‘Menghidupkan’ Kuburan

229
DISERAGAMKAN. Lokasi Pemakaman Kristen Oikumene, Yayasan Oikumene Kalbar, di Jalan Raya Kakap, Pal 13, Sungai Kakap, Kubu Raya. Sekarang mulai berbenah penataan dalam bentuk satu model, Kamis (23/2). Ambrosius Junius-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Kata “menyeramkan” untuk kawasan kuburan selama ini tidak selalu merujuk ke sebuah negeri dongeng tempat berkumpulnya mahluk astral seperti kuntilanak dan sejenisnya. Namun, citra pekuburan juga membuat bulu kuduk merinding ketika penampakannya tak elok dipandang.

Artinya, sudah lah tidak terawat —jadi hunian semak belukar—, pencahayaan muram, deretan makam kusam, jalan masuk ke kuburan hancur berlumpur. Jauh dari kesan-kesan indah maupun nyaman.

Kalau kondisinya demikian, jangankan kuburan, objek pariwisata paling potensial sekalipun pastinya tidak diminati. Pun masih mending pemakaman, karena bagaimanapun yang hidup masih memiliki ikatan emosional dengan yang mati. Ikatan itu satu alasan kuburan rutin dikunjungi, minimal pada momen-momen tertentu.

Di Kota Pontianak, terdapat tidak kurang 44, 56 hektar lahan, atau hanya sekitar 0,4133 persen dari total 13,52 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik, yang tersedia untuk pemakaman. Sisanya untuk taman kota, jalur hijau, lapangan olahraga, hutan kota, dan agrowisata atau KSA.

Penting tak penting, kawasan pekuburan memang harus dibenahi. Beres-beres lokasi-lokasi makam itu dicanangkan Pemerintah Kota Pontianak untuk dimulai pada 2018.

“Seperti dilihat di kota-kota lain, makam itu bukanlah kawasan menyeramkan, tapi juga taman bermain. Misalnya, kita melihat di San Diego Hill (Karawang, Jawa Barat), itu kan sudah bukan seperti makam lagi,” tutur Iskandar Zulkarnain, Kepala Bidang Pertamanan dan Pengembangan Manajemen Sistem Persampahan di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Pontianak, kepada Rakyat Kalbar, belum lama ini.

Kendati tidak seperti pemakaman mewah milik Grup Lippo yang jadi buruan masyarakat kelas atas dalam menyiapkan peristirahatan terakhirnya itu, sekurang-kurangnya areal pekuburan yang ada di tiap-tiap kecamatan Kota Pontianak akan ditata sedemikian rupa untuk memenuhi empat fungsi RTH.

“Dalam artian memenuhi fungsi resapan saat hujan, sebagai penghasil oksigen, fungsi interaksi publik, dan lainnya. Kita tata infrastrukturnya sedemikian rupa, jalan ke makamnya tidak lagi becek, bersemak. Ada koridor tanamannya, ada bangku duduknya. Rencana realisasinya di 2018,” papar Iskandar.

Penting, kata dia, untuk mengubah mindset pekuburan. Membuatnya tidak menyeramkan lagi kedepan, dimana fungsi sosial dan budaya sangat berperan. Dengan melengkapi sarana dan prasarananya, lanjut Iskandar, wilayah pemakaman bisa dimodifikasi menjadi tempat interaksi bahkan rekreasi yang nyaman.

Yang tak kalah penting pula, ia menyebut bagaimana kawasan pekuburan nantinya bisa mendatangkan nilai ekonomis, minimal bagi masyarakat setempat. Misalnya, selain menanam tanaman bunga dan pepohonan untuk merindangi lokasi, warga dapat menanam jenis tanaman yang biasanya digunakan untuk keperluan ritual ziarah, seperti daun pandan, mawar, dan lain sebagainya.

“Juga jasa perawatan makam, parkir. Apalagi kan kalau pas momen-momen tertentu seperti bulan puasa, pekuburan pasti ramai,” jelasnya.

Ia menyampaikan, bahwa dari 44, 56 hektar lahan pekuburan yang ada kini dikelola masyarakat. Pemerintah Kota Pontianak tidak memiliki lahan khusus untuk pekuburan, hanya memfasilitasi lahan-lahan agar maksimal dalam memenuhi empat fungsi RTH.

Secara umum, pemakaman dibagi dua. Khusus (TPK) dan umum (TPU). Yang khusus untuk suku Tionghoa 21 hektar, terbanyak di Batu Layang.

“Kemudian kalau yang non muslim itu di Komplek PSP Jalan Kartini. Kalau yang Muslim itu misalnya di Sungai Bangkong Jalan Daranante. Selebihnya TPU, seperti di Jalan Tabrani Ahmad dan sebagainya,” ungkap Iskandar.

Sebelum ini, penataan kawasan pekuburan juga pernah disinggung oleh Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Bahwa Pemerintah Kota telah memiliki konsep penataan khusus wilayah pekuburan. Sehingga nantinya seluruh wilayah pekuburan yang ada di Kota Pontianak ini akan indah dan nyaman untuk dikunjungi.

Dia mencontohkan kawasan Bansir. Ia berencana menyulap kawasan itu sehingga pada gilirannya nanti daerah Bansir memiliki ciri khas yang bisa diperkenalkan dan dapat menarik minat kunjungan wisatawan.

“Perlu diketahui, Bansir II merupakan wilayah yang paling banyak kuburannya. Ini menjadi kekuatan daerah ini untuk dikenalkan. Tentu mimpi kita ingin membuat kawasan ini kedepan menjadi indah,” tutur Edi, belum lama ini.

LETAK PEMAKAMAN

TAK LAGI DI KOTA

Memang, kelahiran dan kematian seseorang di dunia bagai roda yang berputar. Ketika dilahirkan membutuhkan rumah di atas tanah untuk tinggal, ketika napas habis pun membutuhkan tanah untuk peristirahatan terakhirnya. Hiruk pikuk perkotaan yang semakin padat menjadikan lahan lapang untuk pemakaman sulit dipantau netra.

Lembaga Pemakaman Umum Muslim (LPUM) Danau Sentarum, Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, didirikan sejak 1980-an. Memiliki lahan seluas empat hektar, sebanyak 3.108 jasad telah ditanam di tanah pekuburan tersebut.

Ketika dikunjungi Rakyat Kalbar, Minggu (19/2), ke 3.108 makam tampak padat berjejer. Bahkan ada nisan yang terletak di batas jalan.

Soenaryo (42), salah seorang pengurus yang telah mengabdi sejak lembaga berdiri menuturkan, saat ini lahan yang tersisa kurang lebih sehektar. Diperkirakan hanya mampu menampung 500 makam.

Lembaga berencana mencari lahan baru. Sayangnya, harga kavlingan tanah di Kota Pontianak kini semakin tinggi. “Dan daerah (tanah lapang) luas juga udah kurang, jadi kami coba ninjau di kubu raya,” ujarnya.

Karena kapasitasnya sudah sangat sempit itulah booking-membooking lahan tak lagi diperbolehkan. “Kami melarang jika ada yang mau pesan lahan jauh-jauh hari. Kalaupun ada, biasanya itu dengan penggali, kami tidak menerima,” beber Soenaryo.

Pesatnya pembangunan di Kota Pontianak mau tak mau membuat ketersediaan lahan pemakaman semakin minim. Meskipun, keberadaan peristirahatan terakhir itu, tentu saja, tetap merupakan kebutuhan. Hidup mesti dihargai, yang telah mati harus dihormati.

Yayasan Oikumene Kalbar jauh-jauh hari telah menyiasati lahan pekuburan yang semakin menipis tersebut. Letak pemakaman yang diampu yayasan itu tidak berada di Kota Pontianak. Melainkan di Jalan Raya Kakap, Pal 13, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Ketua Pengurus Pemakaman Kristen Oikumene, Yayasan Oikumene Kalbar, Bunyamin memaparkan, pihaknya memiliki lahan kurang lebih tiga hektar. Menurut dia, masih cukup untuk dua sampai tiga tahun lagi. Namun, kedepannya, pasti akan penuh.

“Yang namanya kematian itu kan kita tak tau kapan, yang jelas kita pasti membutuhkan lahan lagi nantinya,” ujarnya.

Pihaknya juga memperhitungkan pemesanan lahan oleh keluarga yang kerabatnya telah dimakamkan di sana. Dalam hal ini, kata Bunyamin, boleh saja.

“Misalnya suami di samping istri atau sebaliknya. Namun dibayar sekaligus lokasinya agar tak digunakan orang lain,” ucapnya.

Pemakaman tersebut, lanjut dia, mulai berbenah. Dia mengakui sebelumnya memang tidak ditata.

“Sekarang mulai kami rapikan, semua satu warna atau satu model,” ungkap Bunyamin.

Lanjut dia, memang beberapa masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke atas, yang ingin punya makam sesuai kreasi mereka. “Tapi yang berduit pun tidak bisa seenaknya begitu saja, yang dimakamkan di situ semua harus ikut aturan,” tegasnya.

Yayasan pemakaman yang bersekretariat di Jalan Daeng Abdul Hadi, No. 146 Pontianak (Sekretariat PGI Wilayah Kalbar) ini tidak hanya menertibkan tata letak pemakaman saja. Administrasi pun telah diatur.

“Sekarang kita sudah terdata, ketika akan mendaftar, saat itu lah kami catat,” terang Bunyamin.

Dalam hal kematian, yang berduka membutuhkan perhatian gereja dan pertolongan sesama saudara seimannya. Pelayanan dimulai dari penghiburan saat jenazah disemayamkan di rumah duka hingga dimakamkan.

“Ini kita kan pelayanan, memberikan yang terbaik kepada yang berduka maupun sudah meninggal,” ucapnya.

DIRIKAN RUMAH ABU

Yang juga telah menyiasati kekurangan lahan pemakaman adalah Yayasan Halim. Ketua Yayasan Halim, Willy Sugianto menyatakan bahwa selama ini yayasannya memanfaatkan pemakaman di Jalan Adisucipto, Kubu Raya. Pemakaman tersebut dipakai bersama untuk beberapa yayasan pemakaman etnis Tionghoa di Pontianak.

“Pengadaannya memang dari swadaya bersama kita sendiri,” jelasnya saat ditemui Rakyat Kalbar pada Rabu (22/2) pagi.

Kematian, dia menerangkan, memang salah satu tradisi penting dalam budaya masyarakat Tionghoa. Itu sebabnya, keberadaan yayasan kematian hal yang umum. Biasanya, para anggota yayasan sudah terdaftar terlebih dahulu. Beberapa yayasan beranggotakan satu marga seperti Yayasan Halim milik marga Lim. Namun ada pula yayasan merupakan gabungan dari beberapa marga.

“Jika yang meninggal itu usianya sampai 100 tahun misalnya, prosesi dukanya bisa sampai seminggu. Sebab, menunggu kehadiran keluarga atau kerabat yang datang dari jauh. Kalau kematian, biasanya kerabat akan tetap berusaha hadir walau dari luar negeri sekalipun, karena ingin memberi penghormatan terakhir,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa ketersediaan tanah di lahan Adisucipto untuk yayasannya masih mencukupi. “Setidaknya untuk 10-20 tahun lagi masih ada,” jelasnya.

Namun, untuk beberapa yayasan marga Tionghoa lainnya memang telah kehabisan lahan. “Beberapa akhirnya pindah ke pemakaman Siantan,” tambah Willy.

Selain itu, beberapa keluarga juga kini bisa memilih untuk melakukan kremasi atau pengabuan. “Kita ada pengabuan, yayasan-yayasan lain di Pontianak juga biasa melakukan pengabuan di sini,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah membangun Rumah Abu di beberapa tempat.

Pengabuan memang, selain untuk menghemat lahan,juga untuk menghemat biaya pemakaman yang terbilang tinggi. “Karena untuk kuburan memang dihitung luas lahan, jika mau lebar berarti harganya pasti lebih besar, jadi tiap orang beda-beda sesuai permintaan keluarga seperti apa,” terangnya.

Soal berapa biaya yang dikeluarkan, menurut Willy, beragam. Bergantung keinginan keluarga.

“Bisa sampai ratusan juta, bahkan miliaran, tapi itu relatif ya mungkin dari keluarga merasa orangtua sudah beri jauh lebih banyak, jadi itu sebagai ungkapan rasa terima kasih. Walau sebenarnya makam ya sama saja,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, jika ada wacana TPU terpadu akan sangat baik. Pihaknya bukan cuma menerima, bahkan menunggu pemerintah melakukan itu. Sebab, keberadaan yayasannya selama ini memang menjalankan misi sosial kemasyarakatan yang belum dijalankan sepenuhnya oleh pemerintah.

“Kita menyambut dengan tangan terbuka, cuma kita ingin tahu dimana lokasinya, biar sama-sama bisa dibicarakan karena terkait jarak dan sebagainya,” kata Willy.

Kalau bentuk makam akan diseragamkan pun, ia merasa tidak jadi soal. Apalagi jika diperindah agar tak kelihatan seram.

“Asalkan cukup masukkan petinya saja, kan itu yang penting,” tambahnya. Menurutnya, pemakaman itu sama saja maknanya. “Jadi keluarga bisa punya pilihan untuk memakamkan keluarganya,” tegas Willy.

 

Laporan: Fikri Akbar, Rizka Nanda, Ambrosius Junius, Iman Santosa

Editor: Mohamad iQbaL