Penuhi Perekonomian, agar Masyarakat Tak Rusak Hutan demi Makan

Media Visit International Animal Rescue Indonesia (bagian 3)

TARIAN ADAT. Iit (paling depan) memimpin tarian adat Dayak yang dinamai Bedansai Nganjan, sebuah prosesi akhir upacara untuk kebersamaan usai peresmian Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, 10 Juli 2019. Ocsya Ade CP-RK

Masyarakat Ketapang yang menggantungkan hidupnya dengan hutan, menaruh harapan besar akan adanya sumber perekonomian lain. Dengan demikian, mereka juga bisa melestarikan alamnya tanpa merusak demi mendapatkan uang. Harapan ini, ditaruh kepada International Animal Rescue (IAR) Indonesia.

Ocsya Ade CP, Ketapang

eQuator.co.id – Sejak 2008, IAR Indonesia terus tumbuh sebagai lembaga non-profit yang bergerak di bidang kesejahteraan, perlindungan, dan pelestarian satwa liar di Indonesia dengan berbasis pada upaya 3R dan 1M: Rescue, Rehabilitation, Release, dan Monitoring.

IAR Indonesia berkomitmen pada penyelamatan dan rehabilitasi dan perlindungan primata Indonesia seperti kukang, monyet, dan orangutan dengan menjalankan dua pusat rehabilitasi di Bogor, Jawa Barat dan Ketapang, Kalimantan Barat.

Untuk mendukung upaya tersebut, IAR Indonesia fokus pada dua hal, yakni perlindungan dan keterhubungan habitat di tingkat lanskap, serta mendorong penegakan hukum dari aktivitas perdagangan satwa ilegal melalui kerjasama dengan instansi pemerintah seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta unit-unit pelaksana di daerah, sektor swasta, Pemda, LSM, serta masyarakat lokal.

Hal ini juga senantiasa diiringi dengan penyadartahuan masyarakat dan pemberdayaan komunitas lokal. Rabu, 10 Juli 2019 lalu, Pusat Pendidikan dan Pembelajaran Sir Michael Uren  diresmikan.

Letaknya di kawasan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Jalan Ketapang-Tanjungpura, KM 1,3, Desa Sei Awan Kiri, Dusun Pematang Merbau, Desa Sungai Awan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

Adanya learning centre ini, untuk terus meningkatkan edukasi dan penyadartahuan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup bagi masyarakat.

Iit, generasi muda suku Dayak setempat berharap, dengan adanya learning centre ini, terutama bisa menyampaikan bahwa budaya lokal juga ada yang konservasi.

“Jadi, harapan besar kami dengan keberadaan IAR maupun learning centre ini adalah, bagaimana menyampaikan konservasi melalui budaya. Karena kita tahu kearifan lokal itu tidak jauh dari alam dan mereka juga tidak merusak alam,” ujarnya.

IAR, kata pemuda yang aktif di Dewan Adat Dayak (DAD) Ketapang ini mengatakan, juga mempunyai regulasi sendiri bagaimana alam itu tetap lestari dan budaya masyarakat terus berjalan. “Dan, masyarakat bisa makan juga,” ujar dia.

Secara ekonomi, sambung dia, keberadaan IAR ini memberikan dampak besar. Seperti perekrutan tenaga kerja yang berasal dari warga setempat. “Itu salah satunya. Kemudian ada beberapa program yang bersentuhan dengan masyarakat untuk memajukan perekonomian,” tutur dia.

Diharapkan, dengan ekonomi masyarakat terjamin, mereka juga bisa melestarikan alamnya tanpa menebang pohon segala macam untuk memenuhi kebutuhan perekonomian. “Tak perlu merusak alam demi mendapatkan uang,” tutup anggota salah satu komunitas sape’ ini.

Harapan Iit, ini tentu menjadi harapan bersama masyarakat setempat dan Pemerintah Kabupaten Ketapang, yang saat ini diketahui memberikan dukungan. (*/selesai)