Ketika Buaya “Bertamu” ke Rumah Warga

107
SERASA DI PANTAI. Dokumentasi buaya yang naik ke rumah Sedek di Jalan Boyan, Desa Sejegi, Mempawah Timur, Jumat (22/12). Buaya berukuran sekitar tiga meter itu terlihat sedang berjemur. Serasa di pantai. Repro video warga Boyan

eQuator.co.idMEMPAWAH-RK. Dari sejumlah literatur, buaya memang harus berjemur untuk mengatur suhu badannya agar tetap stabil dan bisa beradaptasi dengan temperatur sekitarnya.  Tapi, kadang-kadang tempat dia berjemur bisa bikin jantungan. Di halaman belakang rumah Anda, misalnya.

Seperti yang dialami Sedek, seorang warga Jl. Boyan, Desa Sejegi, Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah. Jumat siang (22/12), rumah pria 64 tahun itu dinaiki hewan melata tersebut. Kediaman Sedek memang bersinggungan langsung dengan aliran Sungai Mempawah.

“Awalnya saya tak mengetahui, karena waktu ia naik (ke belakang rumah,red) pada waktu salat jumat,” ungkapnya kepada Rakyat Kalbar.

Sedek menyebut panjang buaya itu sekitar 3 meter. Ketika ditemukan, telah menaiki selasar teras belakang rumahnya. Bahkan, hampir masuk dapurnya.

“Selama ini buaya-buaya di sungai tak pernah naik rumah, mungkin ini karena air pasang laut, makanya buaya tersebut naik ke atas,” tutur dia.

Ia menyatakan sering melihat buaya-buaya di aliran sungai tersebut. Namun tidak pernah menghampiri rumah warga yang berada di tepi sungai.

“Di sini tak jauh dari lubuk buaya, nama tempat, daerah habitatnya,” ucap Sedek.

Atas peristiwa tersebut, ia khawatir buaya-buaya akan kembali mendatangi rumah warga. Di seputaran tepi sungai itu banyak anak-anak yang hilir mudik bermain.

“Rata-rata kita warga mandi ke sungai, sekarang kita tidak berani mandi di sungai dengan berenang, tapi menggunakan gayung saja,” jelasnya.

Warga lainnya, Hajani, yang mendengar timbulnya buaya sontak mendatangi rumah Sedek. Bersama sejumlah penduduk setempat. Ia mengiyakan bahwa buaya-buaya sangat jarang menaiki rumah warga. Hanya sesekali, kata dia, bermain di kolong rumah warga yang berada di pinggiran sungai.

“Kita khawatir buaya tersebut masuk ke rumah, karena kalau air pasang, di rumah bisa masuk air bahkan pernah sampai 50 cm alias selutut orang dewasa,” ungkap pria 37 tahun itu.

Ia menambahkan, buaya di lingkungan tersebut sering memangsa ternak warga, seperti bebek yang kerap dilepas di dekat sungai. “Di daerah sini, mereka sering menimbulkan diri, yang tadi itu hampir 3 meter, perutnya gemuk, dan itu mungkin induknya,” pungkas Hajani.

Dihubungi terpisah, seorang pawang buaya Mempawah, Pendi menyebut, setiap air pasang laut, memang buaya kerap berkeliaran. Keluar dari habitatnya.

“Bulan 12 sekarang kalau air kembang laut memang buaya berkeluaran dari sarangnya, itu sudah biasa kalau musim ini,” ujarnya. Imbuh Pendi, “Insya Allah, tidak akan memangsa warga, mereka hanya keluar karena air pasang saja”.

Saat disinggung mengenai terganggunya habitat buaya, ia membantah. Sebab, habitat buaya yang ada di Mempawah masih terjaga dengan asri.

“Kalau mau melihat buaya sering muncul, coba silakan main-main ke Kampung Tengah, di sana sering buaya bermain,” pungkasnya.

 

Laporan: Ari Sandy

Editor: Mohamad iQbaL