Kisah Seorang Pensiunan Guru di Landak Menunjukkan Nasionalismenya

Memerah-putihkan Seisi Rumah adalah Cita-cita Markus Dodadu

44
MERAH PUTIH. Pensiunan guru di Landak mengecat seisi rumah dan pekarangannya menjadi merah putih, belum lama ini—FB Markus Dodadu
MERAH PUTIH. Pensiunan guru di Landak mengecat seisi rumah dan pekarangannya menjadi merah putih, belum lama ini—FB Markus Dodadu

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati tak hanya sekedar ucapan. Kecintaan terhadap NKRI bisa dilakukan dengan beragam cara. Selama itu tidak melanggar norma-norma. Seperti yang dilakukan Markus Dodadu.

Ocsya Ade CP, Antonius, Sengah Temila

eQuator.co.id – Landak-RK. Markus, Warga Dusun Lintah, Desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, dari tahun ke tahun memerah-putihkan seisi rumah serta pekarangannya. “Jiwa nasionalismenya sangat tinggi. Seorang pensiunan guru, seluruh bagian rumahnya dicat warna merah putih. Dari tahun ke tahun selalu merah putih,” tulis Zulham Suhanda di dinding facebook (FB) miliknya, yang dibuat pada 1 Agustus 2018, pukul 19.26 Wib.

Dalam postingan pria yang akrab disapa Wan ini, terdapat sejumlah foto rumah Markus yang serba merah putih. Mulai dari interior luar dan dalam rumah hingga pekarangan. Banyak yang tak menyangka bangunan serba merah putih ini adalah rumah tinggal.

“Oooo rumah orang rupanya. Kira saya dulu kantor atau PAUD. Sudah lama bertanya-tanya kalau lewat situ sebenarnya rumah kantor atau apa. Mantap jiwa nasionalis bapak itu. Salut,” tulis Regina Trinita Anka mengomentari postingan Si Wan.

“Ini namanya bapaknya anak bangsa. Sosok inspirasi. Cerminan dia kepada negara. Betapa mulianya karya dia yang tercipta dari sebuah hasil dan niat yang luar biasa. Sehingga kita bangga dan terharu melihat dia dan kecintaannya terhadap negara Indonesia. Sungguh luar biasa. Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT. Aamiin,” timpal Surya Hadyputra.

Baca Juga: Sebulan Penuh Kibarkan Bendera Merah Putih

Rumah merah putih itu terletak di pinggir jalan dari arah Sidas menuju Darit. Bahkan banyak yang menjadikan rumah ini sebagai patokan perjalanan.

“Sebelum tinggal di Landak, saya belum hafal jalan. Kalau sudah lewat rumah itu, berarti sudah dekat simpang Sidas,” tulis Ary Ucu. “Nah ini baru nasionalisme sejati. Bukan ikut-ikutan. Ini asli nggak cuma ngaku,” tulis Fei Azzy.

Sementara itu, Agus Ta’opan, seorang netizen yang berkomentar di postingan Wan, agaknya tahu persis mengenai Markus Dodadu. Agus menyebutkan bahwa Markus Dodadu berasal NTT.

“Pak Markus Dodadu mengabdi di Kalbar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di SDN Lintah, selama 30 tahun. Inilah bentuk kecintaan beliau terhadap NKRI ini. Jiwa patriotnya luar biasa. Patut diapresiasi,” ucapnya.

Seorang warga Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Frantinus mengakui mengetahui keberadaan rumah itu. Letaknya cukup jauh dari Ngabang, ibukota Landak. “Dari Ngabang ke rumah Pak Markus sekitar 50 kilometer. Akses jalan yang dilewati juga rusak,” katanya kepada Rakyat Kalbar, belum lama ini.

Ia mengaku pernah bertemu dengan Markus Dodadu saat rapat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Landak, tahun lalu. “Sekarang beliau sudah pensiun dari guru,” jelasnya. Markus juga dikatakan hidup seorang diri di rumah iti. “Kalau tidak salah, dia masih bujangan,” tuturnya.

Rakyat Kalbar kemudian mencoba mencari kontak Markus Dodadu melalui FB miliknya. Dihubungi melalui messenger FB-nya, Markus belum merespon. Namun, dilihat dari dinding FB-nya, Markus sudah memposting kegiatannya memerah-putihkan rumahnya sejak 21 Maret lalu.

Baca Juga: Banting Setir Jadi Pedagang Bendera dan Pernak-pernik 17 Agustus

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Markus ini berasal dari Pulau Sabu, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Saburai Jua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pria yang saat ini berusia 61 tahun itu, datang ke Kalbar pada saat berusia 20 tahun. Dia merantau tanpa sanak keluarga atau sahabat dari Pulau Sabu.

Di Landak, Markus mengajar di SDN 13 Lintah, Kecamatan Sengah Temila sejak pertama kali sekolah itu didirikan, tahun 1978. Masa mengajar berakhir pada awal 2017 lalu. Sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa, Markus sangat peduli dengan pendidikan dan infrastuktur sekolah. Dia membuat sendiri kursi untuk anak didiknya dengan bahan alat seadanya.

Pada Kamis (9/8), Rakyat Kalbar akhirnya bisa berkunjung ke rumah merah putih yang viral itu. Setibanya di lokasi, pagar merah putih rumah itu menyambut. Disusul dengan semua interior rumah yang juga merah putih, menyambut dan membuat kagum.

Markus mengakui, bahwa dirinya sangat cinta kepada tanah air Indonesia. Makanya, ia ingin memerah-putihkan rumahnya. “Saya bukan pejuang, inilah saya menunjukkan kepada masyarakat bahwa saya cinta kepada bangsa dan negara Indonesia,” ucapnya.

Dijelaskannya, sejak masih aktif mengajar murid SD, dia selalu mengajarkan tentang cara bersyukur kepada bangsa dan negara Indonesia. Terutama pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang dulu pernah diajarkan di sekolah.

Baca Juga: Perlombaan di Parit Meriahkan HUT ke-71 RI

“Pelajaran yang mengajarkan kecintaan terhadap tanah air harus dipelajari lagi di sekolah. Karena pendidikan moral itu sangat penting. Apalagi pelajaran sejarah bangsa Indonesia ini. Inilah yang saya terapkan,” ucapnya.

Menurutnya, lambang-lambang negara sangat penting dipelajari dan diketahui oleh anak-anak bangsa. “Waktu saya masih menjadi guru, semua dinding sekolah dan kursi dicat warna merah putih. Maka, sejak tidak lagi mengajar, saya cat rumah saya menjadi merah putih,” katanya.

Markus membenarkan bahwa dia berasal dari NTT dan menjadi mulai mengajar pada tahun 1978 sampai dengan 2017 di SDN 13 Lintah. Dia hidup sendiri. Belum mempunyai istri dan anak.
“Saya sebelum pensiun tinggal di rumah dinas sekolah. Setelah setahun ini pensiun saya tinggal di rumah pribadi. Maka baru bisa tercapai cita-cita saya untuk mewarnai rumah dengan cat merah putih itu,” tuturnya.

Markus mengakui, semua ide dan yang mengerjakan bentuk rumah serta memberi warna ini, dikerjakannya sendiri. Tidak memakai jasa orang lain untuk mengecat.
“Karena saya takut salah, nanti tidak sesuai yang saya mau,” ucap Markus.

Dia juga tidak memikirkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengecat rumahnya. “Setelah jadi begini saya puas, saya menunjukkan bahwa saya cinta Indonesia. Apa yang ada dalam diri saya untuk Indonesia,” tutup Markus.

Editor: Mohamad iQbaL