Banting Setir Jadi Pedagang Bendera dan Pernak-pernik 17 Agustus

Meraup Keuntungan Momen Kemerdekaan

12
JAGA DAGANGAN. Hanafi sedang menjaga dagangan bendera dan pernak-pernik 17 Agustus di Jalan H. Rais A. Rahman, Jumat (3/8). Suci Nurdini Setiowati-RK

eQuator.co.id – Pontianak-RK. Hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 sekitar  dua minggu lagi. Tapi semaraknya sudah mulai terasa.
Memanfaatkan momentum, pedagang bendera merah putih dan pernak-pernik 17 Agustus sudah banyak bertebaran. Mulai berjualan di pinggir jalan sampai ke pasar-pasar. Salah seorang yang berjualan bendera di pinggir jalan, Hanafi. Tepatnya sekitar perempatan Jalan H. Rais Arahman – Jalan Pancasila. “Saya tiap tahun jualan bendera,” ujarnya kepada Rakyat Kalbar, Jumat (3/8).

Tahun ini merupakan yang keenam kalinya. Kadang pria yang sehari-hari sebagai driver ojek sepeda motor online ini menjajakan dagangan orang. Kadang juga dagangan sendiri. “Barangnya dari Garut,”
Harga bendera yang dijual relatif murah. Mulai Rp8 ribu sampai Rp80 ribu. Tergantung ukuran bendera.
Warga Kota Pontianak yang tinggal di Jalan KH Wahid Hasyim ini berjualan berpindah-pindah. Kadang di Asrama Haji Pontianak

dan Jalan Pancasila. Termasuk di Sungai Jawi, tepatnya di Jalan H. Rais Arahman. “Kalau di sini Sungai Jawi tidak bisa jualan sampai malam. Hanya dari pagi sampai sore. Karan ada orang jualan,” ucap Hanafi.

Jadi pedagang musiman bendera dan pernak-pernik 17 Agustus juga dilakoni Iman. Warga asal Garut ini menggelar dagangannya di Jalan Sutan Abdurahman. Lelaki yang hari-harinya dagang siomay berjualan dari pagi hingga petang.

Baca Juga: Alasan Sekolah Tunas Bangsa Tak Upacara 17 Agustus

Diakuinya, penjualan tahun ini lumayan laris. Namun masih kalah jauh dengan penjualan tahun lalu. “Tahun kemarin itu lumayan rame. Sekarang mah seret. Saya jualan dari Juli, tapi kemarin seminggu sikit banget, kosong,” keluh saat menjawab Rakyat Kalbar, Jumat (3/8).
Lelaki 46 tahun ini mulai berjualan sejak 17 Juli. Tak berjualan lagi rencananya 16 Agustus.

Iman menjual berbagai macam bentuk serta ukuran
bendera dan pernak pernik 17 Agustus. Mulai dari yang besar hingga kecil. “Di sini ada bendera, umbul-umbul, bandir, baground, bendera plastik, bendera untuk mobil dan motor,” jelas Iman.

Iman saat ini sudah menetap di Kota Pontianak sejak tahun 2003. Ia menginjakkan kakinya di Bumi Khatulistiwa berawal dari berjualan bendera. Sehingga ia sudah bisa memprediksi kapan ramainya pembeli. Ia acap kali mengetahuinya dari para pembeli yang mengatakan dapat surat edaran pemerintah.
“Biasanya sudah ramai itu kalau tahun lalu dari akhir Juli. Karena
dimulai tanggal 1. Kalau ini mulai tanggal 8, jadi biasanya nanti
ramai sekitar tanggal 5 an ke atas gitu sampai belasan,” terangnya.

Tak tanggung-tanggung dalam sehari, Iman bisa meraup omzet kotor sebesar Rp2 juta. “Ya lumayan lah. Saya stok paling 25 kodi. Sekitar 500 buah aja,” ujar Iman.
Sementara itu, salah seorang pembeli, Rahmat membeli umbul-umbul untuk menyemarakan HUT RI.“Saya tinggal di Jalan Ujung Pandang Gang Cipaganti. Ya biar meriah, ramai, beli umbul-umbul gitu. Terus biasalah di gang nanti ada panjat pinang, permainan anak-anak juga,” kata Rahmat.

Setali tiga uang, Maulidi ditugaskan kantornya untuk membeli bendera. Bendera itu nantinya akan dipasang di Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya, sekolah dan beberapa
kantor.

“Untuk sekolah dan Desa Terentang Hulu Kecamatan Terentang. Terus di Jalan-jalan menuju kantor desa titik dekat kantor. Ya sekitar 50 meter titik yang mendekati kantor gitu. Biar meriah,” terangnya.

Pria 36 tahun ini mengatakan, inisiatif masyarakat yang membuat kemerdekaan itu semakin semarak. “Masa kite ulang tahun jak kite rayakan. Negara ulang tahun tadak dirayakan,” lugasnya.

Apalagi di pedesaan kata dia, semangat nasionalisme masyarakatnya tinggi. “Kemerdekaan ini kayak jadi tempat ngumpul gitu,” tutupnya. (uci)