Kalbar Endemik DBD

Waspadai Siklus Lima Tahunan

ilustrasi - net

eQuator.co.id – PONTIANAK-RK. Setiap tahun beberapa wilayah Kalbar langganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama saat memasuki musim penghujan. Namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar justru mengkhawatirkan siklus DBD lima tahunan.

Kalbar merupakan salah satu provinsi endemik penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti ini. Terutama daerah-daerah yang setiap tahunnya selalu tercatat memiliki laporan kasus tinggi. Apalagi saat ini mulai ada peningkatan-peningkatan kasus DBD, terutama di Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak dan Kabupaten Ketapang.

“DBD ini memang Kalbar adalah salah satu daerah endemik. Jadi beberapa kabupaten itu endemik,” ujar Kepala Dinkes Kalbar Andy Jap ditemui usai menghadiri pelantikan Pejabat Fungsional Pemprov Kalbar di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, kemarin.

Dijelaskannya, DBD ada siklus lima tahunan. Setiap lima tahun, angka laporan meningkat terus. Fakta ini bisa dilacak dari data beberapa tahun sebelumnya. Misalnya, data tahun 2009 dan 2013, laporan kasusnya meningkat. “Jika siklus ini berjalan, siklus yang sama akan terulang pada tahun 2018 atau 2019,” jelasnya.

Kendati begitu, pihaknya sudah mengantisipasi peningkatan itu. Selain itu, pihaknya terus memberikan imbauan kepada masyarakat. Karena DBD penularan melalui nyamuk, maka pencegahan satu-satunya berantas sarangnya. “Yang sakit secepatnya dibawa ke Puskesmas untuk ditangani,” pesannya.

Cara memberantas DBD kata Andy adalah melalui abate. Bubuk ini dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

“Bagi masyarakat yang membutuhkan abate bisa meminta secara langsung kepada Puskesmas terdekat ataupun ke pihak Dinas Kesehatan,” ungkapnya.

Pihaknya aktif mengajak masyarakat untuk memerangi nyamuk, karena ini adalah kunci memerangi DBD. Pada upaya pencegahan yakni memerangi jentik-jentik nyamuk. “Kita pakai abate, fogging juga. Bukan sekedar fogging, tapi juga abatesasi dengan pembersihan tempat-tempat bersarangnya nyamuk,” sebutnya.

Nyamuk penyebab DBD tidak bisa hanya diberantas tenaga kesehatan. Semua masyarakat harus bergerak. Gantungan pakaian, kaleng-kaleng bekas dan penampungan air menjadi tempat yang ideal untuk jentik-jentik nyamuk berkembang biak.

Untuk fogging juga telah di siapkan. Namun untuk fogging ini konsepnya tidak langsung dilakukan penyemprotan. Karena harus menunggu ada kasus dulu, baru dilakukan fogging.

“Jadi fogging itu efektif kalau sudah ada kasus, berarti radius 100 meter harus disemprot, supaya nyamuk langsung mati sehingga tidak bisa menular,” tuturnya.

Kalau tidak ada kasus, fogging kurang efektif. Tapi yang efektif abatesasi untuk bunuh jentik-jentik. “Ngapain fogging, wong belum ada kasus, belum ada yang ditularkan,” pungkasnya.

Dijelaskan dia, DBD sebenarnya tidak mematikan. Asal cepat ditangani. Kadang masyarakat terlambat membawa ke puskesmas. “Sehingga harapan kita masyarakat kalau ada demam tiga hari tak turun-turun cepat berobat ke puskesmas,” imbuh Andy.

 

Laporan: Rizka Nanda

Editor: Arman Hairiadi

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!