman Hairiadi